Cinta Setelah Perjodohan

Cinta Setelah Perjodohan
Bagian 133 : Sebuah Permintaan


__ADS_3

Flash back off


###


"Kenapa senyum-senyum gitu? Kesambet kamu?. " Tegur Alea yang membuat lamunan Andika seketika buyar.


"Nggak apa-apa, aku cuman nginget sesuatu. " Balas Andika, masih dengan senyuman yang tersinggung di bibirnya.


Alea mengangkat kedua bahunya, tidak peduli.


Selesai menata rambut Alea keduanya kini berdiri di depan cermin dan memperhatikan wajah mereka masing-masing.


"Alea... " Panggil Andika, pelan.


"Hmmm kenapa?. "


"Kamu yakin nggak ingat pernah main bareng sama aku pas kita masih kecil dulu?. "


Ales menggeleng-gelengkan kepalanya, raut wajahnya terlihat sangat menggemaskan di mata Andika.


"Nggak ingat dan emang nggak pernah Dika. "


"Kalau ternyata kita pernah temenan pas kecil gimana?. " Tanya Andika lagi.


"Akukan udah pernah bilang, aku sujud di kaki kamu. " Timpal Alea.


Andika tersenyum jahil.


"Beneran?. "

__ADS_1


Alea yang mendengar itu menatap kesal pada Andika.


"Tuh kan baru juga minta maaf 1 jam yang lalu, sekarang mulai lagi bikin aku kesel gimana nggak berantem terus, kamunya ngeselin kayak gini. " Alea mulai merajuk, membuat Andika semakin gemas ingin mencubit pipi istrinya itu, namun Andika hanya memeluknya dari belakang.


"Ih apaan sih, nggak usah sok romantis deh. " Cibir Alea mencoba melepaskan tangan Andika yang memeluknya, akan tetapi tenaga Andika lebih besar dari pada perempuan itu sehingga Alea hanya pasrah saat Andika mulai mengecup ujung kepalanya.


Diam-diam Alea menikmati moment tersebut dan berharap momentnya tidak akan segera berakhir.


"Kalau bisa selamanya seperti ini, Tuhan... " Batin Alea.


"Alea... " Panggil Andika lagi.


"Hmmm."


"Kalau ternyata aku berhasil buktiin kalau kita emang beneran pernah temenan dari kecil gimana?. " Tanya Andika lagi.


"Akukan udah bilang aku sujud sekalian sungkem di kakimu. "


"Nggak, aku nggak mau kamu sujud ataupun sungkem di kakiku. " Ujar Andika kemudian, laki-laki itu terlihat memikirkan sesuatu di dalam kepalanya.


Alea berusaha tetap tenang agar moment kebersamaannua bersama Andika tidak cepat berlalu.


"Terus kamu maunya aku mesti gimana? Kayang? Manjat pohon kayak monyet? Atau berubah warna kayak bunglon?. " Cecar Alea.


"Aku mau permintaan aku di kabulin. " Ujar Andika, menatap lurus pada wajah Alea di dalam cermin.


Alea mengernyitkan kedua alisnya.


"Permintaan apa emangnya?. "

__ADS_1


Andika melepaskan pelukannya lalu duduk di samping Alea. Terlihat raut wajah Alea nampak kecewa karena Andika tidak lagi mendekao tubuhnya.


"Ada deh, nanti juga kamu pasti tau, aku mau cari dulu bukti kenangan kita waktu masih kecil dan sekarang aku mau mastiin kamu harus nepatin janji buat ngabulin permintaanku setelah aku berhasil nemuin poto kenangan kita, aku yakin mama kamu atau mamaku pasti masih ada yang nyimpen poto-poto kita pas kecil. " Oceh Andika.


Alea yang nampak tidak peduli dan merasa Andika hanya mencoba menjahilinya dengan cepat menyepakati perjanjian tersebut.


"Oke, tapi aku harus kasih batas waktu ke kamu, kalau batas waktunya berakhir dan kamu terlambat atapun nggak dapatin poto-poto kenangan kita pas kecil yang kamu omongin itu, artinya kamu yang harus ngabulin permintaan aku. " Ujar Alea melakukan negosisasi pada suaminya.


"Kamu emangnya mau minta apa dari aku?. " Kini gantian Andika yang nampak penasaran dengan permintaan istrinya itu.


Alea nampak berpikir sebentar.


"Hmm aku mau di beliin rumah yang nggak terlalu besar di dekat pantai yang pemandangannya sejauh mata memandang ada banyak pohon dan tumbuhan hijau. " Ujar Alea, membayangkan rumah impiannya.


Andika nampak bingung dan heran.


"Rumah untuk apa? Toh rumah kita nantinya bisa lebih besar dari rumah orang tuaku ini. "


Alea menatap gemas pada wajah Andika yang meremehkan rumah impian Alea.


"Kalau kita bercerai nanti, aku ingin tinggal di rumah seperti itu, rumah yang tenang dan jauh dari hiruk pikuk kota yang menyebalkan ini. " Gumam Alea yang membuat perasaan Andika sontak mencelos.


"Bercerai?. " Batin Andika. Jauh di dalam lubihbhati laki-laki itu, ia menginginkan pernikahannya dengan Alea akan awet meskipun pada awalnya memang Andika lah yang membuat perjanjian jika pernikahan mereka berdua hanya akan berlangsung selama beberapa tahun.


"Andika? Kenapa melamun lagi? Gimana Deal nggak nih?. " Tegur Alea membutarkan lamunan Andika.


Laki-laki itu memaksa bibirnya untuk tersenyum padahal di dalam hatinya, Ia menangis.


"Ok deal. " Ujar Andika kemudian menjulurkan tangannya pada Alea.

__ADS_1


"Deal."


Bersambung...


__ADS_2