Cinta Setelah Perjodohan

Cinta Setelah Perjodohan
Bagian 144 : Menangis


__ADS_3

Beruntung pandangan Andika tidak pernah lepas dari istrinya itu, saat melihat Alea pergi, Andika buru-buru beranjak dari tempat duduknya untuk mengikuti Alea.


###


Alea ternyata berjalan ke halaman belakang rumah, perempuan itu duduk di pinggir kolam ikan milik pak Putra. Dulunya tempat itu selalu menjadi tempat favorit Alea dengan papanya untuk menghabiskan waktu bersama sambil sembunyi-sembunyi menikmati ice cream.


Pandangan Alea masih tetap kosong memperhatikan ikan-ikan yang ada di dalam kolam tersebut.


Sementara Andika hanya bisa memperhatikan istrinya itu dari jarak aman, ia tahu Alea sepertinya butuh waktu untuk sendiri.


###


Proses pemakaman berlangsung dengan lancar, malam harinya di adakan pengajian untuk mendoakan kepergian pak Putra agar ia bisa beristirahat dengan tenang.


Sebagian besar keluarga terdekat juga sudah pulang, hanya ada bu Dewi, Aulia, suami dan anak-anaknya di ruangan keluarga tersebut sementara kerabat yang masih tinggal di rumah itu berada di ruangan lain.


Aulia dan suaminya mencoba untuk menenangkan bu Dewi yang tiada henti-hentinya meracau memanggil nama suaminya, Aulia hanya bisa membantu memegangi tubuh bu Dewi yang sesekali mengamuk, akan tetapi ada yang kurang dari keluarga itu, Alea? Dimana dia?.

__ADS_1


Langir diluar sudah tampak gelap, sepertinya perempuan itu masih setia berada di halaman belakang.


Andika kemudian buru-buru melihat keadaan istrinya itu. Dan benar saja Alea masih berada disana, memberi makan ikan-ikan di dalam kolam.


"Alea... "Panggil Andika sembari berjalan mendekati tubuh istrinya itu.


Alea tidak bergeming.


"Alea? Kamu lagi ngapain? Diluar dingin loh ayo kita masuk ke dalam rumah. " Ujar Andika lagi.


Tidak ada jawaban, perempuan itu tetap tidak menggubris pertanyaan Andika.


Benar saja, Alea menghentikan aktivitasnya memberi makan ikan-ikan itu. Alea menutup matanya raoat-rapat merasakan pelukan hangat Andika di tuubuhnya.


"Kalau kamu mau nangis nggak apa-apa kok, nangis aja aku nggak bakalan bilang ke siapa-siapa dan bakalan bantu kamu sembunyi biar nggak di liat saman orang lain. " Ujar Andika lembut.


Mendengar hal itu Alea tidak dapat lagi membendung air matanya, ia menangis sejadi-jadinya namun suara tangisnya tetap tidak terdengar. Andika bisa maklum jika Alea tetap tidak ingin ada orang lain yang menyadari jika dirinya lemah.

__ADS_1


"Its ok, nangis aja kalau emang kamu butuh itu, aku bakalan pura-pura nggak liat dan nggak dengar kalau kamu lagi nangis. " Ujar Andika lagi.


"Dika, papa kemarin masih jalan bareng sama aku, kita masih sempat makan ice cream dan makan jagung bakar sebelum aku nganterin dia pulang ke rumah, kami cerita ngalor ngidul tentang banyak hal dan oaoa kekuatan baik-baik aja Dik, tapi kenapa...." Alea tidak sanggup melanjutkan ucapannya.


Andika tidak mencela apalagi berniat ingin memotong ucapan Alea dengan sabar laki-laki itu menunggu Alea melanjutkan ucapannya.


"Ini kayak mimpi buat aku Dika, aku ngerasa baru aja tertidur semalam dan tiba-tiba dapat kabar kalau papaku udah nggak ada padahal kami baru aja ngabisin waktu bersama, papa bilang dia bakalan jadi orang pertama yang nanti bakalan gendong anak aku Dika, tapi kenapa dia pergi? Kenapa dia ninggalin aku? Aku nggak bisa hidup tanpa papaku Dika, aku harus gimana. " Pekik Alea mulai histeris mencurahkan seluruh perasaannya saat ini pada Andika.


"Its oke Alea, nggak apa-apa ada aku, aku yang bakalan gantiin peran papa di hidup kamu... " Balas Andika memeluk erat tubuh Alea yang mulai menangis tersedu-sedu.


Tanpa sadar Andika ikut mengeluarkan air matanya, baru kali ini ia melihat istrinya yang keras kepala itu menangis dan benar-benar terpuruk seperti ini.


"Aku harus gimana Dika.... Hiks... Papa... " Pekik Alea.


"Sssstttt, ada aku Alea, ada aku disini. " Balas Andika pelan, berusaha memperlakukan Alea selembut mungkin.


Diam-diam Andika berjanji akan selalu ada untuk perempuan yang sudah berhasil merebut hatinya itu.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2