
Aluna yang mendengarkan perdebatan keduanyapun diam-diam menunjukkan ekspresi tidak suka.
###
Di tempat lain.
Bu Dewi nampak sedang membereskan barang-barang lama Alea yang sudah tidak di perlukan lagi. Sedangkangkan barang-barang Alea yang masih bagus namun sudah tidak Alea gunakan akan Bu Dewi akan sumbangkan ke orang lain yang lebih membutuhkan nantinya.
Saat membuka satu persatu laci lemari Alea, pandangan Bu Dewi teralihkan pada tumpukan album yang sudah berdebu. Nampaknya laci itu tidak pernah di bersihkan karena memang tempatnya tidak terlalu kentara.
Wajar saja pelayan di rumahnya tidak akan memperhatikan laci kecil tersebut.
Bu Dewi kemudian mengambil dua buah album dan membukanya.
"Eh lucu sekali. " Gumam Bu Dewi saat melihat poto kecil Alea dan Aulia yang nampak seperti dua saudara kembar karena postur tubuh mereka yang hampir sama di usia kanak-kanak. Padahal umur kedua anak bu Dewi itu berbeda beberapa tahun.
Bu Dewi membuka lembaran demi lembaran album tersebut hingga pandangannya kembali fokus pada beberapa poto yang menampilkan seorang gadis cilik dengan sorang anak laki-laki yang sedang berpose dan tersenyum menghadap ke arah kamera.
__ADS_1
Bu Dewi mengusap-usap debu pada poto tersebut untuk memastikan wajah anak laki-laki yang ada di dalam poto.
"Andika? Ya ampun mukanya nggak ada berubah-berubahnya dari dulu, wah ternyata mereka pernah poto bareng, aku sampai nggak ingat kalau ternyata mereka pernah ketemu belasan tahun yang lalu. " Oceh Bu Dewi, tersenyum gembira.
Seolah dirinya baru saja mendapati sebuah harta karun yang tidak ternilai harganya. Tentu saja, karena kedua anak di dalam poto tersebut akhirnya berjodoh.
"Memang jodoh itu nggak bakalan kemana. " Gumam Bu Dewi lagi. Ia kemudian memotret poto tersebut menggunakan ponselnya lalu mengirim pesan gambar pada Bu Widia besannya.
Bu Dewi kemudian mengenang-ngenang masa kecil Alea dimana anak bungsunya itu tidak pernah bisa berteman dengan siapapun karena kelakuannya yang jahil namun sangat cengeng.
Aulia yang sering membelanya saat bertengkar dengan anak lainpun kadang di buat kewalahan dengan tingkah Alea yang tidak pernah mau kalah.
Rumah keluarga Prasetya dan Putra Wicaksono memang sempat berdekatan belasan tahun yang lalu. Namun karena orang tua Alea membutuhkan rumah yang lebih besar di banding rumahnya di tahun itu.
Pada akhirnya Keluarga Putra Wicaksonopun pindah ke rumah yang lebih besar, rumah yang mereka tempati saat ini.
Bu Dewi sendiri tidak menyangka Alea dan Andika tidak mengingat masa-masa kebersamaan mereka di tahun itu. Meskipun keluarga mereka hanya bertetanggan selama 2 tahun, namun harusnya Alea dan Andika memiliki ingatan tentang kebersamaan mereka dulu.
__ADS_1
Bu Dewi ingat jelas Alea dan Andika juga sempat beberapa kali bertengkar dan berakhir saling menjambak salah satu alasannya hanya karena memperebutkan selimut bermotif gajah yang waktu itu hanya sisa satu di salah satu pusat perbelanjaan.
Bu Dewi dan Bu Widia dulunya sering melakukan aktivitas belanja bersama-sama dan membawa anak mereka masing-masing.
"Sayang sekali mereka tidak mengingat masa-masa itu, mereka berdua terlihat sangat lucu dan menggemaskan. " Ujar Bu Dewi pelan.
Bu Dewi kemudian menggelengkan kepalanya.
"Wajar saja, mungkin karena keduanya di pisahkan selama belasan tahun tentunya ingatan mereka tidak akan bisa mengingat semua masa kecil mereka. " Lanjut ocehan bu Dewi.
Di tambah setelah mereka pindah dari perumahan yang dulu, Alea sudah mulai gampang bersosialisai dengan orang-orang baru dan lebih banyak mengikuti kegiatan di sekolah barunya.
Begitupun dengan Andika yang waktu itu juga sudah masuk kelas 6 SD, pastinya saat itu Andika sangat sibuk belajar untuk mengikuti ujian kelulusan.
Keduanya di sibukkan dengan urusan masa kecil mereka masing-masing.
"Ku harap suatu hari nanti mereka akan mengingat masa kanak-kanak mereka bersama dan mengingat poto-poto lucu ini. " Bu Dewi kembali bergumam.
__ADS_1
Bersambung...