Cinta Tak Terpisahkan

Cinta Tak Terpisahkan
Cinta Tak Terpisahkan 29


__ADS_3

Beberapa hari kemudian..


Siang hari di rumah Naya..


Saat pagi sampai siang, sudah biasa jika di rumah hanya ada Naya, Bunda dan juga Apri. Jam satu siang baru tambah personil yaitu Ani yang sudah pulang dari sekolah.


Naya menghampiri Apri yang sedang menonton acara kartun dari layar televisi. Sedangkan Bunda sedang berada di dapur, untuk membuatkan Apri telor mata sapi.


"Apri... tebak kaka bawa apa ini, Pri?" pinta ku pada Apri sambil menyembunyikan kedua tangan ku di belakang badanku.


"Apa ka? telor ya ka? Apri mau." seru Apri, dengan suara cadelnya.


"Yeeeeh,, kalo telor mah itu sama Bunda lagi di masakin." ujar Naya.


"Apa kaka, Apri mau liet."


"Apa yaaaa, tara....." seru Naya sambil memperlihatkan benda yang ia bawa.


Naya mengeluarkan krayon, buku gambar dan pensil.


"Mau kaka." kata Apri dengan bersemangat.


Naya memberikan krayon, buku gambar beserta pensil pada Apri. Dengan senyum merekah dan mata berbinar, ketiga benda tersebut langsung berpindah ke tangan Apri.


Apri langsung menaruh pemberian Naya ke lantai dan langsung berdiri. Naya yang sudah duduk di buat bingung dengan sikap Apri.


"Kenapa? Apri gak suka?" tanya ku dengan wajah bingung.


"Suka.... banget. Makasih kaka Nay." Apri memeluk Naya dan memberikan kecupan di pipi Naya karena saking senangnya.


"Apri, telornya mau di kasih kecap apa engga?" suara Bunda dari dapur yang menggema di dalam rumah.


Mendengar suara Bunda, Apri melepas pelukannya dari Naya.


Membawa buku gambar, krayon dan pensil yang tadi di berikan Naya ke dalam pelukannya dan membawanya lari ke arah dapur, tempat dimana saat ini Bunda berada.


"Bunda... Bunda... Apri punya ini." suara Apri terdengar riang di telinga Naya saat berbicara dengan Bunda di dapur.


Tidak berapa lama Apri kembali bersama dengan Bunda yang sedang membawa piring yang berisi telur mata sapi untuk Apri.


Bunda menyuapkan nasi dan telur mata sapi ke dalam mulut mungil Apri.


"Itu gambar apa, Pri?" tanya Naya yang melihat hasil gambar Apri.


"Ini telor buatan, Bunda." kata Apri sambil menunjuk gambar.


Ting..


Notifikasi yang berasal dari handphone Naya.


πŸ’Œ Surya


Lagi ngapain yank?


πŸ’Œ Naya


Nonton televisi sama bunda, Apri.


Kamu lagi ngapain?


πŸ’Œ Surya


Lagi di jalan.


πŸ’Œ Naya


Mau kemana? Emang gak kerja?


πŸ’Œ Surya


Mau tau ajah apa mau tahu banget?

__ADS_1


πŸ’Œ Naya


Gak mau tahu banget.


πŸ’Œ Surya


Ooooh, ya udah kalo gak mau tahu mah.


Nyebelin banget si nih anak. Bilang aja kalo gak mau kasih tau. Batin Naya.


"Siapa, Nay?" tanya Bunda.


"Surya,, Bun." ucap ku ketus.


"Dih, kamu kenapa Nay? Lagi berantem ya?"


"Bete, gak berantem juga sih."


"Lah terus kenapa muka kamu kaya cucian gak di gosok?" tanya Bunda lagi.


"Itu Bun......"


"Assalamualaikum,," suara Surya dari luar rumah.


"Waalaikum salam." ucap Naya dan Bunda berbarengan.


"Sana gih temuin dulu." kata Bunda.


Naya pun langsung berjalan ke arah suara Surya yang berada di luar rumah.


Kreeeeeek ( pintu di buka ).


"Tumben gak bilang kalo mau kesini?" tanya Naya saat melihat Surya yang sedang berdiri membelakangi Naya.


"Emang harus gitu, aku bilang dulu?" dengan dinginnya Surya berucap, dan menghadap ke arah Naya.


"Nyebelin."


"Apa sih kamu." Naya langsung duduk di teras yang langsung di ikuti oleh Surya yang juga ikut duduk.


"Bunda ada di rumah, Naya?"


"Ada dong." ucap Bunda sambil memunculkan kepalanya dari belakang pintu.


"Bunda jangan gitu iiiiiih, kaya anak kecil." keluh Naya melihat tingkah Bunda.


"Ah kamu, Nay." ucap Bunda.


"Emmmm, Bun. Surya izin mau ajak Naya ke Bintaro Plaza boleh gak?" pinta Surya to the poin.


"Bunda di ajak gak?" tanya Bunda.


"Kalo Bunda mau, ayo ajah." kata Surya.


"Bunda di rumah aja sama Apri." kata Bunda.


"Mau jalan kapan, Surya?" tanya Bunda.


"Sekarang, Bun, Mumpung masih jam 10 pagi." kata Surya.


"Ya udah gih, sana kamu siap-siap, Nay." ucap Bunda.


Naya pun langsung masuk ke dalam rumah dan tidak menunggu waktu lama sudah keluar lagi dengan rambut di kuncir kuda.


"Naya jalan dulu, Bun." ucap Naya sambil mencuim punggung tangan kanan Bundanya.


"Iya, hati-hati ya kalian." ucap Bunda saat Surya mencium punggung tangan kanan Bunda.


"Beres, Bun." kata Surya.


******

__ADS_1


"Kamu gak apa-apa, Nay?" tanya Surya saat di jalan.


"Gak apa-apa gimana?" tanya ku bingung.


"Jalan kaki." kata Surya singkat.


"Ya gak apa-apa lah. Emang kenapa kalo jalan kaki?" tanyaku.


" Orang-orang tuh ya, kalo jalan- jalan apa lagi sama pacar, pasti maunya naek motor." kata Surya menerangkan maksud perkataannya.


"Lah itu kan orang lain, bukan aku."


"Kamu gak malu, jalan kaki?" tanya Surya lagi.


"Tuh liet, mereka juga jalan kaki." ucapku sambil menunjuk ke arah orang yang juga sedang berjalan kaki.


"Yeee, kamu tuh."


Dalam perjalanan menuju Bintaro Plaza, untuk mencapai ke jalan raya memang Naya dan Surya harus berjalan kaki terlebih dahulu.


Coba aja, kamu pake celana levis dan kaos yang agak ketat dikit, Nay. Udah pasti aku genggam tangan kamu, Nay. Kenapa coba, kamu harus pake celana bahan potongan cut bray dan apa itu? baju yang kamu kenakan juga kegedean, aduh aduh. Batin Surya.


"Kamu kenapa, yank?" tanya ku saat melihat Surya beberapa kali menggelangkan kepalanya.


"Ah gak ko, gak apa-apa. Kalo jalan itu lietnya ke depan. Nanti kalo kamu kesandung, gimana?" ucap Surya.


"Kan ada, kamu." ucapku riang.


Lah kalo lu yang kesandung, gue yang malu. Udah penampilan lu malu-maluin, tambah malu gwe klo lu ampe kesandung. Batin Surya.


Naya dan Surya pun sampai di Gapura Menteng. Lalu menunggu angkot yang akan membawanya ke Bintaro Plaza.


Tidak menunggu waktu lama, angkot yang akan membawa mereka ke Bintaro Plaza pun lewat dan berhenti tepat di depan Surya dan Naya yang sedang berdiri di pinggir jalan. Naya dan Surya pun langsung menaiki angkot tersebut.


Sebenarnya Surya kenapa ya? Aku ngerasa aneh, seperti bukan Surya yang sudah aku kenal. Batin Naya.


"Kiri, bang." ucap Surya saat angkot yang di tumpangi sudah sampai di depan Bintaro Plaza.


Surya dan Naya langsung turun dari angkot dan Surya langsung membayarkan sejumlah uang kepada sopir angkot tersebut. Setelah menerima uang dari Surya, sopir angkot itu melajukan mobilnya lagi.


Surya menggenggam tangan kanan Naya saat akan menyebrang jalan. Saat sudah sampai di area parkir Bintaro Plaza, Surya pun langsung melepaskan genggaman tangannya dari tangan Naya.


Untuk sesaat Naya melupakan perubahan sikap pada diri Surya, baginya bisa berjalan berdua dengan Surya sudah membuat hatinya senang, meski harus jalan kaki. Di saat orang lain jalan bersama sang pacar dengan sepedah motornya, tapi Naya di ajak jalan kaki dan naik angkot, sudah seneeeeng bukan kepalang.


Masih dengan sikap yang sama, tanpa ada genggaman tangan.


Naya dan Surya memasuki toko-toko yang menurutnya menarik. Mulai dari Gramedia yang memang Naya suka membaca buku Novel.


Hanya sekedar baca-baca yaa reader ☺️


Masuk lagi ke toko aksesoris. Setelah 2 kali keluar dari toko aksesoris tanpa membeli apa pun. Di toko yang ke 3, Surya dan Naya keluar dari toko aksesoris dengan membeli sebuah jepit rambut berwarna dasar hitam dengan tampilan bunga ungu yang terbuat dari pita.


Cantik deh pokoknya di mata Naya, jelas cantik. Pilihan ayang embeb. ☺️


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


bersambung...


terima kasih sudah mampir untuk membaca karya receh author 😊😊😊


mohon πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ» dukung karya receh author 😊😊😊 dengan cara ↩️


πŸ‘ like


✍️ komentar


β™₯️ tambah ke favorit


vote


⭐⭐⭐⭐⭐

__ADS_1


__ADS_2