
Sebuah pesan masuk, ternyata pesan dari Aluna yang mengirimkan lokasi cafe tempat mereka akan bertemu nanti.
###
Tiga puluh menit kemudian, Andika sudah berada di depan cafe Bugis. Ia masuk ke dalam cafe itu namun belum menemukan Aluna.
Tidak ingin pusing, Andika kemudian duduk di kursi nomor 19 lalu memesan minumannya sendiri.
"Perempuan itu sepertinya belum sampai. " Gumam Andika.
"Andika.... " Panggil seseorang.
Andika melirik ke sumber suara, benar saja Aluna baru saja tiba.
Perempuan itu memasuki cafe sembari tersenyum dan melambaikan tangannya pada Andika yang kini juga ikut membalas lambaian perempuan tersebut.
"Hai, maaf aku telat yah?. " Ujar perempuan itu.
Andika menggeleng.
" Santai aja, aku juga baru sampai kok. " Balas Andika.
Mulut Aluna membentuk huruf o, kemudian menangguk pertanda ia mengerti lalu duduk di kursi yang berada persis di samping Andika.
__ADS_1
Mereka berdua kemudian hanyut dalam obrolan yang panjang, Andika juga bisa melupakan sedikit kekhawatirannya pada Alea karena terlalu asyik mengobrol.
Aluna banyak menceritakan pengalamannya selama ia kuliah dan bisa menjadi seperti sekarang ini. Andika juga sesekali menimpali ucapan yang keluar dari mulut perempuan itu.
"Wah kamu jadi idola dong di kampusmu. " Puji Andika saat Aluna menceritakan pengalamannya menjadi mahasiswa terbaik di fakultasnya dengan nilai ipk yang tinggi.
Aluna tersipu malu namun dengan cepat menjawab.
"Ah biasa aja kok Dika, lagian aku mah nggak ada apa-apa di banding kamu yang sukses lebih dulu. " Ujar Aluna merendah lalu balik memuji Andika.
Andika terkekeh pelan mendengarnya, ia merasa Aluna adalah perempuan yang lumayan asyik di ajak mengobrol namun entah mengapa Andika tetap merasa ada yang kurang di dalam dirinya saat ini.
Tiba-tiba saja, pikiran Andika membandingkan celoteh Alea yang kadang membuatnya kesal setengah mati dengan pembahasan Aluna yang terus-terussan membahas prestasinya lalu sesekali mereka berdua saling melemparkan pujian.
"Apakah aku mulai tertarik pada istriku sendiri?. " Batin Andika.
Sebuah pertanyaan yang konyol, tapi wajar saja karena mereka menikah atas dasar perjodohan bukan karena saling tertarik lalu jatuh cinta.
"Aku waktu dapat pemberitahuan Cumlaude itu ngerasa bangga banget sama diri aku sendiri tau nggak Dika, sesenang itu aku waktu hari pengumuman. " Oceh Aluna.
Obrolan mereka semakin lama hanya membahas tentang kehidupan Aluna saja, membuat Andika mulai bosan. Tidak seperti saat Andika mengobrol dengan Alea, apapun yang mereka bicarakan selalu menyenangkan dan membekas di dalam pikiran.
Di saat Andika justru berharap dirinya saat ini menghabiskan waktunya bersama Alea, istrinya. Di tempat lain perempuan itu justru sedang menikmati liburannya dengan mencoba satu persatu wahana-wahana yang beradrenalin bersama laki-laki lain.
__ADS_1
###
Wahana USS.
Setelah menunggu hampir setengah jam untuk antrian masuk ke rumah hantu, akhirnya ksekarang adalah giliran mereka berdua.
Alea dan Marvel memberikan tiketnya kepada seorang petugas yang berjaga di depan wahana.
"Kamu siap Vel?. " Tanya Alea, antusias.
Marvel meringis.
"Siap nggak siap Alea. " Jawab Marvel, jujur ia tidak memiliki banyak keberanian untuk masuk ke rumah hantu tersebut.
"Ayo dong Vel, semangat nanti aku beliin eskrim abis kita keluar dari wahana ini. " Ujar Alea, seakan-akan MArvel adalah anak kecil yang bisa di sogok hanya dengan sebuah eskrim.
"Aku mau eskrimnya 2 yah Alea. " Ujar Marvel.
"Oke deh, let's go. "
Alea menarik tangan Marvel untuk masuk ke dalam pintu rumah hantu. Marvel langsung menggandeng tangan Alea erat-erat agar perempuan itu tidak pergi terlalu jauh darinya.
Bersambung...
__ADS_1