Cinta Tak Terpisahkan

Cinta Tak Terpisahkan
Cinta Tak Terpisahkan 105


__ADS_3

Hubungan Naya dan Surya pun terjalin kembali, masih di bumbui dengan kecurigaan mendua hati antara Surya terhadap Naya.


Meski hanya lewat pesan untuk saling tanya kabar dan dua minggu sekali bertemu.


Surya pun masih menjalin hubungan dengan cewek lain yang usianya di bawah Surya dan juga dekat dengan beberapa SPG yang ada di tempat kerjanya.


Hingga datang masa 3 bulan kerja Naya di resto.


Sore hari di resto setelah selesai dengan priper, semua karyawan duduk di masing-masing meja, mengambil tempat nya sendiri untuk duduk, lalu pak Aziz menghampiri dan memberikan selembar kertas yang berisikan pertanyaan yang berhubungan dengan resto yang nantinya harus di jawab oleh Novi, Fifi, Nini, Naya, Eka, Elisa, Rion, Ipul, Angga, Heru, Tohir.


Sedangkan ka Tika tetap berada di belakang kasir, a Awan di tempat pengasapan, pak Aziz mengawasi.


"Aduh, aku deg degan nih.. kira-kira bisa jawabnya gak ya?" ucap Novi sambil menggosokkan gosokkan ke dua telapak tangannya.


"Bismilah, pasti bisa Nov." ucap Naya yang duduk di belakang Novi.


"Semuanya, perhatikan bapak ya. Lanjut tidak nya kontrak kerja kalian di resto, tergantung dari jawaban kalian atas pertanyaan yang ada dalam kertas tersebut." ucap pak Aziz memberi tahu.


"Kalian hanya di beri waktu 30 menit untuk menjawab dari 15 pertanyaan, terhitung dari sekarang, kalian boleh mulai untuk menjawab, jangan lupa di beri nama kalian di atas kertasnya." ucap pak Aziz lagi.


Naya dan yang lain pun mulai menjawab pertanyaan yang pada lembar kertas yang ada di hadapan kami.


"Bismilah, aku pasti bisa." batin Naya yang mulai menjawab pertanyaan yang ada.


"Aduh, aku gak tau jawabannya nih." gumam Elisa.


30 menit dari batas waktu yang di berikan oleh pak Aziz untuk menjawab pertanyaan pun berakhir.


Semuanya bangun dari duduknya lalu memberikan kertas yang kini menjadi penentu nasib kami di resto.


"Gimana? bisa jawabnya gak?" tanya pak Aziz melihat Novi, Eka, Naya dan juga Tika yang tengah berkerumun di depan kasir.


"Lumayan susah, pak" jawab Eka.


"Udah berasa kaya di sekolah dah pak, kaya lagi ulangan gitu, tegangnya sama." jelas Novi.


"Alhamdulillah, aku ke isi semua." jawab Naya.


"Aduuuuh, Eka ada yang gak ke jawab." jelas Eka.


"Terus, hasilnya kapan pak?" tanya Novi.


"Besok sekalian gajian, sekaligus hari terakhir buat yang gak di perpanjang kontrak kerjanya di resto." jelas pak Aziz.


"Emang kenapa gak di perpanjang aja si pak, kontrak kerjanya?" tanya Naya.


"Ini kemauannya pak Pangesta, mencari orang yang benar-benar mau kerja dan sejauh mana kalian mengenal resto." jelas pak Aziz.


Pak Aziz melihat customer yang memarkir mobilnya di depan resto.


"Ayo, siap kerja lagi!" seru pak Aziz.


"Semangat, pak!" seru yang lainnya.


"Aku aja yang maju ya!" ucap Novi mengajukan diri untuk maju melayani customer dengan buku menu yang sudah di tangan.


"Emang bener mao kemarin?" tanya Eka.


"Ko orang nya belom juga turun dari mobil ya, pak?" tanya Naya.

__ADS_1


"Lagi nyiapin duit kali Nay buat makan di resto." celetuk ka Tika.


Lama mobil yang tadi berhenti di depan resto tapi orang nya belum kunjung keluar dari dalam mobil, hingga Novi, Naya, Eka, pak Aziz dan ka Tika punya pemikiran sendiri-sendiri.


"Ayo tebak, orang nya jadi kemarin apa gak?" ucap Naya yang memberikan pertanyaan pada yang lain.


"Kalo kata aku, jadi." jawab Novi.


"Aku juga ikut jawaban ka Novi." jawab Eka.


"Kayanya ke macdonald dah." tebak ka Tika.


"Mungkin orang nya ketiduran." ucap pak Aziz.


"Gak ada yang bener." celetuk Naya.


Tidak lama, seorang pria yang berada di balik kemudi itu turun dari mobil seorang diri, lalu menutup pintunya kembali.


Orang itu berjalan ke bagasi mobil yang ada di belakang, lalu membuka bagasi mobilnya.


"Kira-kira itu orang ngambil apaan ya?" tanya Naya lagi sambil memperhatikan ke arah mobil.


"Ngambil duit kali Nay." jawab ka Tika.


Buk..


Suara bagasi mobil di tutup.


Tidak lama, orang itu menenteng 2 tas besar di tangannya seperti orang yang hendak pulang kampung, berjalan ke arah yang berlawanan dari resto, pria tersebut malah berjalan memasuki Loudry yang ada di depan resto.


"Ahahaha, tebakan kita gak ada yang bener." celetuk Eka sambil tertawa terpingkal-pingkal.


"Yeee, aku yang bener... jawabnya tadi." seru Naya.


"Amiiiin." ucap Naya.


Lalu pak Aziz memilih untuk duduk di bangku yang ada di dekat kasir.


"Wiiih, mulai ada razia nih." ucap pak Aziz yang melihat berita lewat layar hapenya.


"Razia apaan pak?" tanya Naya.


"Razia patuh jaya." jawab pak Aziz.


"Kalo gak punya SIM, kena razia ora tuh pak?" tanya Naya lagi.


"Ya pasti kena, Nay."


Waktu pun berputar, dari sore ke siang. Semua sibuk dengan resto. Hingga tidak terasa lelah mempercepat jalannya waktu, hingga tiba masa untuk pulang.


"Gimana, Nay?" tanya ayah yang duduk di atas motor saat Naya sudah berada di depan ayah.


"Cape yah, Apri tumben nih ikut." ucap Naya yang menowel dagu Apri.


"Kaka, es krim ka." rengek Apri yang minta di belikan ice cream.


"Kaka ora megang duit, Pri... pindah belakang yuk." Naya mengajak Apri untuk pindah duduknya di boncengan belakang.


Apri turun dari motor dengan di gendong Naya, lalu Naya mendudukkan Apri di tengah-tengah antara dirinya dan juga ayah.

__ADS_1


"Beli es krimnya, kapan ka?" tanya Apri yang mengadah kepalanya menatap Naya.


"Ya nanti kalo kaka punya uang, terus boleh beli ama bunda." jelas Naya.


Di jalan pulang, Naya teringat dengan perkataan pak Aziz jika lagi ada razia patuh jaya.


"Yaaah, kata bos Naya... lagi ada patuh jaya." ucap Naya saat motor sudah melaju memecah jalan.


"Bismillah Nay, disini mah jarang ada razia." jawab ayah enteng.


"Emang ayah gak mao buat SIM yah?"


"Buat mah mao, duit buat bayarnya yang ora ada Nay."


"Kaka... kalo razia itu, ngapain? tanya Apri dengan wajah polosnya.


"Kalo yang di tv tv mah kelengkapan kita berkendara, Pri." jawab Naya.


"Kita, lengkap gak?" tanya Apri.


"Gimana, yah? kita lengkap gak, yah?" tanya Naya pada ayah perihal kelengkapan berkendara.


"Ora." jawab ayah singkat.


"Eeet nih bocah, ngapa pada bahas razia si? ora tau apa, gua juga ketar-ketir ini, malah SIM juga gua ora ada." batin ayah.


"Tadi kamu gimana, Nay? bisa jawab pertanyaan dari bos kamu gak?" tanya ayah yang mengalihkan partanyaan Naya.


"Alhamdulillah bisa jawab yah, gampang ko soalnya yah." jawab Naya.


"Bagus, itu baru anak ayah." ucap ayah bangga.


Sampai di depan resto Bakmi Japos, hati ayah mulai dag dig dug tak karuan.


"Lah itu bocah ngapa puter balik ya? ini kan jalan satu arah." batin ayah yang melihat pemotor berbalik arah.


"Ada apaan tuh, yah? rame amad?" ucap Naya yang bertanya-tanya melihat banyak kendaraan yang meminggirkan motor.


...🌩️🌩️🌩️🌩️🌩️...


bersambung...


hayooooo, ada apan tuh di depan, ada yang muter balik motornya pula πŸ™„πŸ™„


terima kasih sudah mampir untuk membaca karya receh author 😊😊😊


mohon πŸ™πŸ»πŸ™πŸ» dukung karya receh author 😊 dengan cara ↩️


...like...


...komen...


...vote...


...⭐⭐⭐⭐⭐...


...🌹...


...β˜•...

__ADS_1


...β™₯️...


...🌸🌸🌸 salam manis 🌸🌸🌸...


__ADS_2