
"Dasar laki-laki brengsek. " Caci Alea sebelum benar-benar pergi meninggalkan Andika sendirian.
###
Brukk.
Alea menutup pintu kamarnya dengan kasar, lalu membuang semua pakaian yang masih berserakan di atas ranjangnya ke lantai.
Belum cukup satu jam meninggalkan rumah, Alea audah pulang dalam keadaan emosi.
Untungnya rumahnya sedang sepi, sehingga tidak ada yang menyadari kepulangan Alea.
"Arrghhhhhhh brengsek, laki-laki brengsek!
" Pekik Alea, ucapan Andika terus terngiang-ngiang di dalam pikirannya.
"Perempuan pemabuk? Pantas saja dia langsung mengenaliku saat insiden mobil itu! Arrrghh entah apa yang sudah ku lakukan kepadanya!. " Alea histeris, pertemuan pertamanya gagal total karena harus berakhir dengan perdebatan.
Rencana untuk menggagalkan perjodohonnya tersebut sepertinya juga tidak akan berjalan mulus.
Alea membuang tubuhnya ke atas ranjang, mencoba mengingat-ingat kejadian yang terjadi saat dirinya mabuk.
Sebuah ingatan kemudian tiba-tiba saja melintas ke dalam pikiran Alea.
"Om Ganteng?. " Pekik Alea mengingat kejadian demi kejadian saat dirinya pertama kali bertemu dengan Andika di acara pertunangan teman lamanya.
Alea saat itu mabuk karena baru saja di beritahu bahwa dirinya akan di jodohkan, sehingga Alea yang stres minum banyak alhokol di pesta malam itu.
Lalu, pertemuan kedua saat dirinya mabuk di club beberapa hari yang lalu.
"Arghhhh jadi om ganteng itu? Andika? Aduh kenapa harus laki-laki itu?. " Pekik Alea prustasi mengetahui laki-laki yang akan menikah dengannya adalah laki-laki yang sudah mengetahui kelakuan buruknya.
__ADS_1
"Kenapa dunia ini sangat sempit Tuhan?. " Ujar Alea histeris memikirkan nasibnya.
Drttt.. Drttt..
Ponsel Alea bergetar mengalihkan perhatian perempuan itu.
"Halo? Kenapa Ra?. " Tanya Alea setelah melihat nama kontak yang memanggilnya adalah Aurora.
"Heh dimana kamu? Hari ini partynya katanya nggak jadi?. " Tanya Aurora.
"Ah iya, aku batalin karena tadi ada pertemuan mendadak sama calon suamiku itu. " Jelas Alea.
"Hah? Terus? Gimana?. " Tanya Aurora terdengar terkejut sekaligus antusias.
"Ah udahlah nggak usah di bahas, kamu dimana biar aku kesana sekarang! Temani aku makan, aku lapar, laki-laki brengsek itu seperti tidak membiarkanku untuk menyentuh makananku tadi, membuatku kesal setengah mati! . " Keluh Alea.
"Aku di rumah. " Balas Aurora.
"Ya sudah aku kesana sekarang, bye. "
###
Di tempat lain.
Andika baru saja masuk ke dalam rumahnya dengan ekspresi datar lalu dengan santai berjalan masuk ke dalam kamarnya.
Andika langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur, kepalanya terasa pening.
Pertemuan pertamanya dengan perempuan itu gagal bahkan hampir membuat perjodohan mereka batal. Jika saja Andika ikut tersulut emosi, untungnya Andika bisa mengontrol dirinya sendiri.
Andika sudah menduga perempuan itu adalah orang yang akan di jodohkan dengannya saat melihat kartu nama Alea kemarin, saat insiden mobil.
__ADS_1
Di tambah sebelum berangkat Mamanya sempat memperlihatkan poto Alea kepadanya.
Ingatan tentang ucapan Danu di club dua hari yang lalu, kembali terngiang-ngiang di dalam pikirannya.
Andika sama sekali tidak percaya takhayul namun, ucapan Danu seperti akan menjadi kenyataan di dalam hidup Andika.
"Pertemuan ke empat ?. " Lirih Andika menghitung-hitung kembali berapa kali dirnya dan Alea sudah bertemu tanpa di sengaja.
"Sudah empat kali? " Pekik Andika.
Tok.. Tok.. Tok..
Klek...
Pintu kamar Andika terbuka, mengalihkan perhatian laki-laki itu. Sedetik kemudian Bu Widia muncul dari balik pintu dengan ekspresi pada wajahnya menunjukkan penuh tanda tanya.
"Loh nak, kenapa pulangnya cepat banget? Gimana pertemuan pertama kamu sama Alea? Anaknya cantikkan? Baik lagi, mama udah pernah ketemu sama dia beberapa kali loh, pertemuan kalian gimana tadi? Pasti asyikkan?. " Cecar Bu Widia.
Andika menelan air liurnya dengan susah payah. Dirinya tidak tau harus menjawab apa, disisi lain Andika tidak ingin membuat mamanya kecewa.
"Iya ma asyik, Alea perempuan yang baik dan lebut, Andika suka kok. " Balas Andika berbohong, agar mamanya tidak perlu merasa khawatir.
"Ah syukurlah kalau gitu, mama mau telpon mamanya Alea dulu. " Ujar Bu Widia kegirangan lalu beranjak pergi meninggalkan kamar Andika.
Andika memegang kepalanya yang pening, sedikit prustasi karena harus membohongi mamanya.
"Berbohong demi kebaikan, tidak apa-apa Andika. "Ujar Batinnya.
"Sepertinya perempuan itu akan sedikit sulit. " Ujar Andika.
Meskipun sulit, bukan Andika namanya jika tidak bisa menaklukkan perempuan mana saja yang dinginkannya.
__ADS_1
"Aku akan menaklukkan perempuan itu, tunggu saja! Kamu akan tunduk padaku!. " Tutur Andika merasa percaya diri.
Bersambung...