Cinta Setelah Perjodohan

Cinta Setelah Perjodohan
Bagian 129 : Mati Lampu


__ADS_3

"Loh kok mati lampu?. " Pekik Alea.


###


Tok...


Tok...


Tok...


Ketukan pada pintu kamar membuat keduanya sontak terbangun dan menoleh ke sumber suara secara bersamaan.


Bug


"Aw, kepalaku. "


"Aduh sakit, kamu sengaja yah. " Sentak Alea memegangi kepalanya yang tidak sengaja bertubrukan dengan kepala Andika.


"Sory, aku nggak liat Alea." Balas Andika.


Tok..


Tok..


Ketukan pada Pintu kembali terdengar kali ini diiringi suara seseorang.


"Tuan Andika, permisi ini pak Tono.... " Seru seseorang yang saat ini sedang berada di depan pintu kamar Andika.


"Iya Pak ada apa?. " Sahut Andika.


"Listriknya padam pak, ada yang korslet mungkin lampunya baru hidup besok pagi soalnya PLN datangnya baru besok. " Ujar Pak Tono, Security yang menjaga rumah tersebut.


"Oh ya udah, nggak apa-apa makasih infonya. " Balas Andika.


Sesaat kemudian terdengar langkah kaki Pak Tono menjauhi kamar Andika.


Di dalam kegelapan itu, Alea dan Andika kembali terdiam. Mereka berdua tidak tau harus melakukan apa.


Awalnya Andika ingin meminta maaf atas perkataannya tadi pada saat mereka bertengkar akan tetapi entah mengapa Andika justru kembali merasa gengsi dan lebih memilih mengisengi istrinya itu.


"Andika... " Panggil Alea pelan nada suaranya terdengar bergetar.


Andika yang menyadari itu sontak menyahut.


"Iya ada apa? Aku disini di sampingmu?. "Balas Andika menjangkau tubuh Alea dan mendekapnya.


"Ah Andika jangan ngambil kesempatan dalam kesempitan, dasar mesum!. " Omel Alea melepaskan tangan Andika dari tubuhnya.

__ADS_1


"Ahahahah." Andika hanya tertawa menanggapi omelan istrinya itu.


"Btw, gelap banget ada senter nggak sih atau apapun kek lilin atau lampu cas gitu? . " Ujar Alea kemudian.


"Kenapa? Kamu takut gelap?. " Tanya Andika memastikan.


Alea tidak menjawab pertanyaan Andika, namun Andika merasakan pergerakan kepala Alea yang mengangguk.


Andika kemudian beranjak dari tempat duduknya berniat untuk mengambil ponselnya yang tadi ia taruh di atas ranjang. Akan tetap Alea segera menahannya.


"Andika, kamu mau kemana? Jangan jauh-jauh... " Pekik Alea, memelas.


"Aku mau ambil HP ku di ranjang dulu, katanya mau senter?. "


"Eh tapi jangan lama-lama, aku takut.... " Balas Alea.


Andika tersenyum mendengarnya.


"Nggak usah takut, aku ada disini kok, atau kita pindah tidur ke atas ranjang aja, ayo... " Ajak Andika.


"Ah nggak mau, aku mau disini aja Dika, jangan jauh-jauh aku takut gelap plissss. " Rengek Alea, manja.


"Katanya butuh senter?. " Tanya Andika lagi.


"Udah nggak usah, kamu duduk aja lagi temenin aku. " Pinta Alea.


Andika mengikuti keinginan Alea dan kembali duduk di samping istrinya itu. tanpa aba-aba kini Alea yang berinisiatif merapatkan tubuhnya pada Andika sehingga kini mereka duduk dalam posisi saling berpelukan di tengah kegelapan.


Hening. Andika memejamkan matanya sembari menghirup bau shampo dari rambut Alea yang membuat pikirannya kembali rileks.


Dalam keheningan itu ingatan Andika seolah kembali ke masa lalu saat dirinya berada di posisi yang sama dengan seorang gadis cilik.


Flashback on


Bedanya waktu itu hujan deras dan mereka bermain di taman hingga hari mulai gelap, saking asyiknya bermain mereka berdua sampai lupa waktu.


Hingga hujan turun memaksa mereka untuk berteduh di dalam sebuah rumah mainan di taman tersebut, hari yang sudah gelap dan hujan yang deras membuat gadis cilik itu ketakutan dan menangis.


"Huhuhu, harusnya aku pulang lebih cepat, ini semua gara-gara kami, harusnya kamu menurutiku untuk pulang cepat tadi. " Rengek gadis kecil itu.


"Maaf, aku pikir hari ini tidak akan hujan, jangan menangis sebentar lagi orang tua kita pasti akan datang mencari. " Ujar Andika kecil, mencoba menenangkan gadis itu.


Sayangnya, hingga 1 jam berlalu hujan tidak juga reda, waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore lewat dan orang tua mereka tidak datang menjemput.


Gadis kecil itu semakin menangis histeris.


"Bagaimana ini, orang tua kita tidak datang, aku takut gelap, hiksss. "

__ADS_1


"Tidak apa-apa jangan takut, aku akan menjagamu dan berada di sampingmu. "


Andika mendekap gadis cilik itu hingga akhirnya si gadis berhenti menangis dan kembali tenang, hingga tidak lama kemudian ia tertidur dalam pelukan Andika.


Tidak lama kemudian terdengar suara-suara yang memanggil nama Andika dan nama gadis kecil itu.


"Andika... Alea... Dimana kalian nak? Aduh ya Tuhan anak-anak itu kenapa belum pulang jam segini. "


"Aduh bagaimana ini, aku pikir mereka tidak akan bermain terlalu jauh. " Timpal suara yang lain.


Andika kecil yang mendengar suara-suara itu sontak berteriak.


"Mama, tante aku disini, aku dan Alea ada disini. "


Flash back off.


Andika seketika membuka matanya saat dirinya baru saja mengingat nama gadis kecil yang dulu sering menjadi teman bermainnya.


"Alea?. " Pekik Andika.


"Hmmm apa?. "


Andika menggelengkan kepalanya.


"Eh nggak apa-apa aku pikir tadi aku mengigau. " Balas Andika.


"Andika, aku ngantuk. "


"Kita pindah ke atas ranjang?. "


"Hmm boleh, tapi aku mau di gendong. " Pinta Alea manja.


"Siap nyonya. " Balas Andika, dengan sigap laki-laki itu mengangkat tubuh Alea dan memindahkannya ke atas ranjang.


Sebelum benar-benar tertidur Andika memulai pembicaraan kecil.


"Alea, kamu ngerasa pernah ketemu aku nggak pas kecil dulu?. " Tanya Andika.


Alea yang sudah setengah mengantuk itu menjawabnya dengan bergumam.


"Nggak lah, aku sulu pasti nggak mau berteman sama orang menyebalkan kayak kamu, udah gitu tidurnya ngeces lagi. " Balas Ale ayang membuat Andika seketika tertawa.


"Gimana kalau ternyata kita beneran pernah ketemu pas kecil dan sering jadi teman berantem?. "


"Aku sungkem ke kamu Dik, karena ingatanmu benar-benar kuat, udah ah nggak usah banyak tanya aku ngantuk. " Balas Alea kesal.


Andika terdiam lalu meraih tubuh Alea agar lebih dekat dengan tubuhnya.

__ADS_1


"Andika, mesum!. "


Bersambung....


__ADS_2