
"Gak ada, honey... aku cuma nganterin kamu doang... gak ada nganterin cewek laen." Surya mengusapkan tangannya ke bagian pinggang yang di cubit Naya.
"Awas aja kalo kamu bohong." oceh Naya.
"Kalo aku bohong, mau di cium sama kamu ya, honey?" ledek Surya namun serius.
"Itu mau nya kamu!" Naya mengerucutkan bibir nya sebel.
"Ya aku gak bohong, honey, cinta ku, manis ku, sayang ku, hidup aku." oceh Suryamengeluarkan jurus rayuan maut 🤣🤣🤣.
Lu kaga tau bae Nay, masa iya sih gw ngaku lagi deket sama SPG kan gak mungkin hihihi. batin Surya.
Setelah mengantar kan Naya sampai rumah, Surya langsung mendudukkan dirinya di lantai sambil berselonjor kaki.
"Aku ambilin minum dulu ya!" seru Naya.
"Iya."
Naya mengambil kan minum untuk Surya, lalu masuk ke dalam rumah untuk berganti baju dengan pakaian rumahan, tidak jauh dari kaos lengan pendek dan celana pendek selutut alias kolor.
Bunda yang sedang tiduran di kasur nya menatap Naya lalu bertanya, "Surya masih di depan, Nay?" tanya bunda saat melihat Naya yang hendak ke luar.
"Iya, masih bun."
"Jangan malam malam, Nay." sindiran bunda secara halus meminta Surya untuk tidak terlalu lama di rumah nya.
"Iya, bunda... Naya ke luar dulu ya, mao nemenin Surya."
"Iya." jawab bunda.
Ternyata ucapan bunda di dengar oleh Surya, jelas denger... orang bunda ngomongnya rada kenceng.
"Kata bunda apa, honey?" tanya Surya.
"Gak kok, cuma ngasih tau jangan malam malam." ucap Naya.
"Ya elah, baru juga nyampe... udah di suruh pulang bae gw." celetuk Surya dengan wajah masam.
"Gak ada yang nyuruh kamu pulang, yank... kan bunda cuma ngingetin." Naya menangkap sikap Surya yang seolah marah dengan perkataan bunda, terlihat jelas dari cara Surya berkata di tambah lagi raut wajah Surya berubah masam bak orang yang habis makan belimbing wuluh, asem kecut.
Surya mengeluarkan sebatang rokok dari jaket yang ia kenakan dan mematik kan nya dengan korek gas.
"Kamu gak laper, yank? aku laper ini." cicit Naya.
"Aku gak laper." ketus Surya, masih bisa mikir laper, gw kesel sama bunda lu... udah tau gw baru nyampe udah langsung di suruh pulang, gw tau tanpa bunda lu ngomong juga. batin Surya ngedumel dengan sesekali menghisap batang rokok yang ada di tangannya.
Bibir boleh berkata gak laper, tapi perut Surya gak bisa di ajak kompromi 🤣🤣🤣.
Kruuk kruuk kruuwwek.
"Hihihi kamu laper ya, honey?" Naya terkekeh mendengar suara keroncongan dari perut Surya, udah berontak itu minta di isi.
Sialllll, ini perut pake bunyi lagi... gak tau apa gw lagi ngambek. batin Surya mengumpat.
"Kita beli bakso yu, yank!" Naya mengajak Surya beli bakso dengan mata di kedip kedip kan, senyum merekah, kedua alis yang di main kan naik turun.
Astaghfirullah hal azim, gimana gw mao kesel apa lagi marah, si Naya tampang mukanya malah bikin gw jadi pengen ketawa... ya ampun lu ngapa konyol gini si Nay? cewek siapa si lu? teriakan batin Surya.
"Udah, jangan masang muka kaya gitu lagi!" Surya meraup wajah Naya dengan telapak tangan kiri nya dengan suara dingin nya, berpura pura tidak terpengaruh dengan sikap Naya, pada hal mah ketawa geli itu
__ADS_1
"Yeeee, udah gak marah lagi." sorak Naya dengan bertepuk tangan.
Surya mengambil kunci motor yang ia letakkan di samping kiri nya lalu berdiri.
"Ayok, katanya mao bakso." Surya mengulurkan tangan kiri nya ke Naya.
"Maooo." beo Naya, "Tapi aku bilang bunda dulu ya, yank?" ucap Naya yang di balas anggukan kepala dari Surya.
Setelah mendapat izin dari bunda, akhirnya Naya dan Surya pergi membeli bakso.
"Gak usah pake motor, yank.. beli yang di depan warung aja." cicit Naya sambil berpegangan tangan.
"Enak gak, bakso nya?"
"Enak dong, udah murah, banyak lagi."
"Emang berapaan seporsi?"
"Kamu mau beli goceng juga di kasih."
Surya membola, antara percaya dan tidak... jaman sekarang masih dapet bakso seporsi goceng bisa kenyang.
"Gak percaya kan?" tanya Naya yang di balas gelengan kepala Surya.
"Makanya liet dulu."
Surya melihat warung yang tengah ramai dengan anak muda.
"Itu warung emang biasa rame?" tanya Surya.
Surya menatap tidak suka ke arah para anak muda yang sedang berkumpul di warung, ada yang sambil ngemil jajanan, ada pula yang makan bakso, ada beberapa yang makan mie ayam.
"Kita makan di rumah kan, bakso nya?" tanya Surya memastikan.
"Iya makan di rumah." Naya merasa kan Surya semakin erat menggenggam tangan nya, "Mau beli berapa porsi, yank?" tanya Naya mengalihkan perhatian nya.
"Yang belom tidur di rumah siapa aja?" Surya bertanya balik.
"Bunda, ayah sama Ani."
"Ya udah beli 5 porsi."
"Oke, kamu di campur gak?"
"Iya campur."
"Abang, bakso dong." oceh Naya saat sudah berdiri di samping gerobak kang bakso langganan nya.
"Bungkus apa makan di sini, neng?" tanya kang bakso.
"Bungkus aja, bang... 5 porsi ya."
"Beres, campur semua?"
"Yang 1 gak pake mi kuning ya bang, mi putih nya aja."
"Beres." kang bakso mulai melakukan aksinya, menyiapkan plastik bening yang di dasari mangkuk bergambar ayam jago.
Memasukkan setiap komponen mulai dari mie kuning, mie putih, toge, penyedap rasa, garam, bawang goreng, "Ini saus sama sambel mau di campur apa di pisah?" tanya kang bakso.
__ADS_1
"Pisah aja, bang."
Surya terus menatap jengah ke anak muda yang berkumpul, menurut sejauh mata Surya memandang, di antara mereka memperhatikan setiap tingkah Naya, entah apa yang Surya rasa, namun genggaman tangan nya tidak pernah ia lepas dari Naya.
"Udah pulang, Nay?" tanya bang Anis, pria muda yang berkulit putih tinggi.
"Iya, bang."
"Pacar nya Naya ya, bang?" tanya bang Idir yang pernah berpapasan dengan Naya dan Surya saat pulang dari taman marga satwa.
"Iya, bang." jawab Surya singkat.
"Wiiih Naya, diem diem udah punya pacar... ajak ngaji apa Nay si abang kalo malam jumat di mushola." ujar bang Soni, ketua ikrima di mushola.
"Hehehe, kerja bang... nanti kalo sempet di usahain." ucap Surya dengan seramah mungkin.
Sedangkan Dava menatap nanar ke arah Naya dan Surya, apa lagi saat ke dua matanya tertuju pada Surya yang menggenggam tangan Naya.
Kamu di sentuh orang Nay, biar pun cuma pegangan tangan. batin Dava.
Saat kang bakso akan mengikat bungkusan terakhir, Surya menghentikan nya, "Bang, yang itu di tambahin aja jadi 8 rebu." oceh Surya.
"Beres, bang."
Surya membayar semua bakso yang sudah jadi, dan Naya yang membawanya.
"Duluan, bang." pamit Naya.
"Iya, Nay." seru beberapa anak muda.
"Kamu kaya nya deket banget sama mereka." sarkas Surya.
"Biasa aja, yank."
"Aku gak suka ya, liet kamu deket deket sama mereka, apa lagi yang namanya bang Anis." cicit Surya.
"Kenapa?"
"Iya gak suka aja... sok perhatian."
"Wajar lah perhatian, kan aku sama bang Anis masih sodaraan."
"Tetep aja aku gak suka... laen kali kalo kamu beli apa apa ada mereka itu, mending gak usah, cari warung laen aja."
"Iya." singkat buat Naya cukup jawab iya, dari pada di sanggah bakal lebih panjang urusan nya.
"Denger gak?" ucap Surya dengan nada yang agak tinggi.
"Iya aku denger." ucap Naya, Surya lagi ngapa si? ampe segitu nya.
"Inget ya, honey... aku gak suka kamu deket apa lagi nyapa duluan itu cowok."
"Iya tapi kan kamu dengar sendiri, bukan aku yang nyapa duluan." udah kaya apaan tau si ini surya... nyeselin lu. batin Naya.
Bersambung...
...💖💖💖💖💖...
Jangan lupa dukung author dengan like dan komen 😊😊
__ADS_1
Salam manis 😊