
Episode sebelumnya..
Alea tidak ingin mahasiswanya ikut memandang remeh dirinya hanya karena bekerja di tempat orang tuanya sendiri.
###
Happy Reading and Enjoy Guys.
Di sebuah Mal yang hampir sebagian tokonya telah tertutup, Andika sedang melakukan negoisasi dengan salah satu pemegang saham terbesar Mal tersebut.
Sekali lagi Andika berhasil membuatnya menandatangani penjual sahamnya. Mal itu sudah hampir bangkrut, melihat kondisi saat ini, Indonesia masih berada dalam tahap membangun ekonomi masyarakatnya agar tetap stabil setelah pandemi virus-19 menyerang berbagai negara.
Orang-orang kebanyakan sudah sangat jarang yang datang ke Mal untuk berbelanja, sebagian besar memanfaatkan sosial media mereka untuk membeli barang dan kebutuhan pribadi.
Andika melihat peluang besar untuk mendapatkan Mal mewah tersebut di masa setelah pandemi ini, karena setelah ekonomi masyarakat telah kembali normal Andika optimis Mal tersebut akan kembali ramai.
"Jadi bagaimana pak Surya, apakah anda ingin menjual seluruh saham anda kepada saya atau menunggu sampai Mal ini sudah tidak ada pengunjungnya lagi sehingga harga jualnya pasti akan merosot jauh dari pada harga yang saya tawarkan. " Ujar Andika.
"Tapi kalau seperti itu, Mal ini akan... "
"Yah tepat sekali, Mal ini akan menjadi tanggung jawab saya, begitupula dengan para pemilik toko dan karyawan yang ada di Mal ini sepenuhnya dan anda akan beruntung karena menjual saham anda saat ini. " Ujar Andika memotong ucapan Pan Surya.
"Tapi... "
__ADS_1
"Apakah anda tidak merasa kasihan melihat orang-orang itu, mereka masih harus memberi makan anak dan istrinya di rumah dan jika gaji mereka tidak di bayarkan bulan ini, bisa saja bulan berikutnya mereka akan berkumpul dan melaporkan Mal ini ke pihak serikat pekerja dan menuntut anda, tentunya anda pasti akan mengalami banyak kerugian. " Tutur AndikaAndika dengan santai menyeruput teh yang sudah dingin karena terlalu lama di diamkan di atas meja.
Pak Surya terlihat sedang gelisah namun segera mengangguk.
"Kalau begitu tunjukkan berkas yang harus saya tanda tangani. " Ujar Pak Surya pasrah.
Tidak ada pilihan lain untuk Pak Surya, pandemi virus-19 membuat bisnisnya mengalami penurunan omset termasuk Mal mewah tersebut, pandemi yang mengharuskan orang-orang untuk tinggal di rumah membuat semua usaha yang berkaitan dengan makhluk hidup di batasi selama dua tahun kemarin.
Pak Surya sekali lagi menatap para karyawan yang sedang bekerja dengan gigih melayani para customer yang datang.
Dengan nafas berat, Pak Surya menandatangani kontrak jual beli yang telah di buat oleh Andika.
"Saya harap anda menepati janji untuk tetap mempekerjakan para karyawan itu, mereka sangat bergantung kepada Pak Andika saat ini sebagai pemegang saham utama. " Tutur Pak Surya menyerahkan kertas-kertas yang telah di tanda tangani nya.
Mereka kemudian melanjutkan makan siang, sambil sesekali membahas masalah bisnis yang sedang berkembang pesat saat ini.
Setengah jam kemudian Andika bersama sekertaris barunya sudah berada di atas lift yang akan membawanya ke lantai dasar Mal mewah tersebut.
"Wuah, Pak Andika hebat sekali baru pertama kali bertemu saja sudah langsung bisa membuat kesepakatan dengan orang tadi. " Ujar Alex mengacungkan dua jempolnya ke Andika.
"Biasa saja, lama-lama kalau kamu sudah terbiasa juga akan terasa mudah. " Jawab Andika santai.
Pintu lift terbuka, Andika dan Alex segera keluar dari lift itu menuju pintu utama dimana mobil mereka sedang terparkir tidak jauh dari gedung Mal. Namun baru beberapa langkah perhatian Andika teralihkan dengan suara ribu-ribut dari salah satu restoran di dalam Mal tersebut yang terlihat masih memiliki banyak pelanggan.
__ADS_1
"Eh liat-liat dong kalau mau jalan jangan asal senggol, kamu motong antrian yah? . " Pekik Perempuan itu.
"Saya cepat-cepat, kamu gak usah nyolot. " Balas laki-laki yang tadi di tegur oleh perempuan itu.
"Eh eh eh, udah salah malah lebih nyolot, kamu gak liat ini barisan antrian tuh sampai ke belakang, emangnya kamu pikir kamu doang yang cepat-cepat? Orang lain enggak? . " Balas perempuan itu menunjuk orang-orang yang mengantri di belakangnya.
Semua orang-orang yang mengantri di belakang perempuan itu ikut menatap sinis kepada si laki-laki .
Laki-laki itupun segera meninggalkan barisan dan tidak jadi membuat pesanan karena malu.
"Huuuuu." Orang-orang yang sedang mengantri itu menyoraki si laki-laki yang berlalu pergi.
Andika yang memperhatikan hal tersebut tersenyum kecil. Ternyata memang benar tidak ada yang bisa mengalahkan the power of woman di muka bumi ini.
Andika merasa kagum melihat perempuan tadi yang berani menegur laki-laki penyerobot antrian, melihat tubuh laki-laki itu yang dua kali lebih besar dari pada tubuh si perempuan. Nyalinya benar-benar besar.
"Ayo kita pergi. " Ujar Andika melanjutkan langkahnya.
"Siap pak. " Alex mengikuti langkah bosnya dan berinisiatif berjalan duluan saat Andika hampir mendekati pintu utama.
Alex sebagai sekertaris baru berinisiatif membukakan pintu untuk bosnya tersebut.
Bersambung...
__ADS_1