Cinta Setelah Perjodohan

Cinta Setelah Perjodohan
Bagian 128 : Ngambek Setelah Bertengkar


__ADS_3

Namun laki-laki itu tidak mempercayainya dan malah berpikiran buruk tentang dirinya membuat Akea merasa dunianya dan dunia Andika benar-benar tidak dapat bersatu.


###


Hening, Andika hanya diam menatap nanar pada raut wajah Alea yang lesu.


Perempuan itu kemudian membalik tubuhnya lalu melepaskan high heels yang menopang tubuhnya kemudian melemparkan high heels tersebut dengan kasar ke sembarang arah.


Aleh benar-benar sudah sangat lelah dengan situasi ini.


"Aku mau pulang. " Ujar perempuan itu pelan sembari berjalan meninggalkan parkiran menuju ke jalan raya.


"Pulang kemana?. " Andika akhirnya mengeluarkan suaranya setelah cukup lama terdiam.


"Kemana aja, aku capek Andika!. " Balas Alea yang kini sudah berjalan meninggalkan Andika.


"Kamu mau pulang naik apa ALEA? TUNGGU! . " Teriak Andika mencoba mencegat Alea pergi.


"Naik taxilah, masak iya jalan kaki. "


Andika terus mengikuti langkah istrinya itu hinga ke jalan raya.


"Taxi disini susah Alea, ayo kita pulang bersama. " Ajak Andika mencoba mengalah.


Alea menggelengkan kepalanya, menolak tegas ajakan itu.


"Aku nggak butuh tumpangan dari kamu. " Balas Alea, ketus.


"Alea jangan keras kepala. " Seru Andika.


"Bodo amat Andika, aku nggak peduli. " Ujar perempuan itu berjalan semakin jauh dan tidak menghiraukan panggilan Andika yang berkali-kali menyerukan namanya.


"Ya Tuhan dasar keras kepala. " Gerutu Andika prustasi.

__ADS_1


###


Alea kembali ke kediaman Prasetya dengan langkah gontai, beruntung tidak sampai 1 kilo berjalan kaki tadi, ada taxi yang melewati dirinya dan disinilah ia sekarang, di depan pintu rumah mertuanya dengan Andika yang menunggunya dengan raut wajah khawatir.


Ternyata laki-laki itu sampai lebih dulu.


"Kenapa sampainya lama?. " Tegur laki-laki itu.


Alea tidak menghiraukannya dengan gerakan kasar Alea mendorong tubuh Andika menjauh dari pintu.


"Minggir aku capek dan mau tidur. " Perintah Alea, perempuan itu masuk ke dalam rumah dengan ekspresi kesal yang masih terlihat jelas dari raut wajahnya.


Beruntung mertuanya sedang berada di luar kota, jadi hanya ada mereka berdua di rumah tersebut. Sementara para pelayanan memiliki rumah sendiri di bagian belakang rumah utama yang Andika tempati bersama keluarganya ini.


Alea berjalan menaiki anak tangga menuju ke kamar suaminya, sedangkan Andika mengikutinya dari belakang dengan jarak aman, takut jika sewaktu-waktu Alea berbalik dan memberikan pukulan padanya.


Sesampainya di lantai atas Alea buru-buru masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya dengan kasar.


"Fiuh aman. " Gumam Andika, bersyukur dirinya tidak berada tepat di belakang Ales saat perempuan itu menutup pintu kamar dengan keras jika tidak mungkin daun pintu tersebut akan langsung menghantam wajah tampannya.


Klek


Suara pintu terbuka.


Andika ikut masuk ke dalam kamarnya dan mendapati Alea kini sudah masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya, dengan sabar Andika kemudian membersihkan tempat tidur dan berbaring di atasnya sambil menunggu istrinya itu selesai mandi.


30 menit kemudian Alea keluar dari ruang ganti dengan baju tidurnya, perempuan itu sama sekali tidak mengeluarkan sepatah katapun pada Andika.


"Alea... " Panggil Andika pelan. Akan tetapi, suaranya mungkin tidak terdengar oleh Alea yang kini sedang duduk di kursi rias, asyik menatap wajahnya di dalam kaca.


"Ekhem Alea... " Panggil Andika sekali lagi.


Kali ini suaranya pasti terdengar, terbukti Apea melirik sebentar ke arah laki-laki itu.

__ADS_1


Suasana kembali hening. Andika tidak berani membuka suaranya lagi melihat Alea yang sepertinya masih ngambek. Bagi Andika lebih baik saling diam seperti ini dari pada perempuan itu kabur lagi ke rumah orang tuanya.


Akan tetapi beberapa menit kemudian Andika semakin tidak sabar untuk mengeluarkan pertanyaan dari mulutnya saat melihat Alea mengambil bantal dan selimut dari dalam lemari lalu dengan santai perempuan itu berjalan ke sofa.


Andika mengertukan keningnya.


"Loh.. Loh.. Kamu mau tidur di sofa malam ini?. " Tanya Andika.


"Hmmm."


"Kenapa? Padahal aku sudah membersihkan tempat tidur. "


"Aku lagi nggak mood dekat-dekat sama kamu, aku mau puasa ngomong. " Balas Alea perempuan itu kini sudah berbaring dengan posisi menyamping, menghadap ke bagian dalam kursi.


Andika yang mendengar itu sontak turun dari atas ranjangnya lalu ikut berbaring di atas sofa, persis di belakang Alea, beruntung space sofanya masih cukup untuk menampung tubuhnya yang lebih besar dari pada tubuh Alea.


Andika dengan lembut memeluk tubuh Alea dan mengunci tubuh perempuan itu rapat-rapat ke dalam pekukannya.


"Andika, arghhh apa-apaan! minggir.... "Pekik Alea mencoba melepaskan dirinya.


"Nggak mau, aku mau tidur bareng kamu. " Balas Andika dengan senyuman jahil yang tersungging di bibir seksinya.


"Setelah apa yang kamu ucapin ke aku dan kamu masih mencoba bersikap nggak pernah terjadi apa-apa di antara kita? Udah sana aku nggak mau tidur bareng kamu lagi. " Ujar Alea, judes.


"Andikaaaaaaa." Teriak Alea.


"Katanya mau puasa ngomong?." Ejek Andika.


"Arrrghhhhh." Alea menggeram kesal di iringi pemadaman listrik yang secara otomatis membuat lampu di kamar tersebut mati saat Alea meneriakkan nama suaminya itu.


"Loh kok mati lampu?. " Pekik Alea.


Bersambung.. . .

__ADS_1


__ADS_2