Cinta Tak Terpisahkan

Cinta Tak Terpisahkan
Cinta Tak Terpisahkan 77


__ADS_3

Dengan dahi yang masih menyandar, aku pun meraih ponsel yang sejak tadi ada di dalam saku baju.


"Roman-romannya, anak ayah cape bener nih?" selidik ayah, yang masih fokus dengan mengendarai motor giginya.


"Cape juga, ngantuk juga yah." jawab Naya.


Lalu membuka kotak masuk dan melihat pesan.


0896222***


Kamu udah pulang?


Naya


Lagi di jalan


0896222***


Langsung pulang ya yank


Naya


Iya lah


0896222***


Di jemput siapa?


Naya


Ayah aku


0896222***


Hati-hati yank.


Naya


Kamu juga hati-hati


0896222***


Jangan lupa kabarin kalo udah nyampe


Naya lalu menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku baju.


"Nay!!" panggil ayah.


"Ngapa, yah?"


"Dih kamu mah, ayah dari tadi nanya ga di sautin." ucap ayah.


"Emang ayah, nanya apaan?"


"Itu si Fifi ora kerja? tadi ayah mao jemput kamu.. ayah lier Fifi lagi sama cowok mao kemana kali mah." adu ayah.


"Fifi hari ini libur kerja, yah.. mungkin Fifi jalan-jalan sama cowoknya yah." ujar Naya.


"Kamu jalan-jalan ke tempat temen kamu naek apa Nay?"


"Naek sendal, yah." jawab Naya sekenanya.


"Heeet ni bocah kalo di tanya ya!"


"Lah kapan bener yah, naek apa pan ya? ya Naya jawab sendal."


"Naya jalan kaki ke pondok jati nya?" jelas ayah, yang mengira Naya tidak mengerti maksud pertanyaan ayah.


"Iya, pake sendal ayah.. kan Surya ora ada motor.. mobil angkot juga kapan jam 4 udah ora lewat yah." jelas Naya.


"Kirain kamu ora ngerti omongan ayah Nay, hahahaha." ledek ayah sambil tertawa renyah.


"Au menan."


"Pake motor ayah nih, kalo Surya mao." usul ayah.


"Gak usah lah yah, mending jalan kaki.. romantis gitu hahaha." balas Naya yang terkesan meledek dirinya sendiri.


"Surya, bapaknya kerja apa Nay?"


"Ora tau yah."


"Kalo ibunya Nay?"


"Ora tau juga, masih punya apa gak ya?" bukannya menjawab pertanyaan ayah, Naya malah balik bertanya.


"Eeet ya lu Nay, gimana si.. pacaran tapi ora tau apa-apa tentang keluarganya." mulai deh, ayah hrran dengan kelakuan Naya yang satu ini.

__ADS_1


"Ngapa lagi si yah?"


"Ora."


"Lagi ayah, pernah gak bawa bunda jalan-jalan gitu?"


"Ah, ngajak bunda kamu kah susah.. abis nikah tuh, ayah pernah ngajak bunda kamu nonton layar tancep."


"Iiih itu mah Naya inget, yang deket rumah Novi pan yah? nonton layar tancepnya?"


"Itu mah kamu udah gede, kayanya kamu SD kelas berapa gitu."


"Kalo lagi pacaran, ayah ngapain aja sama bunda?" tanya Naya.


"Ya ngapain Nay, ngobrol." ayah menghentikan laju motornya di depan tukang bakso.


"Bereni disini yah?" tanya Naya yang belum juga turun dari motor.


"Mao bakso ora?" tanya ayah.


Naya pun menoleh ke arah tukang bakso, lalu turun dari motor.


"Mao yah." jawab Naya.


"Nih, kamu beli 2 gih." ucap ayah sembari menyerahkan uang sepuluh ribu dari hasil ngojek tadi.


Naya pun memesan bakso langganannya yang terlihat ada 1 orang lagi mengantri bakso juga.


Tiba giliran Naya, "Baksonya berapa bungkus nih neng?" tanya si abang bakso.


"2 ya bang." ucap Naya sambil menyerahkan uang sepuluh ribu, uang pemberian dari ayah.


"Beres." jawab si abang bakso yang mengambil uang Naya lalu menyimpannya di saku celana, "Jam segini baru pulang gawe, neng?" tanya si abang bakso sambil meracik bakso pesenan Naya.


"Iya, bang."


"Kerja di mana neng?"


"Sek'bil bang."


"Apaan tuh?" tanya si abang bakso yang tidak mengerti.


"Sektor sembilan, bang."


"Kerja di tempat apaan neng?" tanya abang bakso yang mulai kepo.


"Lestoran bang."


"Di pisah aja bang."


Si abang balso pun memisahkan sambal di plastik yang lain.


"Ini neng, makasih ya." ucap si abang bakso sambil menyodorkan bungkusan bakso.


"Iya, bang." ucap Naya saat bungkusan bakso sudah berpindah tangan ke tangan Naya.


Setelah bungkusan bakso sudah di tangan, aku pun langsung menghampiri ayah. Sudah terbayang bagaimana enaknya ini bakso, udah perut laper, ngantuk jadi seger dengan pedesanya kuah bakso.


"Ayo yah, pulang." ucap ku saat sudah duduk di boncengan motor.


Sambil mengangkat tangan kanannya ayah berkata, "Sini bakso nya."


"Buat apaan yah?"


"Taro di cantelan depan, ora pegel itu tangan megangin bungkusan bakso?"


Aku pun menyerahkan bungkusan bakso pada ayah.


Ayah menyalakan mesin motornya kembali.


Saat melewati saung, lagi ramai rupanya. Anak-anak muda di tempat tinggal ku sedang berkumpul rupanya. Entah apa yang mereka bahas. Ada om Nata juga di sana.


"Widiiiih, lagi ngumpul nih!" seru ayah saat menghentikan sejenak motornya untuk menyapa.


"Iya bang, biasa anak muda." ucap bang Anis, anak pak ustad.


"Rapat bang, rapat." ucap lagi bang Jain.


Sambil mengarahkan bungkusan rokok pada ayah, bang Roup berkata, "Rokok bang, rokok."


"Iya udah, lanjut dah lanjut hehehe." ayah langsung melakukan motornya lagi sampai di depan rumah.


Naya turun dari motor.


"Assalamualaikum, bunda." ucap Naya sambil duduk di teras sambil membuka sepatu dan kaos kaki.


Tadi masih ada pantulan cahaya dari layar televisi, tapi gak ada sahutan dari bunda, pintu juga belum terbuka. Kira-kira bunda kemana ya? batin Naya.

__ADS_1


Tin tin


Ayah membunyikan klakson motornya, kali aja bunda denger.


Naya menghampiri pintu, dengan tangan kiri menenteng sepasang sepatu yang tadi Naya kenakan.


Tok tok tok


"Bunda." ucap Naya sambil mengetuk pintu.


Dreet dreet


Getar pesan masuk di ponsel Naya.


"Ah paling juga si Surya.. cuekin dulu lah." batin Naya.


Tok tok tok


"Bundaaaa, Naya pulang nih." ucap Naya lagi sambil mengetuk pintu sambil menempelkan pipi kirinya ke pintu.


"Eet ya, melas amat itu anak ayah." ledek ayah yang melihat tingkah Naya.


"Iya, duluuu." suara teriakan bunda dari dalam rumah.


"Bunda ngapain daaaah?"


Ceklek, suara kunci pintu di pitar.


Naya pun langsung menjauhkan pipinya dari pintu.


Kreeeeek...


Pintu di buka, menampilkan sosok bunda yang sedang mengelus perutnya.


"Ngapa bun?" tanya Naya sambil mencium punggung tangan kanan bunda.


"Perut bunda mules."


Naya masuk ke dalam rumah menyimpan sepatu di dapur, sekalian membawa 2 mangkok dari rak piring dan juga 2 sendok dan 1 garpu.


"Mao ngapain kamu bawa mangkok, Nay?" tanya bunda saat melihat Naya masuk ke dalam kamarnya dengan membawa mangkok.


Naya meletak'kan tas di atas kasur, sambil membangunkan Ani yang sudah tidur, "Ni, bangun Ni.. makam bakso Ni."


"Ani ngantuk ah, gak mao." jawab Ani.


"Ya udah, kaka abisin.. kita makan bakso, bun." Naya duduk di lantai kamar dan meletak'kan mangkok di depan ia duduk. Sedangkan bunda duduk di atas kasur.


"Kamu, beli bakso Nay? duit dari mana Nay?" taya bunda heran, secara Naya buat jajan aja masih minta duit sama bunda.


"Naya yang beli, pake duit ayah."


"Ayah kamu, punya duit Nay?" lagi-lagi bunda di buat heran dengan jawaban Naya.


Ayah membawa bungkusan bakso dan menyerahkannya pada Naya sambil berkata, "Punya lah."


"Bagus ya, punya duit tapi aya ora di bagi." omel bunda.


"Duit ceban doang, mao bagi pagimana?" tanya ayah yang sudah ikut duduk di lantai, menanti bakso.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


bersambung...


terima kasih sudah mampir untuk membaca karya receh author 😊😊


mohon πŸ™πŸ»πŸ™πŸ» dukung karya receh author 😊😊😊 dengan cara ↩️


...πŸ‘ like...


...β€’...


...✍🏻 komen...


...β€’...


...⭐⭐⭐⭐⭐...


...β€’...


...vote...


...β€’...


...πŸŽβ˜•πŸŒΉ...


...β€’...

__ADS_1


...β™₯️...


🌺🌺🌺🌺 salam manis 🌺🌺🌺🌺


__ADS_2