
...🌷🌷🌷...
"Aku tahu loh kalo kamu lagi bohong, udah apa jujur aja sama aku! Kamu kenapa, aku janji gak bakal marah sama kamu, asal kamu jujur sama aku, honey!" Seru Surya yang masih belum menyerah dalam membujuk ku.
Halah, gw tau banget lagu lu Sur, sekarang mah iya lu ngaku kaga marah marah sama gw, tapi entar ujung ujungnya.
"Heeeet ya, di kata aku ora ngapa ngapa juga. Ada juga lu tuh yank, lagi ngapa coba lu yank?" Tanya ku nyolot tapi gak pake urat.
"Aku mah gak kenapa napa, honey. Ada juga kamu honey, kamu itu kaya lagi ada yang di sembunyiin dari aku, aku bisa baca pikiran kamu loh! Mending kamu ngaku aja, honey!"
Ah masa bisa baca pikiran tapi ko masih banyak tanya, weeek gue ora bisa lu tipu Surya. Aku menjulurkan lidah ku di belakang kepala Surya, kesel bener si andenya. Yang bohong mulu kan lu, ngapa jadi gua si.
Aku melingkarkan ke dua tangan ku di pinggangnya, dagu ku bersandar di bahu Surya, ku tatap kilometer pada motor hilang fokus ku, heemmm kalo kaya gini mah keburu megar mie putih gw, "Bisa cepet dikit gak yank bawa motornya, aku laper banget ini!"
Surya menghela nafas, "Pake ngalihin pembicaraan lagi lu, honey!"
Mata ku menatap bungkusan bakso yang nyantel di motor, "Siapa juga yang ngalihin pembicaraan, kalo kamu bawa motornya pelan, mie putih aku keburu megar kelamaan berenang di kuah bakso."
"Segitu khawatirnya kamu sama mie putih yang ada di bakso? Aku aja gak kamu khawatirin." Celetuk Surya.
"Emang kamu kenapa?" Tanya ku polos.
"Hati aku berenang ke lamaan di dasar hati kamu." Celetuk Surya dengan rayuan gombalnya.
"Iya ya! Ampe bawaannya pengen selingkuh mulu ya?" Balas ku.
"Au menan honey, gak ada romantisnya ini mah kamu!"
"Sebodo lah, aku laper."
Akhirnya Surya memacu motornya dengan lebih cepat.
Ku panggil Surya mesra, "Yaaaaank!"
Surya menjawab dengan jutek, "Apa?"
"Kamu serius gak pacaran sama aku, yank?" Entah kenapa bibir ini lancar bertanya padanya.
"Ya aku serius lah. Kalo gak serius mah udah lama kita putus."
"Putus nyambung, yank!"
"Iya, putus nyambung."
Tak ada lagi pertanyaan dari ku mau pun obrolan di antara kita, saling diam dan Surya juga fokus pada jalan hingga motor terparkir di depan rumah nenek Fatimah.
__ADS_1
Aku membawa kantong plastik yang berisi bakso dan mie ayam, aku jalan ke rumah nenek dan Surya langsung jalan ke teras rumah ku.
Aku berjongkok di depan bunda yang sedang menonton tivi di rumah nenek Fatimah.
"Lama amat lu belinya, Nay?" Tanya bunda.
"Iya dong, kan belinya jauh." Terang ku, ku keluarkan bungkusan plastik bakso jatah nenek dan bunda.
"Ya elah pake jauh jauh amat belinya, emang yang di depan perempatan kaga ada?" Tanya bunda, "Lah ini yang atu lagi punya siapa, Nay?" Tanya bunda.
"Punya nenek lah."
"Gua juga di beliin, Nay?" Tanya nenek yang ke luar muncul dari dapur.
"Iya nenek di beliin." Ujar ku sambil mengeluarkan bungkusan plastik kecil yang berisi saus dan sambal.
"Lu mao makan di mana, Nay?" Tanya bunda.
"Makan di rumah, udah ya ... Surya nungguin onoh." Aku bangkit dan berjalan meninggalkan rumah nenek Fatimah.
Bunda menyuruh nenek untuk mengambil mangkuk di dapur, "Emak, ambil mangkoknya kek emak."
"Bujuk busettt, ora salah lu Im? Ada juga lu yang ngambil mangkok, masa lu nyuruh gua?"
"Tua duluan lu, Im!" Nenek Fatimah ngedumel namun tetap mengambilkan mangkuk dari dapur.
Depan teras rumah.
"Lama amat, honey!" Tegur Surya.
Aku taruh bungkusan plastik di depannya, "Iya, maaf."
Aku langsung masuk ke dalam rumah, ku ambil mangkuk dua dan sendok 2, botol minuman dingin 1, tanpa gelas biar romantis minum dari botol yang sama.
Aku makan berdua di teras rumah, Surya makan mie ayam bakso dan aku makan bakso.
"Aaaa." Ku arahkan sendok yang berisi potongan bakso ke depan mulut Surya.
Surya pun langsung menyambarnya dengan mulutnya.
"Enak ga?" Tanya ku.
"Enak." Di jawab singkat Surya.
"Kamu mah kaga romantis, gantian kek gitu suapin aku!" Sungut ku yang merasa Surya gak peka, orang mah bales kek gitu suapin aku pake mie ayam kamu, aku kan juga pengen nyobain mie ayam punya kamu.
__ADS_1
"Kamu mau cobain mie ayam punya aku, honey?" Tanya Surya.
"Kaga." Bibir ku berkata tidak.
Melihat Surya yang tampak acuh dengan lahapnya memakan mie ayamnya membuat ku sulit menelan saliva ku, pengen hiks hiks hiks, bibir ku mengerucut ke depan.
Tanpa aku tahu, Surya mencuri pandang pada ku, Astaga Naya, jangan runtuhkan iman ku dengan bibir mu yang mengerucut, minta gw cium lu ya?
"Kamu tar gak usah kerja dulu, honey!" Ujar Surya yang sudah menghabiskan mie ayam bakso di mangkuknya.
"Heem."
"Masih sakit gak itu luka kamu?"
"Em em." Aku menggelengkan kepala ku.
"Kamu sakit gigi, honey?"
"Em em." Aku gelengkan kepala ku lagi, males ngomong sama cowok gak peka, mood ku tiba tiba ancur.
Gigi ku pun gemerutuk karena aku mengunyahnya dengan kasar.
Naya kenapa jadi aneh gini sih? Tadi biasa aja, sekarang malah gini. Kaya lagi kesel gitu.
"Kamu kenapa sih?" Tanya Surya pada akhirnya.
"Kamu gak peka." Jawab ku jutek.
"Aku?" Surya menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuknya, "Emang aku gak peka kenapa sama kamu, honey?"
"Gak jadi, di omongin juga percuma."
Surya menyalakan korek dan menyalakan putung rokoknya, "Aneh kamu mah, honey!" Sambil sesekali menyesapp rokoknya.
"Bodoooo."
"Aku pulang nih kalo kamu ngambek!" Ancam Surya.
"Bilang aja kamu mau ke rumah selingkuhan kamu!"
Bersambung...
Jangan lupa jempolnya ya ðŸ¤ðŸ¤
Komen mu merubah popularitas ku 😊
__ADS_1