Cinta Tak Terpisahkan

Cinta Tak Terpisahkan
Cinta Tak Terpisahkan 42


__ADS_3

"Bun, Naya berangkat dulu ya!" pamit Naya, sebelum berangkat kerja.


Naya mencium punggung tangan kanan bunda.


"Iya, hati-hati."


Seperti biasa, panas terik matahari menemani sepanjang perjalanan Naya menuju cikini untuk menaiki angkot yang akan membawanya sampai ke sektor 9, tempat Naya bekerja.


Saat Naya, berpapasan dengan mbak penjual jamu yang biasa lewat depan rumah saat pagi hari.


"Baru berangkat, Nay?" sapa mbak penjual jamu.


"Iya, mbak... mbak lagi keliling?" tanya Naya balik.


"Iya nih, neng. Kalo jam segini ya sekitar kompleks." ujar si mbak.


"Ya udah kalo gitu, Naya duluan yq mbak." pamit Naya.


"Iyo, mbak juga nih mau keliling lagi toh yo."


Sampai di perempatan kompleks, ada seorang bapak gendut dan kepala botak. Bapak itu melambatkan laju motornya di samping Naya mengikuti langkah kaki Naya.


"Mau bareng gak, neng?" tawar si bapak.


"Gak pak, makasih." tolak Naya.


"Udah yuk... gak apa-apa, bareng aja sama bapak."


"Udah bapak ajah duluan, aku di tunggu di depan sama temen."


"Ya udah, bapak duluan." si bapak botak melajukan motornya dengan kenceng.


"Kaga kenal maksa, heet ya tuh orang. Bagen kenal juga. Ogah dah mending juga jalan kaki. Sehat tau gak." gerutu Naya, selepas kepergian si bapak botak.


Sampai di Cikini, Naya menyebrang jalan dan menunggu angkot. Yang di tunggu tiba. Naya duduk di bangku penumpang.


"Tumben nih angkot, kaga ada yang pergi napa ya? aku doang yang naek ama pak supir." batin Naya.


Di dalam angkot, Naya memperhatikan handphone yang sedang ia genggam. Pikiran nya melayang jauh, memikirkan keinginannya namun belum berani di utarakan pada bunda.


Naya sungguh ingin membeli handphone yang ada kamera dan bisa buat mendengar mp3, gak jauh-jauh dan gak usah mahal. Seken pun jadi buat Naya. Karena Naya bukan tipe anak yang mau ini itu, harus ada.


Sejak lulus sekolah SMK, niat hati ingin kuliah. Tapi apa lah daya, Naya yang memaklumi keuangan bunda dan ayah, lebih memilih bekerja mencari uang untuk keluarga.

__ADS_1


Selama Naya belum berkeluarga, Naya selalu di tekankan bila gajian, semua uang akan di serahkan pada bunda. Hal itu pun berlaku untuk Ani dan juga Apri nantinya. Bagi bunda, Naya belum bisa mengatur keuangannya sendiri, hingga keuangan di atur oleh bunda. Jika Naya ingin membeli barang yang di mau, harus minta pendapat bunda. Bila bermanfaat untuk Naya, bunda tidak akan melarang.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Malam itu suasana resto sangat lah ramai. Di tambah lagi stand yang di sebelah baru menurunkan beberapa meja dan bangku plastik, kemungkinan tidak lama lagi, stand akan di buka. Entah resto apa nantinya yang akan menyewa tempat itu.


Semua tengah sibuk dengan aktivitasnya, ada Nini dan Fifi yang sedang membagi tugas dalam membersihkan sebuah meja. Nini membawa gelas dan piring kotor serta tissue bekas di pakai oleh customer ke atas nampan yang sebelumnya ia bawa. Sedangkan Fifi dengan sigap langsung menyemprotkan meja dengan semprotan yang ia bawa lalu mengelap dengan kain lap.


Ka Tika jangan di tanya, masih sibuk dengan kasir dan mengawasi ipul yang tengah membuat cumi tepung sambil sesekali memperhatikan bebek dan ayam yang tengah berenang di dalam minyak panas, sedangkan Rion menata lalapan selada, timun, tomat, kol di atas piring.


Angga, sedang di sibukkan dengan beberapa pesanan jus. Angga menuang jus strawberry yang sudah jadi ke dalam gelas yang sudah di siapkan sebelumnya. Lalu membilas blender dengan air dari keran dan menaruh kembali blender pada tempatnya.


Dengan cekatan Angga meraih plastik yang berisi buah alpukat dengan ukuran yang sudah pas dan menggunting ujung plastik dengan gunting lalu menuangkannya ke dalam blender serta menambahkan air sesuai takaran, menambahkan simple syrup serta es batu yang sudah di hancurkan. Setelah selesai Angga menuangkan alpukat yang sudah di blender ke dalam gelas yang sudah di beri susu coklat.


"Ka, jus strawberry dan alpukat...ready ya." kata Angga, lalu meletakkan jus strawberry dan alpukat ke meja panjang.


Ka Tika mengecek meja berapa yang memesan jus dan...


"Angga, ini flot ya." seru ka Tika sambil menyodorkan gelas berisi jus alpukat pada Angga agar di beri tambahan flot.


"Sip ka." jawab Angga.


Angga langsung meraih gelas berisi jus alpukat dari tangan ka Tika dan meletakkan di atas meja yang ada di dapur. Lalu Angga beralih membuka freezer yang ada di dapur dan mengambil ember yang berisi ice krim. Setelah itu Angga membuka tutup ember dan mengambil ice krim dengan skop ice krim dan menuangkan nya ke atas jus alpukat.


"Alpukat flot, jadi ka." ujar Angga, lalu menyodorkan kembali pada kan Tika.


"Beres ka." ujar Elsa.


Elsa membawa nampan yang berisi dua gelas jus dengan rasa yang berbeda ke meja yang sama.


"Ka, dua bebek goreng dada dan 1 ayam goreng paha peserta nasi... ready." kata Rion, sambil meletakkan tiga buah piring berisi nasi dan ayam serta bebek dan ayam goreng.


Ka Tika mengecek lagi meja berapa yang memesan lalu meletakkan di atas nampan.


"Meja 11, ya." ucap ka Tika.


Aku yang sedang berdiri di depan meja kasir langsung menghampiri nampan yang berisi seporsi bebek goreng dada dan seporsi ayam goreng paha.


Aku mengantarnya ke meja nomor sebelas.


Lalu ka Tika menaruh lagi seporsi bebek goreng dada ke atas nampan sambil berkata, "Meja 6, ready."


Novi yang berada di samping papan putih panjang berjalan menghampiri meja kasir dan membawa nampan yang berisi seporsi bebek goreng dada ke meja nomor 6.

__ADS_1


Hingga jam menunjukkan pukul setengah sebelas, sesuai intruksi dari pak Aziz dan bu Rani, kami mulai priper. Mulai mengumpulkan semua botol kecap yang ada di atas meja ke atas sebuah nampan. Dan semua nomor meja beserta tempat tusuk gigi ke atas 1 nampan. Lalu menyusun tempat tissue ke dalam 3 naman agar tidak menumpuk tinggi.


Aku pun membantu ka Tika di dapur mencuci lap yang kotor di westafel.


"Ka, bu Rani kenapa dah?" tanya ku kepo.


"Pandangan kamu, gamana Nay?" tanya ka Tika.


"Kurang akur sama pak Aziz, ya ka?"


"Hehehe, ya gitu Nay."


"Aku kapan libur ya, ka?"


"Abis kamu gajian, minta aja libur. Tapi jangan libur di hari sabtu atau pun minggu ya." ujar ka Tika.


"Emang ngapa ka?" tanya Naya dengan polosnya.


"Kan itu hari rame, Naya." jelas ka Tika. "Nay, biar kata kamu di depan. Kamu pelajarin juga ya tuh isi setiap bebek goreng dada ada berapa dalam setiap pack, kamu juga ingetin setiap takaran buat bikin jus." ujar ka Tika lagi.


"Buat apaan, ka?"


"Itu nanti di perluin, Nay. Udah kamu ikutin kata kaka ajah."


Kami pun mulai berdoa bersama untuk mengakhiri kegiatan di resto.


"Yah... kira-kira Naya boleh gak minta di beliin handphone yang ada kamera sama bisa buat dengerin musik dari handphone?" tanya Naya saat di perjalanan pulang.


"Coba aja kamu bilang sama, bunda." ujar ayah.


Kira-kira Naya boleh gak yah beli handphone baru ?


terima kasih sudah mampir untuk membaca karya receh author 😊😊


mohon πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ» dukung karya receh author 😊😊😊 dengan cara ↩️


\=\=\=\=> πŸ‘ like


\=\=\=\=> ✍️ komen


\=\=\=> ⭐⭐⭐⭐⭐


\=\=\=\=> 🎁🌹kalo berkenan

__ADS_1


\=\=\=> β™₯️ favorit biar gak ketinggalan cerita'nya 😊😊


salam manis πŸ€—πŸ€—


__ADS_2