
"Selamat tidur Alea. " Gumam Andika, sebelum dirinya ikut memejamkan matanya sendiri.
###
Di tempat lain.
Alina baru saja tiba di apartementnya, merasa lelah sekaligus kecewa.
Lagi-lagi ia harus menyaksikan Andika yang lebih memilih pulang lebih dahulu dan mengejar Alea di banding harus menemani dirinya di acara perjamuan tadi.
"Sialan perempuan itu!. " Umpat Aluna, seakan sedang menampilkan karakter aslinya yang juga sering berbicara kasar.
Berbeda jauh jika Aluna sedang berada di keramaian, apalagi di hadapan Andika, Aluna akan berbicara bahkan bertingkah laku sangat lembut dan sopan.
"Arrrhgggh apa yang harus aku lakukan, perasaan ini benar-benar membuatku hampir gila. " Pekik Aluna prustasi.
Perasaannya terhadap Andika bukannya berkurang karena mengetahui laki-laki itu sudah menikah malah semakin bertambah.
Dulu Aluna hanya sekedar kagum pada laki-laki itu, namun kini perasaannya berubah menjadi cinta.
Aluna kemudian beranjak dari tempat duduknya lalu masuk ke dalam ruang kerjanya, mencari-cari sesuatu di dalam laci meja kerjanya.
Hingga Aluna kemudian mengeluarkan sebuah album poto yang berisi poto-poto dirinya dan rekan kerjanya beberapa tahun yang lalu.
Dulu saat Andika baru saja mengambil alih sebagian perusahaan papanya, saat itulah awal pertama kali Aluna dan Andika Prasetya bertemu.
Mereka sangat mudah akrab, meskipun banyak desas desus yang mengatakan jika Andika adalah orang yang sangat dingin dan cuek pada perempuan namun bagi Aluna sebaliknya.
Andika selalu bersikap baik padanya, meskipun terkadang laki-laki itu tidak tahu caranya untuk memulai berkomunikasi dengan baik kepada lawan jenisnya.
__ADS_1
Namun, Aluna berhasil membuat Andika berbicara lebih banyak padanya.
Bahkan pernah suatu kali, saat ada acara makan malam di perusaahn milik orang tua Andika dan Aluna di undang di acara itu, entah bercanda atau tidak Andika mengutarakan sesuatu pada Alya yakni sebagai perempuan pertama yang membuat laki-laki itu merasa kagum.
Aluna masih ingat betul ucapan Andika pada malam itu.
"Suatu hati, kalau aku belum menikah di akhir usia 30an, maka aku akan segera menikahi perampuan sepertimu Aluna, kamu sangat mengagumkan. " Puji Andika waktu itu.
Sayangnya, saat itu Aluna hanya menganggap ucapan Andika hanya gurauan, apalagi saat ini laki-laki itu ternyata sudah menikah di awal usia 30an.
Komunikasi merekapun terputus setelah beberapa bulan kemudian Aluna pergi ke London untuk melanjutkan studynya tahun itu.
"Dasar pembohong, tapi aku tidak bisa melupakanmu Andika, oh Tuhan bagaiamana ini. " Pekik Aluna kembali histeris.
Aluna kembali terduduk lemas di kursi kerjanya, hingga tidak lama kemudian perempuan itu tertidur dalam posisi kepala yang berbaring di atas meja kerjanya sendiri.
###
Alea terbangun dan menyadari dirinya berbaring di atas sesuatu yang sangat empuk.
Perempuan itu bahkan bermimpi sesuatu yang aneh, Alea bermimpi dirinya dan Andika melakukan hubungan yang romantis.
"Aihsssshhh apa-apaan. " Pekik Alea menggeleng-gelengkan kepalanya yang masih terasa sedikit pusing. Namun sebuah pertanyaan kembali muncul dalam benaknya.
"Bukannya semalam aku tidur di dalam kamar mandi?. " Batin Alea.
Alea sontak menegakkan tubuhnya dan melemparkan selimut yang membalutnya.
"Heh, santai saja tidak ada apa-apa yang terjadi semalam. " Tegur suara Andika yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi sembari mengancingkan baju kaos polos yang memiliki kancing di dekat kerahnya.
__ADS_1
Alea mengernyitkan wajahnya melihat penampilan Andika yang sepertinya akan pergi berolahraga.
"Maksudmu? Kamu yang mindahin aku tadi malam kesini?. " Tanya Alea.
Andika mengangkat bahunya, Pura-pura tidak tahu apa-apa.
"Mana aku tau, pada saat terbangun tadi aku sudah mendakapimu tidur di sampingku, Jangan-jangan kamu lagi yang tidak sanggup tidur di dalam kamar mandi lalu tanpa sadar tidur di atas ranjangku, katakan saja sejujurnya Alea kamu juga menginginkanku bukan?. " Goda Andika, padahal jelas-jelas tadi malam laki-laki itu yang mengangkat Alea beroindah dari dalam kamar mandi.
"Issshhh menyebalkan!. " Pekik Alea, menggerutu kesal.
Andika terkekeh pelan mendengar istrinya itu kembali kesal.
"Mandi sana cepat, temani aku hari ini. " Perintah Andika kemudian.
"Menemanimu? Pergi kemana?. "
"Olahraga Alea, golf! Cepatlah mandi!. " Perintah Andika lagi kali ini nada suaranya naik.
Alea memutar bola matanya malas di tambah otaknya masih mencoba mencerna kenapa dirinya bisa tidur di atas ranjang dan bukannya di dalam kamar mandi.
"Nggak mau, aku nggak bisa main. " Ujar Alea jujur lagi pula ia sudah kapok menemani Andika semalam.
"Ayolah, nanti aku akan memberikan kamu uang tambahan. " Andika memberikan penawaran.
Tentu saja hal itu tidak akan Alea sia-siakan, matanya langsung berubah menjadi hijau.
"Ya udah aku mandi dulu. " Pekik Alea bersemangat, berlari masuk ke dalam kamar mandi melupakan rasa kekesalannya pada Andika atas inseiden semalam, bahkan tidak ingin peduli lagi dengan posisi tempat tidurnya yang berubah.
"Cih, dasar mata duitan, kalau sudah bahas uang saja langsung hijau matanya. " Cibir Andika.
__ADS_1
Bersambung...