
πππ
Di resto, malam harinya pukul 9 malam.
Naya, Ayu, Tohir, Angga dan juga pak Aziz yang kini berjibaku dengan ramainya resto, saling mengisi di saat depan butuh bantuan untuk sekedar mengantarkan pesenan ke meja customer.
Seperti tahu jika resto sedang membutuhkan bala bantuan, pak Pangesta dan bu Leni yang sedang berada di pusat jajanan sektor 9 pun meluangkan waktunya untuk mampir di resto dapur bebek.
"Waduuuuh, asep kenapa gak ada yang jaga ini?" ucap pak Pangesta saat berjalan melewati tempat pengasapan.
Bu Leni yang melihat Angga tengah berada di dapur, sedang berkutat dengan wajan dan sesekali berbalik badan untuk menata lalapan di atas piring.
"Rame, Ga?" tanya pak Pangesta yang lantas memilih duduk di meja keramat.
"Lumayan, pak." jawab Angga.
Bu Leni langsung melihat catatan yang menempel pada belakang ciler.
"Udah, Ga... fokus ke bebek, biar ibu yang cetakin nasinya." ucap bu Leni yang langsung berdiri di depan mejikon, mulai mencetak nasi dan menaruhnya di atas piring.
Tohir kembali dengan menaruh nampan di atas meja panjang melihat bu Leni yang berada di dapur, Tohir langsung mempercepat langkahnya ke arah dapur.
Naya juga kembali dengan membawa catatan berisi orderan baru.
Naya langsung berjalan ke arah dapur, melihat pak Pangesta sudah duduk di meja keramat membuat hatinya dag dig dig di landa grogi takut berbuat kesalahan di tambah lagi resto ramai.
"Orderan baru meja nomor 14, bebek goreng 1 ekor potong 4, nasi 4, es teh manis 4, cumi tepung 1 porsi." ucap Naya yang langsung menempel kertas order di belakang ciler.
"Eeeet dah, pake ada cumi tepung lagi, udah tau lagi kurang orang, lu mah Nay." batin Angga.
Angga langsung memasukkan 1 ekor bebek ke dalam penggorengan berisi minyak goreng panas.
Lalu meletakkan 4 gelas kosong ke atas meja, bu Leni mengisinya dengan es batu, lalu Angga menuangkan air teh dan juga air gula ke dalam gelas.
Tohir membuat cumi tepung.
"Es teh manis meja nomor 14." ucap Angga sambil meletakkan ke 4 gelas ke atas nampan.
"Nay, minta bil meja 10." ucap pak Aziz.
Naya membuatkan bil.
"Nay, ini tolong di bungkusin ya!" ucap Ayu.
"Taro situ dulu Yu, anter minumnya dulu gih." ucap pak Aziz.
Ayu menaruh piring berisi tulang di atas meja panjang, dekat tempat sendok dan garpu.
Lalu Ayu mengantar es teh manis ke meja nomor 14.
Sementara Ayu mengantarkan es teh manis.
Naya menyerahkan kertas bil pada pak Aziz yang berdiri di sisi kiri mesin kasir.
"Pak, ini langsung di bungkus pake kantong plastik apa pake kerdus pak?" tanya Naya meminta pendapat atasan nya.
"Udah, pake kantong plastik aja langsung Nay." ujar pak Aziz yang langsung mengantarkan bil ke meja customer.
Naya membawa piring berisi tulang ke depan nampan yang terdapat beberapa kantong plastik dengan ukuran berbeda, tulang pun hendak di masukkan ke dalam kantong plastik.
Sementara itu di dapur.
__ADS_1
Entag dan ayam goreng sudah matang lalu di angkat dan di letakkan di atas tampah kayu oleh Angga, untuk di tiriskan terlebih dahulu minyaknya.
Angga menaruh entog ke piring yang sudah berdiri nasi dan juga lalap.
"Ini dulu Nay." ucap bu Leni menyodorkan 2 piring yang sudah berisi entog dan juga ayam goreng, nasi dan lalapan.
Naya menaruh bungkusan tulang terlebih dahulu ke dekat nampan yang berisi mangkok sambal.
"Ini, entog apa bebek dah?" tanya Naya yang masih bingung dengan bebek dan entog.
"Entog ada, Nay." ucap Angga.
Naya menaruh piring sambal di atasnya lalu melihat catatan yang ada pada belakang ciler, untuk melihat ini pesenan meja nomor berapa.
Sementara itu di depan.
"Mbak." panggil customer Ayu yang berada di meja 6.
"Iya, bu... sebentar." jawab Ayu sambil menoleh ke meja nomor 6.
"Yu, meja 3 ya... entog goreng dada, ini ayam goreng." ucap Naya menaruh nya di atas nampan.
"Nay, udah belom? udah di tanyain noh ama yang punya." ujar Ayu mengingatkan tulang yang di bungkus, lalu mengantarkan pesenan ke meja nomor 3.
Sementara Ayu mengantarkan pesenan, Naya mengantar kan bungkusan tulang bebek ke meja nomor 6 dengan menggunakan nampan.
Bu Leni ke luar dari dapur dan memilih duduk di meja yang berada di belakang papan panjang.
Pak Aziz yang sudah menyerahkan bil pada customer nya langsung kembali ke depan kasir, mendapati pak Pangesta tengah duduk di meja keramat, pak Aziz pun menghampiri owner nya dan duduk berhadapan dengan pak Pangesta.
"Asap kenapa itu gak ada orangnya?" tanya pak Pangesta meminta penjelasan dari Aziz.
"Ada pak, itu Tohir." jawab Aziz.
"Libur, bu... lagi pulang kampung." jawab Aziz.
"Kalo Tika, kemana ini?" tanya pak Pangesta.
"Tika ada di kosan, pak... tadi masuk pagi." ucap Aziz.
"Kalo resto ke teter, ambil anak pagi buat lembur." ujar pak Pangesta.
"Iya, pak." jawab Aziz yang tidak mau berdebat dengan owner nya.
"Maaf ya ka, lama." ucap Naya sambil meletakkan kantong plastik ke atas meja.
"Iya gak apa-apa mbak, tumben karyawan nya sedikit?"
"Iya ka, sekarang di bagi dua... ada yang siang sama sore... saya tinggal ya ka!" ucap Naya yang tidak enak meninggalkan kasir lama-lama.
"Bil nya ya, mbak." ucak kaka customer.
"Iya ka, di tunggu." ucap Naya yang langsung jalan ke kasir.
"Meja 14 nih ya, cumi tepung." Tohir menaruh piring berisi cumi tepung ke atas nampan.
Ayu yang sudah berdiri di depan kasir langsung mengantarkan nya ke meja nomor 14.
Naya langsung berdiri di belakang mesin kasir dan membuatkan bil untuk meja nomor 6.
"Meja berapa tuh, Nay?" tanya Ayu sambil menaruh nampan kosong di meja panjang.
__ADS_1
"Meja nomor 6, Yu." Naya meletak'kan kertas bil ke tangan Ayu yang sedang menanti lertas bil.
"Oke lah, kalo gitu." ucap Ayu yang meski lelah bolak balik tapi tetap semangat, dari pada sepi buat ngantuk kalo kata Ayu mah.
Pak Aziz, bu Leni dan juga pak Pangesta hanya diam melihat aktivitas anak buahnya yang tanpa di arahkan sudah tahu harus berbuat apa.
"Terima kasih ibu, atas kunjungannya." ucap Naya saat customer nya pergi meninggalkan resto.
Dengan membawa nampan, kain lap dan juga semprotan air, Naya berjalan ke arah meja yang sudah di tinggal pulang oleh customer nya.
Naya langsung menaruh gelas dan juga piring kotor ke atas nampan.
"Gua, yang bawa ya!" ucap Ayu yang langsung membawa pergi nampan yang berisi piring dan gelas kotor.
Naya mengelap meja.
Pak Pangesta bangun dari duduknya, Ayo bu, kita pulang." ajak pak Pangesta.
"Iya, iya pulang." jawab bu Leni yang ikut bangun dari duduknya.
Pak Pangesta jalan lewat depan resto, saat melewati Naya yang sedang mengelap meja, "Kerja yang rajin!" ucap pak Pangesta.
"Iya, pak." jawab Naya.
"Hati-hati ya!" ucap bu Leni.
"Iya, bu." ucap Naya.
"Akhirnya pak Pangesta ama bu Leni pulang juga." batin Naya.
"Untung aja, tadi bisa ke hendel ya!" ucap Angga yang berada di dapur bersama dengan Tohir.
"Tegang gua, ngeliet mukanya pak Pangesta." ujar Tohir.
"Emangnya lu doang, ka Tohir... gua juga sama." timpal Eka.
Naya membawa semprotan air dan juga kain lap ke meja panjang, berdiri lagi di depan berjaga-jaga jika ada customer yang memanggilnya.
"Bapak ke belakang dulu, Nay." pamit pak Aziz yang akan berjalan kaki untuk mengecek stand yang lainnya.
Naya mengecek layar handphonenya, kali aja dapet pesan dari Surya.
...πΉπΉπΉπΉπΉπΉ...
bersambung...
Kira-kira ada pesen masuk gak ya dari Surya??
terima kasih sudah mampir untuk membaca karya receh author ππ
mohon ππ»ππ» dukung karya receh author ππ dengan cara β©οΈ
...like...
...komen...
...vote...
...favorit'in novel ane...
...πΉ yang di nanti...
__ADS_1
...β yang di tunggu...
...πΊπΊπΊsalam manisπΊπΊπΊ...