Cinta Tak Terpisahkan

Cinta Tak Terpisahkan
Cinta Tak Terpisahkan 43


__ADS_3

"Assalamualaikum, bun... buka nih Naya pulang." ucap Naya sambil mengetuk pintu.


Sedangkan ayah, masih menaiki motornya dan bersiap untuk memasukkan motor ke dalam rumah.


Kreeeek ( pintu di buka bunda dari falam )


"Kamu, udah pulang Nay?" sapa bunda.


"Udah, bun."


Naya mencium punggung tangan kanan bunda.


"Kamu mandi, Nay?" tanya bunda saat Naya masuk ke dalam kamarnya.


Sedangkan ayah langsung memasukkan motor ke dalam rumah, ayah memarkir motor di ruang depan. Lalu bunda menutup pintu dan menguncinya.


"Kamu mau makan, Nay?" tanya bunda lagi.


"Iya, bunda. Naya lap bada ajah dulu. Abis itu baru makan." ujar Naya.


Naya membawa baju gantinya dan bersiap mengelap badanya yang lengket, setelah lelah dengan aktivitas di resto yang menguras tenaganya.


Ayah dan bunda tengah mengobrol di kamar, ayah membahas keinginan Naya pada bunda.


Ayah yang tengah tiduran di atas kasur, sedangkan bunda duduk di pinggir kasur. Sambil mengobrol mata tertuju pada televisi yang ada di kamar yang sedang menampilkan berita.


"Bun...--" ayah menggantungkan ucapannya.


"Kenapa, yah?" tanya bunda.


"Niatnya kalo Naya gajian, bunda mau beli apa?" tanya ayah tiba-tiba.


"Mao beliin Apri sepedah roda 3, yah. Tapi... bunda belum ngomong sama Naya." ujar bunda mengutarakan niatnya.


"Bunda gak tanya gitu, Naya mao beli apa?"


"Emang Naya mao beli apa lagi, yah?"


"Naya pengen hape yang ada kameranya, bun. Bisa buat dengerin musik, mungkin buat nemenin Naya di jalan." ujar ayah, mewakili Naya mengutarakan keinginan hatinya pada bunda.


"Hape yang ada kameranya? bukannya mahal ya, yah?" tanya bunda, yang sudah mengerutkan keningnya.


"Ya sesuaikan sama keuangan, bun. Kalo dapet yang seken ya beli. Tapi kalo dapet baru, ya udah beliin hape yang baru. Biar Naya tambah semangat kerjanya." ujar ayah.


"Kalo mao beli, anaknya di ajak." tambah ayah lagi.


"Iya jangan kaya, ayah. Usus keluar di beli bae tuh hape." sindir bunda.


"Ya Allah, bun. Masih di inget bae ya. Itu kan udah lama bun."


Pasalnya ayah membelikan Naya hape seken merk N**** jadul yang hanya bisa sms dan terima telepon udah gitu, dengan kabel casan yang tidak utuh lagi bentuknya.


Niatnya ayah ingin memberikan kejutan buat Naya, karena waktu itu ayah membeli hape tanpa sepengetahuan bunda dan juga Naya.

__ADS_1


Naya senang bukan main kala mendapatkan handphone dari ayah, meski hanya barang seken, itu berarti buat seorang Naya.


Sedangkan bunda di buat syok kala melihat bentuk kabel casan yang bentuknya tidak utuh lagi. Jadi lah ayah bulan-bulanan omelan bunda. Setiap bunda ingat, pasti jurus omelan langsung ke luar dari mulut bunda.


Naya terlihat lebih segar setelah kena air. Naya menyimpan baju kerjanya ke dalam ember yang berisi pakaian kotor.


Setelah itu Naya langsung mengambil piring dari dalam rak piring yang berada di samping kamar mandi. Naya menyendokkan terong balado ke atas piring yang sedang Naya pegang dan menambahkan nasi di atasnya.


Naya membawa piring yang berisi terong balado dan nasi ke dalam kamarnya. Tidak lupa Naya menyalakan tv dan mencari film box office kebetulan saat itu aktornya adalah idola Naya, Ekin Cheng.




Bagi Naya, idola ya idola. Tidak perlu di paksakan harus bertemu dengan idola. Hanya sekedar suka melihat senyumnya yang menawan. (Lagu lu pera Naya 🀣)


Naya duduk di pinggir kasur dengan kaki menjuntai ke bawah sambil sesekali ia mengayun ayunkan kakinya. Dengan tangan kanannya menyuapkan makanan ke dalam mulutnya, Naya menyantap makan malamnya sambil sesekali matanya fokus ke arah layar televisi.


Bunda masuk kedalam kamar Naya, dan ikut serta duduk di pinggir kasur bersama dengan Naya.


Anis dan Apri, jangan di tanya. Pasti udah peri ke alam mimpi terindah.


"Nay.... emmmm." ucap bunda mengawali pembicaraan dengan Naya.


"Kenapa, bun?" tanya Naya heran.


Bunda menarik nafasnya dalam-dalam dan lalu membuangnya perlahan.


"Kalo kamu udah gajian... bisa gak Nay, beliin Apri sepedah roda tiga?" tanya bunda setelah mengumpulkan keberanian untuk angkat suara.


"Ituh loh Nay, sepedah yang kaya Sandi punya." jelas bunda.


"Ya udah, beliin aja bun."


"Kata ayah, kamu pengen hape yang ada kameranya Nay. Bener begitu Nay?" tanya bunda, memastikan perkataan ayah tadi.


"Sebenarnya pengen banget, tapi kalo langsung beli hape sama beli sepedah buat Apri, nanti buat yang lain jadi kurang. Aku tahan dulu deh, bulan depan ajah beli hapenya." batin Naya.


"Naya? Bunda, lagi ngomong inih. Kamu malah bengong!" kata bunda sambil melambaikan tangan kanan ke wajah Naya.


"Eh, apa ya bun? Bunda, ngomong apaan bun?" tanya Naya saat tersadar dari lamunannya.


"Kamu jadi mau beli hape sama ayah apa sama bunda?"


"Beli sepedah aja dulu bun, emmm buat Apri. Naya belum butuh banget kamera ko bun." ujar Naya.


"Ya udah, kalo gitu mau kamu. Kebetulan abis kamu gajian, udah pada bejibun tuh undangan minta di kondangin."


"Iya, bun."


"Enak gak Nay, masakan bunda?"


"Enak bun, tinggal makan hehehe." jawab Naya sambil ketawa.

__ADS_1


"Kamu tuh, belajar masak Nay. Biar tau bumbu dapur."


"Ya elah bun, kan ada bunda. Oh iya bun. Tadi di resto ka Tika mesen aku, buat pelajarin takaran buat jus, isi bebek setiap pack ada berapa potong, itu biar ngapa ya bun?" jelas Naya panjang kali lebar.


"Yah mungkin biar kamu kalo di tanya sama bos, bisa jawabnya Nay."


"Terus buat apaan, bun?"


"Buat ulangan kali." jawab bunda asal.


"Lah, udah kaya sekolah bae bun. Pake ada ulangan." ujar Naya.


"Ya kali, kamu nanya sama bunda. Mana bunda ngerti. Nanya bunda mah, cabe sekilo berapa? bawang berapa? bumbu semur apa? Tuh baru bunda bisa jawab."


"Ahahaha, iya juga. Ngapa aku tanya bunda ya?" ujar Naya sambil menggaruk belakang kepala Naya dengan tangan kiri.


"Kamu makannya udah, apa belom? Anak cewek ko makan lama banget." ejak bunda yang melihat Naya belum menyelesaikan makan malamnya.


"Ihs bunda, udah tau Naya kalo makan lama, pake di kata gitu." kata Naya sambil cemberut.


"Makan tuh yang gesit Nay, jangan lama. Tau gak?" tanya bunda.


"Tau apa bun?" tanya Naya dengan polosnya.


"Bunda ngelietin kamu makan, kaya nasi yang mau masuk ke mulut tapi kamu tanya dulu. Luh mau gak gua makan?" ujar bunda.


"Kaga." celetuk Naya.


"Kalo kagak, ngapa tuh makanan masuk ke mulut?"


"Masih laper."


"Au amat Nay. Udah kamu abis selesai makan, tidur jangan malem-malem." bunda bangun dari duduknya.


"Lah kan ini emang udah malem, bun?"


"Astaghfirullah Nayaaaa." ucap bunda sambil mengelus elus dadanya dengan tangan kanan.


"Hihihihihi." tawa Naya melihat ekspresi bunda.


Bunda langsung meninggalkan kamar Naya dan memilih balik ke kamar bunda. Terlihat ayah yang sudah memejamkan mata dengan nafas yang beraturan. Bunda tidur di sisi kanan Apri, sedangkan ayah tidur di sisi kiri Apri.


terima kasih sudah mampir untuk membaca karya receh author 😊😊


mohon πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ» dukung karya receh author 😊😊😊😊😊 dengan cara ↩️


β€’β€’β€’β€’β€’> πŸ‘ like


β€’β€’β€’β€’β€’> ✍️ komen


β€’β€’β€’β€’β€’> ⭐⭐⭐⭐⭐


β€’β€’β€’β€’β€’> 🎁🌹 biar author tambh semangat update ☺️☺️

__ADS_1


β€’β€’β€’β€’> β™₯️ favorit biar gak ketinggalan cerita'nya 😊😊😊😊


see you 😊😊😊


__ADS_2