
"Andika, mesum!. "
###
Perang dingin kembali terjadi antara Alea dan Andika keesokan harinya akibat dari listrik yang padam semalam membuat keduanya harus berebut masuk ke kamar mandi karena hanya ada sedikit air yang tersisa untuk di gunakan.
Saat ini terlihat jelas raut wajah Alea yang nampak kesal pada Andika yang tersenyum penuh kemenangan karena berhasil menggunakan sisa air di dalam kamar mandi tersebut.
"Aku berangkat duluan. " Ujar Alea, wajahnya terlihat sangat lesu, di tambah pagi ini ia hanya kebagian sedikit air yang hanya cukup untuk membasuh wajahnya.
"Oke." Balas Andika dengan santainya, tidak peduli pada Alea yang berangkat bekerja sendirian.
"Aku bakalan naik taxi. "
"Ya udah naik taxi aja, nggak ada yang larang kok. "
"Ya udah bye, jangan chat-chat atau telpon aku selama seharian ini, pokoknya aku benar-benar merasa kesal dan marah sama kamu, awas aja kalau kamu berani-berani ngechat aku. " Ancam Alea berlalu pergi dengan langkah percaya diri meninggalkan Andika yang masih asyik menikmati sarapan pagi nya.
"Hati-hati yah Alea. " Pesan Andika dengan nada mengejek.
Alea menghentikan langkahnya lalu berbalik menatap sinis pada suaminya itu.
"**** you!. " Umpat Alea menjulurkan jari tengahnya.
"Hahaha, selamat jalan istriku. " Pesan Andika sebelum Alea benar-benar menghilang dari balik pintu.
__ADS_1
"Argghh Andika sialan, dasar egois! Entah bagaimana aku bisa menikahi laki-laki jahat itu. " Gerutu Alea, prustasi.
Ia terpaksa pergi bekerja dengan penampilan seadanya, niatnya sesampainya di kampus nanti baru dirinya akan mandi dan memoles wajahnya.
Tidak lama kemudian sebuah mobil singgah tepat di hadapan Alea, mobil itu sengaja di pesan khusus melalui aplikasi yang baru saja Alea download.
"Seandainya aku tau ada layanan seperti ini, aku tidak perlu capek-capek lagi menumpang pada mobil laki-laki jahat itu. " Ujar Alea terus menggerutu dan meluapkan kekesalannya.
Sementara Andika yang baru saja keluar dari pintu rumahnya terus memperhatikan mobil taxi online yang membawa istrinya itu pergi.
###
Waktu sudah menujukkan pukul 13.00 yang artinya jam makan siang sudah tiba.
Sekali-kali matanya melirik ke arah ponselnya yang tergeletak di atas meja, berharap ada pesan WhatsApp yang masuk dari suaminya.
"Sialan, laki-laki itu benar-benar tidak mengirimi ku pesan chat, huhuhu. " Gerutu Alea, mulai menyesal telah memaki-maki suaminya kali ini.
Akan tetapi sesat kemudian perempuan itu menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Arggh kenapa aku harus menyesal, laki-laki jahat itu memang pantas di beri pelajaran, aku tidak akan menurunkan gengsiku hanya untuk mengetahui keadaannya sekarang, aku tidak mau peduli, bodo amat dia mau makan atau belum, sedang berada dimana dan dengan siapa! Aku tidak peduli. " Pekik Alea, meyakinkan dirinya sendiri agar tidak terlalu berharap Andika akan mengiriminya pesan chat.
###
Di tempat lain di waktu yang sama, Andika sedang menatap layar ponselnya menimbang-nimbang apakah ia harus mengabari Alea duluan atau menunggu sampai mereka pulang dan bertemu di rumah saja.
__ADS_1
Sebenarnya di dalam lubuk hati yang paling dalam laki-laki itu, Andika benar-benar merasa rindu pada Alea.
Biasanya mereka akan menghabiskan waktu makan siang dengan saling berkirim gambar dan pesan, namun sekarang karena ulah dan keegoisannya pagi tadi ia dan Alea harus saling menjaga image masing-masing.
"Alea kamu sedang apa?. " Gumam Andika, memandangi poto Alea yang sedang tersenyum manis ke arah kamera.
"Apa aku chat duluan saja?. " Lanjutnya.
Andika menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ah biarkan saja, aku tidak boleh memanjakan perempuan itu, dia akan semakin melunjak jika aku yang mengiriminya pesan duluan. " Ujar Andika, gengsi.
Waktu berlalu, malam haripun tiba keduanya kini sudah berada di dalam kamar, tidak ada yang memulai pembicaraan bahkan Alea kini sudah bersiap untuk tidur dengan pembatas yang sengaja di letakkan di tengah-tengah ranjang.
"Kenapa di kasih pembatas?. " Tegur Andika.
Alea tidak menggubris, perempuan itu menutupi kepalanya dengan bantal, tidak peduli dengan Andika yang mulai menggerutu.
"Alea? Kamu masih ngambek perkara kamar mandi tadi pagi?. " Tanya Andika lagi.
Tidak ada jawaban. Andika menyerah, ia kemudian ikut berbaring di atas ranjang. Perang Dingin di anta keduanya sepertinya akan terus berlanjut, entah siapa yang akan mengalah lebih dahulu.
Hanya waktu yang mampu menjawabnya.
Bersambung...
__ADS_1