
Alea kemudian di berikan celemek dan mulai membantu mertuanya, keduanya nampak sangat gembira. Layaknya ibu dan anak kandung sendiri.
###
Baru kali ini Alea merasakan rasanya membuat masakan bersama seseorang yang di panggilnua sebagai ibu, meskipun ibu tersebut hanyalah mertuanya dan bukan ibu kandungnya sendiri, akan tetapi tetap saja hal tersebut tidak membuat kebahagiaan Alea luntur.
Bu Widia adalah juru masak yang handal, meskipun kesehariannya hanya berada di dalam rumah dan hanya sesekali pergi keluar hanya untuk menghadiri arisan bersama teman-teman sosialitanya, Namun Alea mengakui mama mertuanya tersebut sangat pandai mengola bahan masakan menjadi sebuah makanan yang enak.
Tidak seperti mamanya, Bu Dewi lebih banyak menyerahkan urusan masak memasak pada pelayan di rumahnya, meskipun sesekali membuat masakannya sendiri namun bu Dewi tidak pernah membiarkan Alea untuk turut membantunya.
Ujung-ujungnya mereka pasti akan berdebat. Dapur bagi Alea dan bu Dewi bukanlah tempat untuk memasak melainkan arena tempur bagi keduanya, selalu saja ada perberbedaan pendapat jika mereka melakukan sesuatu di tempat yang sama.
"Yeay... Selesai kue brownies pertama buatanku hihihi... " Pekik Alea kegirangan.
Bu Widia nampak ikut senang menyaksikan menantunya yang terlihat sangat bahagia itu setelah berhasil membuat masakan pertamanya. Meskipun hanya sebuah kue Brownies.
"Wah mama jamin pasti rasanya enak, Andika juga pasti bakalan suka, hebat kamu Alea, mama cuman ngajarin sekali doang kamu udah langsung bisa aja. " Puji bu Widia yang seketika membuat pipi Alea merona merah.
"hehehe, Makasih pujiannya ma, Alea senang banget akhirnya pertama kali selama Alea hidup bisa ngerasain bikin masakan sendiri. " Balas Alea.
Bu Widia kemudian mencicipi brownies tersebut, untuk sesaat kemudian perempuan setengah baya itu mengacungkan dua jempolnya.
"Enak Alea, rasanya pas dan mantap!. "
Alea dengan bangga kembali menyunggingkan senyumnya.
__ADS_1
"Gimana kalau kamu anterin kue ini buat Andika ke tempat kerjanya? Pasti Andika juga bakalan senang Alea. " Saran bu widia kemudian.
Alea yang mendengar saran itupun awalnya ingin menolak, akan tetapi hal itu sepertinya tidak mungkin terjadi. Mertuanya sudah memperlakukannya dengan sangat baik, untuk sekedar membawakan kue pada Andika bukanlah hal yang sulit akan tetapi Alea hanya merasa malas harus mengantarkan kue tersebut pada Andika yang selalu membuatnya kesal itu.
"Hehehe iya ma nanti Alea bawain. " Ujar Alea, pasrah meski di dalam hatinya perempuan itu merengut kesal.
"Ya udah biar mama yang packingin, kamu ganti baju aja dulu. "
Alea kembali mengangguk pasrah mengikuti keinginan ibu mertuanya tersebut.
###
Kantor Andika.
Seorang laki-laki nampak menyandarkan tubuhnya pada bangunan di belakangnya, laki-laki itu saat ini sedang berada di atas atap gedung yang memamerkan keindahan langit biru yang cerah.
"Ada apa Dika? Kok kamu kayak orang yang lagi pusing banget gitu, lagi mikirin apaan sih. " Seorang perempuan tiba-tiba saja datang dan menghampiri laki-laki yang ternyata adalah Andika.
"Nggak apa-apa, cuma mau cari angin aja. " Balas Andika, melirik sebentar ke arah perempuan yang sedang mengajaknya berbicara, Aluna.
Mereka berdua hari ini kembali mengadakan rapat, namun ada sedikit masalah dengan investor yang akan berinvestasi pada proyek mereka, hal itulah yang membuat Andika merasa sedikit sesak dan butuh udara segar.
Aluna kemudian ikut berdiri di samping Andika lalu menyandarkan tubuhnya pada bangunan yang sama.
Lama mereka berdua terdiam sambil menatap ke arah langit yang sama.
__ADS_1
"Aku dengar kamu sama Alea menikah karena di jodohkan?. " Tanya Aluna.
Andika kemudian mengangguk.
"Hmm iya. "
"Jadi beneran kata orang kalau kamu menikah bukan keran ada perasaan cinta sama sekali? Terus gimana sama perasaan kamu sendiri? apa kamu bisa bertahan sama orang yang nggak kamu cintai itu?. " Tanya Aluna lagi, kali ini perempuan itu seolah mencecar Andika.
Andika kembali terdiam untuk sesaat, memikirkan kalimat yang pas untuk di utarakan.
"Untuk kebahagian keluarga, nggak ada yang salah. " Balas Andika kemudian.
Aluna nampak tidak suka mendengar jawaban Andika.
"Untuk kebahagiaan keluarga? Lalu kamu sendiri gimana, apa kamu ngerasain bahagia dengan pernikahan kamu itu? seharusnya kebahagiaan keluargamu adalah ngeliat kamu bahagia dengan orang yang kamu cintai Dika bukan dengan pilihan orang tuamu. " Oceh Aluna panjang lebar.
"Orang yang aku cintai?. " Gumam Andika, mengerntitkan alisnya.
Andika memalingkan wajahnya ke arah lain, memikirkan posisinya saat orang tua Andika memintanya untuk menikahi Alea.
Waktu itu Andika sama sekali tidak mencintai siapapun, hatinya sedang kosong dan Andika tidak punya pilihan lain selain mengikuti permintaan mamanya.
Andika sadar betul, orang tuanya pasti akan mendukung siapapun perempuan yang akan Andika nikahi saat itu, akan tetapi karena Andika tidak memiliki hubungan spesial dengan perempuan mana pun, jadi Andika memutuskan untuk menyerahkan semuanya pada mamanya, untuk mencarikannya istri yang terbaik.
"Andika.... " Panggil Aluna.
__ADS_1
Pandangan Andika seketika menatap wajah Aluna, perempuan yang dahulu sempat di kaguminya itu.
Bersambung...