
"Ih ogahhhhhh. " Bantah Alea tidak terima di katai mirip dengan mamanya sendiri.
###
"Aku lebih mirip sama papa yang santai dan nggak neko-neko, nggak mau aku mirip mak Lampir. " Lanjut Alea.
"Heh nggak boleh ngomong gitu, biar gimanapun mamamu itu ya mama kamu Alea, kamu nggak bisa mengelak karena kenyataannya memang seperti itu. " Ujar pak Putra.
"Isshhh papa nyebelin banget. " Gerutu Alea.
Akan tetapi pada akhirnya keduanya tetap tertawa mengingat kemirioan Alea dan Bu Dewi memang dominan.
Bu Dewi adalah orang yang tidak ingin di dikte oleh orang lain, apapun yang ia katakan makan itu yang orang lain harus lakukan, begitulah Alea saat ini. Hidup dengan prinsipnya sendiri, meskipun terkadang harus prinsip hidupnya tidak sejalan dengan apa yang dirinya inginkan.
Contohnya, perjodohan dirinya dengan Andika.
Mereka berdua kembali terdiam, hingga w mangkok ice cream mereka masing-masing sudah habis.
"Jadi papa mau langsung Akea anterin pulang nih?. " Tanya Alea membuka pembicaraan.
Pak Putra menggeleng pelan.
"Bentar aja, kita ngomong disini dulu sampai setengah jam lagi. " Ujar pak Putra.
"Dih sok muda banget pake istilah nongkrong hahaha. " Ejek Alea.
Pak Putra itu mengukum senyumnya.
"Umur dan wajah boleh tua tapi jiwa harus tetap muda Alea, begitulah orang-orang sekarang harus menjalani hidupnya, santai aja... " Oceh pak Putra kembali membuat Alea geli mendengarnya.
__ADS_1
"Jiwa boleh muda asal jangan kepincut sama daun muda aja. " Balas Alea.
"Hahaha bisa aja kamu nak, oh iya papa baru ingat ada yang mau papa kasih tau ke kamu. " Ujar pak Putra, kini nada suaranya terdengar serius.
"Hmm apaan tuh?. "
"Kamu inget nggak pas kita dulu tinggal di perumahan yang lama pas kamu kecil dulu?. " Tanya pak Putra.
Alea nampak berpikir, namun sesaat kemudian perempuan itu mengangguk.
"Ingat sih nggak jelas, kan udah lama banget pa, lagian pas kita pindah Alea udah mulai sibuk banget ikut kegiatan sekolah. "
Pak Putra nampak tersenyum dan tidak sabar ingin mengatakan sesuatu.
"Ada apa emangnya sama perumahan lama itu?. " Cecar Alea tidak sabar.
"Kamu nggak ingat? Perumahan lama kita itu ada di dekat sini?. "
"Hah? Di dekat sini? Berarti dekat juga dong dari rumah mertuaku?. " Balas Alea, mengingat tempat mereka sedang makan ice cream saat ini memang dekat dari kediaman Prasetya.
Pak Putra mengangguk.
"Iya emang, kita dulu tetanggaan sama mertua kamu. " Ujar pak Putra.
"Hah? Emang iya?. " Seketika kepala Alea terangkat dan menatap lurus ke arah pak Putra.
"Iya Alea, kamu juga pasti bakalan lebih terkejut karena yang menjadi suami kamu sekarang itu teman kecil kamu sendiri pas kita masih tinggal di perumahan yang sama, sama mertuamu. " Jelas pak Putra, laki-laki itu tidak bisa menyembunyikan senyumnya melihat ekspresi Alea yang kini terlihat shock.
"WHAT? Papa bercanda yah?. "
__ADS_1
"Nggak Alea beneran, Andika itu teman masa kecil kamu meskipun kita tetanggaan sama mereka nggak lama tapi kalian dulu sering main bareng sampai lupa waktu, bahkan kalian pernah di sangka hilang karena udah maghrib, pas hujan-hujan dan hari udah gelap tapi kalian belum juga pulang. " Oceh pak Putra mengingat kenangan masa kecil Alea.
Alea semakin shock.
"Waduh? Mampus, berarti bener dong yang Andika bilang?. " Batin Alea mulai panik.
Apalagi dirinya dan Andika sudah membuat perjanjian taruhan jika Andika berhasil membuktikan mereka adalah teman kecil di masa lalu makan Andika yang akan benar, sebaliknya jika Andika tidak berhasil membuktikan hal tersebut maka Alea yang akan menang.
Taruhannya adalah satu permintaan pemenang harus di kabulkan.
Alea mencoba mengingat-ingat masa kecilnya, akan tetapi dirinya benar-benar tidak ingat pernah menjadi teman kecil Andika belasan tahun yang lalu.
"Argghjj giamana ini? Aku harus ngabulim satu permintaan Andika? Aduh bego banget aku kenapa nggak langsung percaya aja, mantan aku nggak tau lagi tuh laki mau minta apaan. " Batin Alea, kembali menggerutu.
"Masak sih pa? Kok Alea sama sekali nggak ingat apa-apa yah?. "
Pak Putra mengangkat kedua bahunya.
"Kalau kamu nggak percaya kamu boleh tanya sama mertua kamu, atau mama kamu deh pasti dia masih punya banyak poto kenangan kalian pas masih kecil, kalian berdua dulunya kan suka banget di poto bareng. " Jelas pak Putra.
Kalah telak. Sepertinya kali ini Alea harus benar-benar mengakui ingatan Andika yang tajam. Tinggal menunggu waktu hingga laki-laki itu menemukan bukti poto-poto mereka.
"Eh poto-poto?. " Gumam Alea, sebuah ide muncul di dalam pikirannya.
"Kalau Andika nggak bisa nemuin poto-poto itu, pasti dia nggak akan bisa menang waktu yang aku kasihkan cuman 1 minggu, aku harus bergegas mengamankan poto-poto itu. " Batin Alea.
"Poto-poto nya berarti ada di rumah dong pa?. " Tanya Alea memastikan.
Pak Putra mengangguk.
__ADS_1
"Iya di rumah lah, kan dulu mama kamu yang hobby banget potoin kalian pake kameranya. " Ujar pak Putra.
Bersambung...