
Wajah lelah jelas terpancar dari setiap wajah karyawan dapur bebek, belum lagi pulang di jam yang lewat dari kata jam 11 malam, kali ini tidak banyak brifing yang di lakukan pak Aziz, kecuali semangat untuk hari esok.
Setelah selesai berdoa, pak Aziz pun menyampaikan kata terahir sebelum pulang, "Jangan lupa untuk istirahat ya, anak-anak.. besok kita ketemu lagi," ujar pak Aziz. "Dengan ini bapak akhiri aktivitas kita di dapur bebek, selamat bertemu lagi hari esok."
Yang lain pun bubar, seperti Rion yang pulang dengan menaiki motor metiknya. Ipul, Tohir dan Angga yang berjalan kaki karena rumah mereka yang tidak terlalu jauh dari resto dapur bebek berada, belum lagi karena belum punya kendaraan sendiri.
Sedangkan Heru pulang dengan membonceng Elsa yang memang sepupu dan rumah mereka yang berdekatan
Sedangkan Nini sudah di jemput ayah di depan londry yang berada di depan stand dapur bebek.
Naya dan Eka berjalan bersama menuju pangkalan ojek, untuk menghampiri orang yang menjemput.
Naya melihat ayah yang sedang berdiri di samping motor tengah mengobrol dengan pria yang usianya tidak jauh beda dari ayah.
"Kamu udah di jemput, Eka?" tanya Naya yang berjalan di belakang Eka.
"Udah ka Naya." ucap Eka.
"Ayah lagi ngobrol sama siapa ya? tukang ojek kali ya?" batin Naya.
"Ayo pak, pulang." ucap Eka saat sudah berdiri di dekat pria yang sedang berbicara dengan ayah Adi.
"Ayo, Ka." ucap si pria yang ternyata bapak dari Eka.
"Ayah udah lama nunggu?" tanya Naya saat mencium punggung tangan kanan ayah.
"Lumayan lama." jawab ayah.
"Jadi ini anak kamu ya Adi?" tanya bapak Eka.
"Ehehehe, iya ini anak aku." ucap ayah dengan gayanya menjawab pertanyaan bapak Eka sengan cengengesan.
"Ternyata anak kita kerja di tempat yang sama ya, Adi." seru bapaknya Eka.
"Iya bener." kata ayah.
Ayah Eka pun menaiki motornya beserta Eka yang duduk di belakang, menyalakan mesin motornya sambil berkata, "Aku duluan ya, Adi!" pamit bapaknya Eka pada ayah.
"Oh iya, hati-hati." seru ayah.
Ayah Adi pun menaiki motornya dan menyalakan mesin motornya, "Ayo Nay, naik." ajak ayah yang melihat Naya masih berdiri di tempatnya.
"Lah ayah gak muter dulu?" tanya Naya.
"Ya naek bae Nay, sekalian muter tar." jawab ayah.
Naya pun duduk di boncengan belakang.
Saat di jalan menuju rumah, Naya menyempatkan melihat ponselnya di saku baju.
"Kok Surya beneran gak kirim pesan ya? Tau gitu napa juga pacaran sama dia, kalo ujungnya mah kaya gini." keluh Naya yang tidak di dengar ayah.
Melihat tidak ada pesan yang masuk dari Surya, Naya pun menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku baju.
"Yaaah." panggil Naya dengan suara yang agak sedikit kencang biar di dengar ayah yang sedang mengendarai motor.
"Ngapa?" tanya ayah balik.
"Tadi itu kok ayah kenal sama bapaknya Eka?" tanya Naya ingin tahu.
"Lah ya kenal, itu dulu teman ayah waktu masih jait di pondok belimbing." seru ayah.
"Teman jait doang yah?" tanya Naya.
"Ahahaha, teman ngelancong Nay. Waktu ayah lagi ngedeketin bunda, ayah pernah ngajak bang Sabar buat nemenin ayah ke rumah bunda." ujar ayah mengenang masa lalu dengan bapaknya Eka.
"Namanya bang Sabar ya yah?"
__ADS_1
"Iya, bang Sabar." jawab ayah, "Tau gak Nay, dulu tuh ayah juga suka nonton dangdut sama bang Sabar." ujar ayah lagi.
"Dangdut dimana yah?"
"Ya dimana aja Nay, cari tontonan. Oh iya Nay... kamu jadi beliin Apri sepedah roda tiga?" tanya ayah.
"Jadi, yah."
"Tapi kamu jadi beli hp baru Nay?"
"Kaga jadi yah, hp yang dari ayah juga masih bagus kok, masih berfungsi dengan baik." ujar Naya.
"Katanya kamu mau ponsel yang ada kamera sama ada lagunya Nay?" tanya ayah.
"Iya bulan depan aja yah, masih belum terlalu butuh." ujar Naya, "Yaaah, beli mertabak.. bisa kali yah." ucap Naya.
"Ya kamu tanya bunda dulu Nay." usul ayah.
"Yah, tadi tuh Naya di kasih duit segepok sama pak Aziz, Naya suruh tuh pak Aziz buat pegang uang Naya dulu.. lah masa pak Aziz gak mau yah.. buat pegang uang Naya dulu gitu." seru Naya.
"Ya kan itu gaji kamu Nay, takut lupa kali.. jadi gak mau pegang uang kamu."
"Gitu ya yah."
"Oh iya Nay, pacar kamu gimana kabarnya tuh? udah lama gak kerumah ya, kayaknya mah." tanya ayah.
"Lagi ke laut yah, di telen hiu." jawab Naya sekenanya.
"Huus, kamu tuh kalo ngomong. Lagi marahan ya Nay?" tanya ayah kepo.
"Dia yang bilang putus sih yah, bilang Naya ini itu lah." jawab Naya dengan tampang kesel dan cemberut.
"Mungkin Surya lagi kecantol SPG kali Nay?" tanya ayah.
"Yeee, mana Naya tau. Sebodo lah sama Surya." ujar Naya.
Sampai di rumah...
"Assalamualaikum." seru Naya dari balik pintu yang tertutup.
"Waalaikum salam." jawab bunda dari dalam rumah.
Kreeeek... pintu di buka bunda.
"Bunda belum tidur?" tanya Naya saat sudah mencium punggung tangan kanan bunda.
"Bunda gak bisa tidur, mau nampanin duit segepok." ujar bunda.
"Ya au bun.." jawab Naya.
Naya pun masuk ke dalam rumah di ikuti bunda dari belakang.
"Amin gitu Nay, kalo bunda bilang duit segepok." omel bunda.
"Iya amiiiin bun." ujar Naya.
"Wiiih, tumben Ani.. belom tidur?" tanya Naya saat melihat Ani yang tengah menonton televisi di kamar sambil berbaring.
"Nungguin kaka pulang." ujar Ani.
Naya melepas tas dan juga kerudung yang ia kenakan.
"Nay, ayo Nay.. sini setoran sama bunda." ledek bunda yang sudah duduk manis di atas kasur dengan kaki di ayun-ayunkan.
"Ehehehe, Naya lupa bun." ujar Naya.
Naya menyerahkan uang beserta slip gaji yang tadi di terimanya dari pak Aziz, sambil berkata, "Ini bun, gajian Naya bulan ini."
__ADS_1
"Bunda ambil ya Nay?" tanya bunda dan melihat angka nominal yang tertera pada kertas slip gaji.
"Jadi gak Nay?" tanya ayah yang sudah berdiri di depan pintu kamar Naya.
"Jadi yah, tar dulu." jawab Naya.
"Alhamdulillah, gajian pertama kamu ini Nay di resto." seru bunda saat sudah menghitung jumlah gaji Naya.
"Iya bun, gak nyangka Naya udah gajian aja, banyak lagi ya bun." seru Naya.
"Tapi kok, ini jumlahnya kurang Nay?" tanya bunda.
"Hehehe, tadi Naya jajanin es krim cone bun." jawab Naya.
"Dih, makan es krim cone gak ngajak-ngajak." seru Ani dengan cemberut.
"Lah orang kaka belinya juga sore, bisa cair nunggu ampe pulang mah." ujar Naya.
"Bun? ayah gak di bagi bun? kan ayah yang jemput Naya pulang kerja." ledek ayah.
"Ayah, nih bunda jatahin." ucap bunda sambil menyerahkan uang kertas berwarna ungu alias sepuluh ribu rupiah pada ayah.
"Ya Allah bun, gede amat ini?" ledek ayah dan meletakkan selembar uang kertas dari bunda di kening ayah.
"Ayah mah jangan pegang uang banyak-banyak, kalo bunda tuh boleh pegang uang banyak. hahay deh." ujar bunda.
"Bun, beli mertabak enak nih bun." ujar Naya mengutarakan isi hatinya.
"Nih kalo kamu mau beli mertabak." ucap bunda sambil menyerahkan uang lima puluh ribu rupiah.
"Mertabak apaan ya bun?" tanya Naya.
"Coklat ka." ucap Naya.
Tiba-tiba Apri sudah berdiri di belakang ayah, sambil berkata, "Keju aja ka." dengan mengucek kedua matanya.
"Laaah gantengnya bunda udah bangun aja nih." seru bunda seraya mendudukkan Apri di pangkuannya.
"Mau mertabak bun." seru Apri.
"Ayo, tar keburu malam nih." ajak ayah sambil berjalan meninggalkan kamar Naya.
"Sapa kata siang sih yah." ujar Naya yang berjalan di belakang ayah.
"Beli mertabak keju sama coklat Nay." seru bunda.
"Beres bun.." seru Naya.
πΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ
bersambung.....
terima kasih sudah mampir untuk membaca karya receh author πππ
mohon ππ»ππ»ππ»ππ» dukung karya receh author πππππ dengan cara β©οΈ
β’β’β’β’β’> π like
β’β’β’β’β’> βοΈ komen
β’β’β’β’> βββββ
β’β’β’β’β’> vote
β’β’β’β’β’> ππΉβ
β’β’β’β’β’>β₯οΈ favorit biar gak ketinggalan cerita'nya πππ
__ADS_1
πΊπΊπΊπΊ salam manis πΊπΊπΊπΊ