
Alea yang mendengar itu sontak berlari keluar dari kamar hotelnya, karena sadar betul, sebentar lagi Andika akan memarahinya habis-habissan.
###
"Malam ini kamu tidur di sofa lagi!. " Perintah Andika, setelah makan malam, laki-laki itu sama sekali tidak ingin menatap wajah Alea yang membuatnya kesal setengah mati.
Alea yang sudah tahu dirinya pasti akan berakhir tidur di sofa lagi malam ini hanya pasrah dan langsung mengambil selimut dan bantalnya untuk tidur di sofa lagi.
"Dasar perempuan jahat. " Umpat Andika, terus menatap sinis ke arah Alea.
Pipi Alea merah, bukan karena merasa bersalah tapi karena menahan tawanya sejak tadi.
"Kalau besok wajahku iritasi, awas saja aku akan membalasmu dua kali lipat lebih sadis. " Omel Andika lagi.
Alea tidak menghiraukannya, ia justru langsung menutupi tubuhnya dengan selimut lalu tawanya akhirnya meledak.
"HAHAHAH."
"Arrrghhhhh diam! Kalau tidak aku akan membuatmu tidur di luar malam ini. " Ancam Andika.
Alea sontak terdiam, meskipun nafasnya masih tersengal-sengal seperti suara babi yang kelaparan karena tidak mampu menahan tawanya membayangkan wajah Andika tadi.
"Dasar jahat! Awas saja, tunggu pembalasanku. " Pekik Andika, memukul-mukul kasurnya dengan kesal, hari ini kesabarannya yang hanya setipis satu lembar tissu benar-benar telah habis.
###
Andika terbangun mendengar alarm pada ponselnya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 5 pagi, artinya 3 jam lagi ia harus menghadiri rapatnya pagi-pagi sekali. Karena tidak ingin membuat klien menunggu biasa Andika memang akan datang lebih cepat.
__ADS_1
Laki-laki itu kemudian turun dari kasurnya dan langsung masuk ke kamar mandi.
Setelah hampir setengah jam bersiap-siap pandangan Andika kemudian terfokus pada Alea yang saat ini sedang tertidur dengan posisi di luar nalar.
Setengah badannya berada di atas sofa sementara badannya yang sebelah lagi sepertinya di topang oleh udara.
Andika menggelengkan kepalanya.
"Cih dasar aneh, bagaimana dia bisa tidur dengan posisi seperti itu?. " Gumamnya.
Wajah Alea yang polos terlihat sangat lucu saat tertidur, Andika tidak bosan-bosan memandanginya. Hingga kemudian panggilan pada ponselnya berbunyi.
Andika dengan cepat mengambil ponselnya dan melihat orang yang menelponnya adalah resepsionis di hotel tersebut.
"Halo... " Sapa Andika.
"Oke, saya akan segera turun ke bawah. " Balas Andika, memutuskan sambungan telepon.
Andika bergegas ke arah pintu, namun ia teringat dengan Alea yang masih tertidur pulas. Tidak mungkin ia meninggalkan perempuan dengan sejuta ide gila itu tinggal seorang diri lagi di dalam kamar hotel.
Andika kemudian bergegas membangunkan Alea.
"Alea.... "
"ALEA BANGUN, KITA HARUS SEGERA PERGI DARI SINI. " Teriak Andika, berniat ingin menjahili Alea.
"ALEA CEPAT, BANGUN ALEA KITA HARUS SEGERA PERGI DARI SINI. " teriak Andika sekali lagi kali ini laki-laki itu mengguncang tubu Alea dengan cukup keras.
Benar saja, tidak sampai sepuluh detik owremouan itu langsung bangun dan panik.
__ADS_1
"Hah? Kenapa? Ada apa? Aku dimana? kamu siapa? . " Alea histeris, kesadarannya belum sepenuhnya kembali.
Andika segera menarik tangan istrinya itu, keluar dari kamar hotel.
"Ayo Alea, lari cepetan. " Perintah Andika, yang di respon Alea dengan ikut berlari sekencang-kencangnya bahkan perempuan itu justru berlari mendahului Andika yang sedari tadi menahan tawanya.
Mereka berdua berpegangan tangan melewati kamar-kamar hotel yang lain sambil berlari tentunya.
"Adah apah?. " Tanya Alea ngos-ngosan.
"Nggak usah banyak tanya, lari aja yang kencang. " balas Andika.
Beruntung tidak ada orang yang memperhatikan adegan lari-larian itu yang nampak seperti potongan adegan pada film-film India.
Hingga sampai di dalam lift, Alea nampaknya baru menyadari sesuatu. Dengan cepat perempuan itu melepaskan pegangan tangannya dengan Andika.
"Eh kenapa kita pegangan tangan ?. " Tanya Alea, kebingungan.
Andika mengangkat bahunya, Pura-pura tidak tahu apa-apa, kepalanya mendongak memperhatikan langit-langit. Sedetik kemudian tawa laki-laki itu meledak.
Alea yang baru saja tersadar sepenuhnya dari rasa kantuk, sontak menatap dirinya pada pantulan kaca yang ada di dalam lift tersebut.
Rambutnya acak-acakan, bekas lunturan maskara di bawah matanya terlihat jelas. Belum lagi baju tidur yang di kenakannya terkancing sembarangan. Celana panjangnya terangkat sebelah hingga ke lutut.
Pembalasan Andika sepertinya berhasil.
"ANDIKAAAAAAAAA." Teriak Alea.
Bersambung...
__ADS_1