
Gengsinya terlalu besar jika harus menangis di depan laki-laki brengsek seperti Andika.
###
Setelah cukup lama terdiam. Andika kembali memulai pembicaraan kali ini suaranya terdengar melemah dan sedikit lebih lembut.
Sepertinya laki-laki itu baru saja menyadari kesalahannya yang bisa saja berakibat fatal.
"Maaf Alea, aku keterlaluan. " Ujar Andika.
"Maaf? Sayang sekali kamu berurusan dengan orang yang salah, aku sama sekali bukan orang yang gampang memaafkan orang lain, apalagi melupakan kesalahannya dengan mudah, aku adalah orang yang sangat pendendam. " Balas Alea, berbohong.
Alea sebenarnya bukanlah orang yang pendendam, bahkan jika dirinya di katai perempuan murahan di depan wajahnyapun Alea bisa saja langsung lupa satu menit kemudian.
Akan tetapi karena saat ini situasinya berbeda, Alea tetap harus mempertahankan harga dirinya yang sudah di injak-injak oleh suaminya sendiri.
"Ya sudah kalau begitu aku bakalan masuk lagi ke dalam, Aluna pasti sudah terlalu lama menunggu, kamu mau pulangkan? Ya sudah pulang saja sana sendirian. " Tutur Andika dengan santainya laki-laki itu sama sekali tidak mau peduli dengan Alea.
Sebentar merasa bersalah, sedetik kemudian berubah lagi.
"Dasar laki-laki aneh, udah minta maaf masih nyoba manas-manassin aku, liat aja apa yang bakalan aku lakuin. " Batin Alea.
Rasa marah di dalam diri perempuan itu perlahan-lahan mulai mereda, ia bahkan sudah mulai memikirkan sebuah ide untuk mengelabui Andika.
Perasaan Alea saat ini bahkan sudah berubah 360 derajat dari sebelumnya, begitulah Alea tidak ada yang benar-benar memahami pola pikirnya bahkan keluarganya sekalipun.
__ADS_1
"Ya udah kalau gitu aku bakalan pulang sendiiri, siapa takut. " Ujar Alea percaya diri.
"Pulang aja jalan kaki sana! . " Balas laki-laki itu.
"OKE!. Sentak Alea.
Andika mengernyitkan wajahnya, seolah-olah menyadari ada tanda bahaya yang akan segera menghampirinya sebentar lagi.
Benar saja, Alea saat ini sedang tersenyum lebar menatap wajah Andika sembari melangkah perlahan mendekati laki-laki itu.
Bulu kuduk Andika seketika meremang bergidik ngeri, tidak biasanya Alea bersikap seperti itu.
"Apa-apaan, kenapa kamu tersenyum aneh seperti itu. " Sentak Andika, nada suaranya terdengar sedikit panik.
"Andika... " Panggil Alea pelan sembari mendekatkan wajahnya ke wajah Andika yang kini diam membatu bagaikan tersihir oleh tatapan Alea.
tanpa aba-aba terlebih dahulu Alea dengan sigap memeluk tubuh suaminya, tangannya dengan liar meraba-raba bagian belakang tubuh laki-laki itu, hingga dengan satu tarikan Alea bisa dengan mudah menarik dompet Andika dari dalam kantong celana belakangnya.
"Apa yang kamu lakukan.... "
"Sssttt jangan berisik Dika..... "
Alea dengan liciknya mencuri dompet Andika, bahkan tanpa Andika sadari dompetnya kini sudah berpindah tempat ke dalam tas selempang istrinya itu.
"Kenapa cuman diam? Katanya mau ciuman?. " Tantang Alea, tersenyum jahat mendekatkan wajahnya ke wajah Andika sekali lagi namun Andika justru memalingkan wajahnya ke arah lain.
__ADS_1
Sedetik kemudian Andika sontak memundurkan tubuhnya satu langkah. Seperti tidak menyangka Alea akan benar-benar senekat itu.
Padahal sebenarnya Andika hanya ingin menggertak dan mempermainkan Alea saja tadinya.
Alea akhirnya tersenyum puas penuh kemenangan, ia kemudian melepas pelukannya lalu menyetop sebuah taxi yang lewat sembari melambaikan tangannya kepada Andika Alea masuk ke dalam obil taxi tersbeut. .
"Bye Andika, makasih yah dompetnya, nanti kalau udah abis bakalan aku balikin kok. " Ujar Alea sesaat setelah gadis itu sudah berada di atas mobil taxi yang akan membawanya pulang.
Mendengar hal itu Andika yang seolah baru tersadar dari hipnotis segera meraba-raba seluruh kantong celananya.
"Dompet kamu ada disini, kamu pikir pulang jalan kaki itu bakalan terjadi ke aku? Ini bukan sinetron ataupun drama Korea Andika, sadar!. " Pekik Alea, mengangkat jari tengahnya ke arah Andika lalu menjulurkan lidahnya untuk mengejek kekalahan laki-laki itu.
"ALEA! BERHENTI, BALIKIN DOMPETNYA!. " Teriak Andika.
"Bodo amat! Wle.... " Balas Alea.
Mobil taxi itupun meluncur dengan cepat, Andika yang baru saja akan beranjak untuk mengejarnya tidak bisa melakukan banyak hal, karena mobil itu jauh lebih cepat dari langkah kakinya.
"****... " Umpat Andika, menyadari kekalahannya.
Andika dengan kesal masuk ke dalam mobilnya yang terparkir tidak terlalu jauh dari tempatnya saat ini.
"Dasar licik, ALEAAAAAAA. " Pekik Andika, sesaat setelah laki-laki itu sudah berada di dalam mobilnya sendiri.
Bersambung...
__ADS_1