
Alea dan Andika memperlihatkan senyuman terbaik mereka dan berjalan dengan cepat untuk menyapa kedua mempelai yang saat ini sudah duduk di atas pelaminan menyambut para tamu yang hadir di acara mereka.
###
Setelah mencoba untuk tetap bersikap ramah dan manis di depan banyak orang, tetap saja pada akhirnya Alea merasa sangat bosan.
Alalagi saat Andika lebih banyak berkomunikasi dengan orang-orang yang sama sekali Alea tidak kenali di acara pernikahan tersebut semakin membuat Alea ingin segera pulang dan merebahkan tubuhnya diatas kasur.
"Dika... Sssttt... Oi Dika... " Bisik Alea di telinga suaminya itu.
Andika yang sedang asyik mendengarkan pembicaraan orang-orang di sekitarnya itupun sontak menoleh ke arah Alea.
"Ada apa Alea, jangan minta pulang sekarang sutuasinya nggak pas. " Tegur Andika.
Mendengar hal itu, Alea menghela nafasnya, kesal.
"Ya udah kalau gitu, aku boleh nggak minum alkohol? 1 gelas aja plis, aku hampir mati karena bosan di tempat ini yah, yah, yah plisss. " Pinta Alea memelas.
"Alea, terakhir kali kamu mabuk, kamu mencium ku dengan sangat beringas, kamu mungkin tidak mengingatnya karena waktu itu kamu sangat mabuk, aku tidak akan membiarkanmu membuat kekacauan seperti itu di tempat ini. " Balas Andika, sewot.
Pipi Alea sontak merah padam, malu.
"Isssshh tidak usah di ungkit-ungkit, dasar menyebalkan. " Alea memalingkan wajahnya ke arah lain, mencoba untuk terlihat tenang namun di lubuk hatinya yang paling dalam Alea sedang merutuki Andika.
Di tengah kebosanan itu, tanpa sengaja mata Alea bertatapan dengan seseorang yang di kenalnya. Orang itu berdiri dengan malas sambil memandangi orang-orang di sekelilingnya.
Alea merasa memiliki nasib yang sama dengan orang itu, sama-sama malas dan bosan menghadiri acara ataupun pesta besar seperti ini. Seseorang itu juga sepertinya menyadari kehadiran Alea, nampak jelas dari raut wajahnya yang langsung berbinar saat mata mereka bertemu.
Alea kemudian melambaikan tangannya lalu dengan cepat beranjak menghampiri seseorang tersebut. Andika yang duduk di samping Alea bahkan tidak menyadari jika istrinya itu sudah tidak ada lagi di sampingnya.
__ADS_1
"Alea?. "
"Marvel? Kamu ada disini juga?. "
Seseorang itu ternyata Marvel, sungguh kebetulan mereka bisa bertemu lagi.
"Iya, kebetulan mempelai perempuan itu masih sepupuku. " Balas Marvel dengan senyuman khasnya.
"Wuah kebetulan banget, kalau aku kesini karena temenin Andika hadirin undangan. " Jelas Alea.
"Eh kita ngobrol di tempat lain aja yuk, nggak enak nanti kita diliatin banyak orang dan jadi bahan pembicaraan lagi, kamu nggak trauma sama poto-poto kita yang terserah kemarin itu?. "Tutur Amevel mengajak Alea pindah ke tempat yang lebih sepi.
"Trauma sih, ya udah yuk kita ngobrolnya disana aja, kayaknya nggak bakalan ada yang merhatiin. " Timpal Alea, menunjuk pintu keluar.
"Itumah pintu keluar Alea?. "
Marvel terkekeh pelan mendengarnya, Ia kemudian berinisiatif menarik tangan Alea dan meninggalkan ruangan tersebut.
"Ya udah yuk.... "
"Hayukkk... "
Alea dan Marvel kini duduk di atas ayunan yang berada pada taman dekat gedung resepsi pernikahan tersebut di adakan. Akhirnya Alea bisa bernafas lega setelah berhasil keluar dari kerumunan yang membuatnya bosan setengah mati itu.
"Huuuuuhhh haaaahhhh akhirnya bisa bernafas lega, di dalam tadi sumpek banget aku sampai-samoai nggak bisa nafas gara-gara nyium bau parfum orang-orang yang beragam, kepalaku pusing. " Ocehan Alea itu membuat Marvel kembali terkekeh pelan.
Tanpa mereka berdua sadari Andika di dalam sana kebingungan mendapati kursi di sampingnya sudah kosong.
"Kenapa pergi kalau nggak suka?. " Tanya Marvel kemudian.
__ADS_1
Alea nampak menghela nafasnya, berat.
"Kamukan tau sendiri aku udah nikah sama oebisnis otomatis aku mesti ngikutin suamiku kemanapun dia pergi, terutama di acara-acara kayak gini, nggak mungkin suamiku pergi sendirian, udah gitu liat nih gaunnya bikin aku susah gerak, mana lagi high heels ku tinggi banget. " Balas Alea nada suaranya tersengar lelah.
Marvel kembali terkekeh pelan mendengar ocehan perempuan itu.
"Tapi kamu cantik pake gaun itu. " Puji MarvelMarvel nada suaranya terdengar serius.
"Eh masa sih? Awas loh nanti kamu naksir lagi sama aku, hahaha. " Balas Alea, tertawa pelan.
"Hmm kalau aku nasir beneran gimana? Ada yang larang?. " Tanya Marvel yang seketika membuat tawa Alea berhenti dan memandang luruh ke wajah Marvel.
Alea mengernyjtkan kedua alisnya.
"Ya nggak bolehlah Vel, kamu ada-ada aja, hahahaha. " Balas Alea, tertawa canggung. Entah mengapa ia jadi merasa suasana di sekitarnya menjadi dingin.
"Kenapa? Karena kamu udah nikah?. " Tanya Marvel lagi.
Mendengar hal itu Alea menjadi panik sendiri.
"Yah bu-bukan soal itu juga Vel, kitakan udah temenan, masak iya di antara kita mesti ada perasaan yang lebih dari sekedar teman? Emang nggak boleh laki-laki sama perempuan sebatas temenan aja tanpa ada perasaan yang membuat hubungan pertemanan dia orang itu menjadi renggang? Aku nggak mau pertemanan kita jadi renggang Vel. " Jelas Alea, canggung.
Hening.
"Alea aku mau jujur sama kamu... "
Deg
Bersambung...
__ADS_1