
Begitu pula dengan Bu Dewi dan Pak Putra, mereka sekali lagi melepas putri bungsunya ituitu sambil berpegangan tangan.
###
Perjalanan yang Alea tempuh dari rumah orang tuanya menuju ke kediaman Prasetya sebenarnya tidak terlalu jauh.
Akan tetapi, Alea mengingat pesan orang tuanya untuk mengendarai mobilnya dengan pelan. Jadi, Alea tidak terburu-buru, kecepatan saat ini mobilnya hanya melaju di angka 40.
Di lubuk hati Alea yang paling dalam sebenarnya dirinya merasa sangat terharu sekaligus sedih harus meninggalkan orang tuanya tinggal berdua saja di rumah yang sangat besar itu.
Meskipun ada banyak pelayan disana, tetap saja Alea yakin orang tianya pasti sangat kesepian, karena rumah utama dengan tempat tinggal para pelayan itu bangunannya terpisah.
Di tambah Aulia juga tidak bisa selalu tinggal bersama dengan orang tua mereka karena sekali-kali kakak Alea itu juga akan ikut suaminya dalam perjalanan dinas.
Di tengah-tengah kekalutannya tersebut tiba-tiba saja ban mobil Alea berjalan semakin pelan dan berat padahal ia sudah mencoba menaikkan gasnya.
"Duh kenapa nih mobil?. " Gumamnya pelan.
Alea kemudian menepikan mobilnya di pinggir jalan, lalu dengan cepat perempuan itu turun untuk memeriksa keadaan bannya yang sepertinya sedang bermasalah.
"Oh Tuhan, ya ampun kenapa bisa gini sih? Perasaan nih mobil abis di service kenapa bannya kempes lagi?. " Oceh Alea.
Benar saja perempuan itu mendapati ban mobil bagian belakangnya kempes.
"Aduh mana sepi banget lagi disini, nggak ada orang yang lewat padahal baru mau jam 9." Ujar Alea lagi panik, memperhatikan sekelilingnya yang terdengar hanya suara jangkrik.
Di tambah sekelilingnya nampak di penuhi tumbuhan dan sepertinya tidak ada rumah di area itu. Ia jadi merasa parno.
"Jangan-jangan di sekitar sini ada penjahat lagi? mereka sengaja naruh paku di jalanan terus ngejebak pengendara yang lewat buat di rampok? Di perkaos? di bunuh? terus di mutilasi? AHHH OMEGOT!. " Pekik Alea panik.
Alea kemudian kembali masuk ke dalam mobilnya, berusaha menghubungi Andika untuk segera datang menjemputnya di tempat itu.
"Nomor yang Anda tujuan sedang berada di luar jangakauan, silahkan tinggalkan pesan.. "
__ADS_1
Klik.
Ponsel Andika sudah tidak aktif.
"Aduh gimana ini? Masak aku mesti mompa mobilnya sendirian? Mana sanggup aku. " Keluh Alea.
Perasaan gelisah dan panik membayangi pikiran Alea, pikiran-pikiran buruk tentang seorang psikopat yang menjebak dirinya di jalanan yang sepi itu kembali menguasai.
Alea terus memperhatikan sekitarnya dengan was-was.
Tok
Tok
Tok
"Aaaaahhhh ampun aku belum mau mati, tolong ambil saja hartaku, jangan bunuh aku, plis. "
Tok
Tok
Sebuah ketukan kembali terdengar karena panik dan tidak tau siapa orang yang mengetuk kaca mobilnya, Alea segera meraih apapun yang bisa ia jadikan senjata.
Sesaat kemudian barulah Alea mencoba memberanikan dirinya untuk melihat seseorang yang mengetuk mobilnya tadi karena merasa dirinya sudah memiliki sesuatu untuk di jadikan pelindung dirinya.
Seseorang yang berada di luar mobilnya itu Alea yakini adalah laki-laki karena postur tubuhnya tinggi dan tegap. Laki-laki itu kini berjalan ke belakang mobil Alea.
Alea semakin yakin jika dirinya baru saja di jebak, tanpa pikir panjang Alea dengan tangannya yang mulai bergetar menggapai ponselnya untuk menghubungi layanan darurat.
Namun sedetik kemudian ponselnya itu justru bergetar.
Drttt
__ADS_1
Drrtt
Drtttt
Panggilan masuk Marvel.
"Oh Tuhan penyelamat ku. " Pekik Alea, merasa ada secercah harapan.
Tanpa pikir panjang Alea mengangkat panggilan tersebut.
"Halo, Vel tolong aku plis, halo...." Histeris Alea.
"Halo, Alea ini aku Marvel, ini mobil kamukan? Aku yang tadi ngetuk kaca mobil kamu, tapi kamunya kayak ketakutan gitu?mobil kmau kenapa? . " Tanya suara Marvel di ujung telepon terdengar khawatir.
"Hah beneran? Tadi itu kamu?. " Tanya Alea memastikan.
"Iya ini aku loh, aku sempat ngeliat muka kamu tadi, aku pikir ada apa-apa, pas aku lewat di jalan ini ngeliat mobil kamu di pinggir jalan makanya aku singgah. " Jelas Marvel sembari kembali berjalan ke samping mobil Alea.
Alea melihat ke belakang mobilnya dan menyadari ada mobil lain yang parkir di belakangnya.
Marvel kemudian memutuskan sambungan telpon dan menampakkan wajahnya di kaca mobil Alea.
Sesaat kemudian keduanya mengobrol di luar mobil.
Alea akhirnya bisa bernafas lega dan seketika pikiran liarny tadi sirna.
"Aku sampai nyediain semprotan ini tau, biar kalau ternyata yang ngetik mobil tadi aku itu orang jahat, bakalan aku semprotin matanya pake ini, ngeri banget kan kalau tiba-tiba besoknya keluar berita kalau seorang dosen cantik di temukan meninggal dalam kondisi telanjang bulat. " Oceh Alea panjang lebar.
Marvel yang sedang memperbaiki ban mobil Alea sontak tertawa.
"Hahahah, jadi kamu pikir aku penjahat kelamin gitu?. " Tawa Marvel terdengar renyah setelah mendengar penjelasan Alea yang menyangka dirinya seorang psikopat.
Bersambung...
__ADS_1