
Tanpa menunggu jawaban dari seseorang yang di teleponnya itu, Alea memutuskan sambungannya.
###
Kembali ke kantor Andika yang saat ini, laki-laki itu sudah kembali ke ruangan kerjanya seorang diri, sementara Aluna kembali ke kantornya sendiri.
Andika mengernyitkan alisnya saat mendapati Alex sedang duduk santai di dalam ruangannya sambil memangku sesuatu.
"Alex itu apa yang ada di pangkuanmu?. " Tegur Andika.
Alex yang menyadari Andika sudah datang itupun langsung berdiri dan menyambut bosnya tersebut.
"Anu pak eh ini bingkisan. " Jelas Alex.
"Iya saya tau itu bingkisan, tapi kenapa kamu bawa kesini? Oh bingkisannya buat saya?. " Tanya Andika lagi, mulai mengerti.
Alex kemudian mengangguk lalu memberikan bingkisan yang berisi kue brownies itu ke tangan Andika.
"Ini isinya apa Lex? Kamu nggak usah capek-capek atau buang-buang uang buat beliin saya sesuatu, kamu tetap bakalan dapat bonus kok walaupun kamu nggak ngasih saya bingkisan kayak gini. " Oceh Andika, menyangka bingkisan tersebut pemberian dari Alex.
Sekertaris Andika itu segera menggelengkan kepalanya.
"Itu bukan dari saya pak. " Ujar Alex.
Andika yang kini berjalan ke tempat duduknya sembari membuka bingkisan tersebut kembali heran.
__ADS_1
"Terus dari siapa dong?. "
"Dari bu Alea pak. "
Andika seketika terperanjat menghentikan aktivitasnya lalu menatap Alex.
"Alea tadi kesini? Kenapa kamu ngak ngasih tau saya?. "
Alex nampak bingung ingin mengatakan apa.
"Ah eh anu pak, sebenarnya tadi saya udah mau ngasih tau tapi pas saya naik ke atap buat bu Aleanya juga ikut dan kami nggak sengaja ngeliat bapak sama bu... " Alex nampak tidak berani melanjutkan kata-katanya.
Andika nampak panik, ia kemudian meraih ponselnya dan mulai menghubungi ponsel Alea.
"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan silahkan... "
Alea mematikan teleponnya, sepertinya perempuan itu sengaja menbuat Andika gelisah. Apalagi Andika tahu betul Alea tidak suka kedekatannya dengan Aluna.
"Alea pasti tidak jadi menemuiku karena melihat Aluna, apa perempuan itu marah. " Gumam Andika, memandangi bingkisan pemberian Alea.
###
Sementara di taman yang berada tidak jauh dari rumah orang tua Alea. Marvel nampak terengah-engah setelah berlari.
Laki-laki itu segera datang saat mendapat panggilan telepon dari Alea yang menyirihnya untuk menemui perempuan itu di taman ini.
__ADS_1
Alea nampak asyik bermain ayunan yang berada di tengah-tengah taman tersebut. Marvel kemudian menghampirinya.
"Marvel.... " Alea terdengar menyerukan nama laki-laki itu, dengan sigap Marvel melebarkan kangkahnya agar segera sampai di hadapan Alea.
"Huuuh hahhh. " Marvel nampak terengah-engah.
Alea terkekeh melihat wajah Marvel yang di penuhi keringat.
"Kamu lari-larian yah?. " Tanya Alea.
Marvel hanya mengangguk, tidak sanggup mengeluarkan sepatah katapun.
"Ya udah duduk dulu gih. " Alea menunjuk ayunan di samojgnya, dengan oatuh Marvel mengikuti ucapan Alea.
"Aku lagi belajar bikin kue jadi tadi kayaknya aku masak banyak banget, sayangkan kalau nggak ada yang makan, aku sendiri nggak bisa ngabisin browniesnya sendirian makanya aku panggil kamu, sekalian nanti km aku mau traktir kamu makan. " Ujar Alea kemudian sembari memperlihatkan satu bingkisan berwarna pink yang sebenarnya bingkisan tersebut spesial untuk Andika.
Sementara bingkisan yang Alisa berikan pada Alex itu untuk para resepsionis yang berjaga di depan ruang kerja Andika. Alea sengaja memisahkan buatan tangannya dengan brownies buatan mama mertuanya.
"Wah mimpi apa aku semalam bisa dapat jackpot dia kali berturut-turut, btw ini nggak ada racunnya kan?. " Goda marvel yang membuat Alea seketika melotot padanya.
"Enak aja, aku udah cobain tau, kalau ada racunnya pasti aku nggak bakalan bisa sampai disini dan nggak bakalan bisa ketemu kamu tau. " Pekik Alea.
"Hahaha, ya kali aja kan... " Balas Marvel sembari memasukkan satu potongan kue brownies buatan Alea ke dalam mulutnya.
"Kalau ada juga, bukan kamu yang mau aku racun tapi orang lain. " Lirih Alea, memikirkan nama seseorang yang ingin di berinya racun, Andika.
__ADS_1
Bersambung...