Cinta Tak Terpisahkan

Cinta Tak Terpisahkan
Cinta Tak Terpisahkan 45


__ADS_3

"Bun, Naya berangkat." pamit Naya sambil mencium punggung tangan kanan bunda.


"Hati-hati, Nay."


"Iya, bun."


Naya memakai sepatu hitam dan kaos kaki hitam di teras rumah dan memakai tas selempangnya yang berwarna coklat.


"Naya berangkat, bun." teriak Naya dari luar rumah.


"Iya." di jawab dengan teriakan bunda juga.


Sambil memperhatikan jalan, sesekali Naya mengetikkan pesan di hapenya.


💌 Naya


Baru mau jalan kerja nih.


💌 Surya


Hati-hati ya sayang.


💌 Naya


Iya


💌 Surya


Kamu pergi sama siapa? di anter sama ayah gak?


💌 Naya


Aku di anter angkot tar di cikini. Ayah kerja.


💌 Surya


Kasian amat sih, pacar aku jalan kaki. Kepanasan pula.


💌 Naya


Udah biasa sih jalan kaki juga. Pergi pulang sekolah juga dulu aku jalan kaki.


💌 Surya


Tapi ini kan beda Nay. Coba ada aku di sana. Kan jadi ada teman ngobrol kamu.


💌 Naya


Ini juga bukannya lagi ngobrol?


💌 Surya


Beda lah. aku gak bisa liet muka kamu.


💌 Naya


Au menan.


"Berangkat, Nay?" sapa bu Tami. Saat berpapasan dengan Naya.


"Iya bu." ucap Naya. Sambil berjalan tanpa menghentikan langkah kakinya.


Naya memasukkan hapenya ke dalam saku bajunya, dan fokus pada jalan yang akan ia lewati. Teriknya matahari tidak menyurutkan semangat Naya untuk sampai pada tujuannya, dapur bebek tempat Naya sekarang mencari uang.


Sampai di Cikini, Naya menyebrang jalan dan menaiki angkot di kursi depan samping kang sopir, karena bangku belakang sudah penuh dengan penumpang lainnya.


Naya meraih ponselnya yang di letakkan di saku baju dan mengetik pesan.


💌 Naya


Aku udah di angkot.


💌 Surya


Hati-hati ya sayangku, cintaku, manisku.


💌 Naya


Iya.


💌 Surya


Masa iya doang? Kaya aku dong balesnya.


💌 Naya


Kepanjangan.

__ADS_1


💌 Surya


Ora ngapa, kan bukti aku sayang kamu, cinta kamu. Ayo dong kaya aku balesnya.


"Astaghfirullah, lebay amat sih jadinya." gerutu Naya.


💌 Surya


Ayo dong, masa gitu doang gak mau?


💌 Naya


Iya sayang ku, cinta ku, manis ku.


💌 Surya


Nah gitu dong. Jadi makin sayang kan.


"Serah luh bae dah." ucap Naya saat membaca pesan dari Surya.


Naya menyimpan kembali hapenya ke dalam saku bajunya.


"Sektor 9, ya bang." ucap Naya.


"Beres, Neng."


Sopir pun berhenti beberapa kali saat ada penumpang yang minta untuk turun.


"Sektor 9, Neng." ucap si kang sopir mengingatkan Naya.


"Iya bang." ucap Naya sambil meletakkan uang di atas dasbor mobil.


Sopir pun menepikan mobilnya ke bahu kiri jalan dekat trotoar agar memudahkan sang penumpang turun.


"Makasih, bang." ucap Naya saat turun dari angkot.


"Sama-sama, neng." ucap sopir angkot dan kembali melajukan angkotnya.


"Baru nyampe neng?" sapa tukang ojek yang biasa mangkal di sektor 9.


"Iya, bang." ucap Naya sambil terus berjalan ke arah resto.


Di sana Naya melihat sudah ada Novi, Fifi, Nini yang sedang berfoto menggunakan telepon genggam.


"Baru sampe, Nay?" tanya Fifi dan menghentikan aktivitas dari berfoto.


Akhirnya yang di tunggu datang, si pembawa kunci dan para supervisor resto dan anak-anak yang lain juga sudah mulai berdatangan, maklum sudah hampir mendekati jam 3.


Semuanya membagi tugas dan memulai aktivitasnya masing-masing. Hingga tidak terasa waktu ashar datang, semua kegiatan priper sudah selesai di lakukan.


Dan semua anak waitres termasuk ka Tika yang memang stand bay di depan kasir sudah berada di depan terkecuali anak dapur dan asap yang selalu berkumpul di belakang.


"Perhatian untuk semuanya. Kalian kali ini dapat jatah satu orang dapat satu potong bebek goreng. Ini pesan dari bapak Pangesta. Jadi kalo ada yang tanya sama kalian gimana rasanya, kalian bisa jawab." ujar pak Aziz.


"Horeee, makan bebek." ujar Nini.


"Untuk nasi, sudah tau kan, satu anak dapat satu porsi nasi dari resto?" tanya pak Aziz.


"Iya pak, tau." ucap kami serempak.


"Untuk makan sore, seperti biasa. Kita makan bergantian ya? Biar bagian depan tidak kosong dan bagian dapur juga jangan sampai kosong." jelas pak Aziz panjang lebar.


"Iya, pak." ujar kami lagi dengan serentak.


Pak Aziz memilih untuk solat ashar bersama dengan Rion, Heru dan juga ka Tika.


Sedangkan a Awan standby di asap, bu Rani di kasir, Ipul dan Tohir di dapur.


Angga, Fifi, Elsa, Eka sedang makan sore.


Nini, Naya dan Novi standby di depan berjaga jika ada yang berkunjung untuk makan.


"Novi, kamu kesini sebentar!" perintah bu Rani.


Novi pun langsung berjalan menghampiri bu Rani ke depan kasir.


"Kamu kesini, biar berdiri di samping ibu." ucap bu Rani saat melihat Novi akan berdiri di depan kasir.


Novi pun berjalan menghampiri bu Rani dan berdiri di samping bu Rani.


"Kamu perhatikan ini ya, tombol ini----." bu Rani mengajarkan dan menjelaskan fungsi dari setiap tombol yang ada di mesin kasir.


2 orang bapak-bapak masuk ke resto, yang 1 mengenakan kaos biru dan 1 lagi mengenakan kaos hitam. Langsung duduk di meja nomor 3.


"Boleh Dapur Bebek nya, pak." ucap Naya dan Nini berbarangan.


"Aku maju ya, Nay?" tanya Nini meminta persetujuan.

__ADS_1


"Iya, yang bisa ya?" kata Naya sambil memberikan semangat pada Nini.


Nini maju menghampiri meja nomor 3, meja yang di duduki oleh bapak-bapak yang baru saja masuk ke resto.


"Permisi bapak-bapak, mau pesan apa ya?" tanya Nini pada customernya sambil tangan kirinya memegang kertas order dan tangan kanan memegang pulpen siap mencatat apa saja yang akan di pesan.


Suara Nini masih bisa di dengar oleh Naya, karena customer tersebut, duduk di meja yang tidak jauh dari pantauan Naya.


"Menu rekomendasi disini apa ya, mbak?" tanya bapak berbaju hitam pada Nini.


"Bebek asap dan bebek goreng, pak." ucap Nini.


"Kalo bebek goreng, saya tau. Kalo bebek asap, apa itu mbak?" tanya bapak berbaju biru.


"Bebek yang apa ya emmmm." Nini tidak melanjutkan perkataannya karena lupa dan tidak tahu harus berkata apa.


Nini menoleh ke arah Naya yang sedang memperhatikannya. Sambil memberi kode mulut komat kamit tanpa suara.


Naya yang mengerti dengan kode yang di berikan Nini pun, berniat untuk membantu Nini menjelaskan pada customernya.


"Maaf bapak, ada yang bisa saya bantu?" tanya Naya sopan.


"Em begini, mbak. Apa itu bebek asap?" tanya bapak baju biru mengulang pertanyaan yang ia berikan sebelumnya pada Nini.


"Bebek asap itu, bebek yang di asapkan dengan bumbu asap. Rasanya enak dan gurih, dagingnya juga empuk dan tidak alot seperti bebek pada umumnya bapak." jawab Naya panjang lebar pada bapak yang berbaju biru. "Apa bapak mau coba bebek asap di sini?" ucap Naya menawarkan pada bapak berbaju hitam yang terlihat tertarik dengan menu yang di jelaskan Naya barusan.


"Saya mau bebek asap paha 2 ya, mbak." kata bapak baju hitam pada Nini.


"Wah kalo gitu, saya juga deh 2 bebek asap tapi yang dada aja yah!" pinta si bapak berbaju biru.


Nini mencatat pesenan keduanya di atas kertas.


"Kalo gitu, saya permisi ya pak." ucap Naya undur diri dari mereka.


"Terima kasih mbak, atas penjelasannya ya." ucap bapak berbaju hitam.


"Sama-sama bapak." Naya pun meninggalkan ke tiganya dan kembali hendak berdiri di samping meja kasir.


"Alhamdulillah kalo si bapak-bapak itu jadi pada pesen bebek asap, ukuran 1 porsi itu." batin Naya sambil tersenyum.


"Naya, ikut ibu." ucap bu Rani saat sudah berdiri di belakang Naya.


Dengan hati dan perasaan yang tidak karuan, aku pun berjalan mengikuti langkah kaki bu Rani.


Bu Rani berhenti di belakang pohon beringin yang berada dekat dengan tempat pengasapan. Lalu bu Rani menghadapkan dirinya ke arah Naya.


"Kamu tau, kenapa saya memanggil kamu kesini, Naya? ucap bu Rani dengan dinginnya.


"Gak tau, bu." ucap Naya sambil menatap mata bu Rani.


"Kayanya bu Rani marah deh, marah apa lagi sih? Emang aku buat salah apa sih? Bu Rani jutek bener kalo sama aku." batin Naya.


"Tadi kamu ngapain nyamperin Nini?" tanya bu Rani dengan ketus dan tampak yang jutek, bagi Naya.


"Itu, jelasin ke customer bu. Tadi yang bapak kaos biru nanya bebek asap itu apa? Nini lupa, terus lietin aku minta di bantuin jawab." tutur Naya apa adanya.


"Laen kali, kamu jangan bersikap seperti itu, kamu tidak punya kewenangan untuk itu Naya, kamu itu cuma waitres, sekali lagi saya lihat kamu seperti ini, saya SP3 kamu." ucap bu Rani tegas.


"Iya bu." jawab lirih Naya.


"Ingat, jangan di ulangi. Kembali lagi sanah kamu." ucap bu Rani lagi.


Tanpa menjawab, Naya pun kembali lagi ke tempat tadi ia berdiri. Dengan suasana hati yang berbeda. Dengan mata panas berusaha menutupi rasa sedihnya. Menahan bulir yang akan meluncur dari matanya.


"Kamu kenapa, Naya?" tanya Nini sambil meletakkan nampan kosong ke tempatnya.


"Gak apa-apa." ucap Naya, sambil menghapus air matanya dengan ujung manset tangan yang ia kenakan.


"Naya, Novi, Nini, Ipul, kalian makan dulu gih." perintah bu Rani.


bersambung.....


terima kasih sudah mampir untuk membaca karya receh author 😊😊


mohon 🙏đŸģ🙏đŸģ dukung karya receh author 😊😊😊 dengan cara â†Šī¸


â€ĸâ€ĸâ€ĸâ€ĸâ€ĸ> 👍 like


â€ĸâ€ĸâ€ĸâ€ĸâ€ĸâ€ĸ> âœī¸ komen


â€ĸâ€ĸâ€ĸâ€ĸâ€ĸ> ⭐⭐⭐⭐⭐


â€ĸâ€ĸâ€ĸâ€ĸâ€ĸ> Vote


â€ĸâ€ĸâ€ĸâ€ĸâ€ĸ> â™Ĩī¸ biar gak ketinggalan cerita'nya


â€ĸâ€ĸâ€ĸâ€ĸâ€ĸ> 🎁🌹 biar semangat update 😊😊

__ADS_1


__ADS_2