
Awal nya jalan yang di lewati jalan perkampungan dengan jalan yang sudah di aspal dan masih bisa di temui beberapa warung yang masih buka meski hari sudah larut dan beberapa rumah yang tampak penghuni nya masih berada di luar rumah, tapi makin ke dalam, suasana semakin mencekam.
Surya tidak tahu kalo jalan yang nantinya harus di lewati adalah jalan yang di apit oleh makam dengan ilalang yang tumbuh tinggi di sekitaran di tambah lampu penerangan yang minim.
"Po, ini beneran jalan sini?" tanya Surya yang merasa mulai aga aneh.
Namun di jawab oleh Naya, iya yank jalan sini... bener ko ini jalan nya... aku pernah nganterin po Bikang waktu di jemput sama ayah." ujar Naya.
"Kenapa Surya? turunin po di sini juga ga apa apa ko, po udah biasa jalan sini." ucap Bikang yang duduk di paling belakang sedangkan Naya di tengah... satu motor di naiki 3 orang, untung aja yang naekin bukan badan gede.
Jalan yang di lewati Surya mulai rimbun dengan pohon ilalang kanan dan kiri dengan jalan bertanah.
"Belok kiri ya, Sur." oceh Bikang memberi arahan saat nanti akan melewati pertigaan.
"Kalo lurus, kemana po?" tanya Surya.
"Itu ke kompleks."
Saat Surya mengambil jalan kiri, masih nampak pohon ilalang tumbuh tinggi.
"Ini ora di tebangin apa po, pohon ilalang nya?" tanya Surya memecah keheningan malam, yang terdengar hanya suara mesin dari motor Surya.
"Ora Sur, kalo pagi di sini adem tau... kalo malam ya dingin." oceh Bikang.
"Ko dari setadi kita jalan kaga papasan sama orang ya, po?" tanya Surya lagi.
"Kaga, orang di ujung jalan cuma ada rumah keluarga laki gw sama ada 3 kontrakan."
Naya sudah mulai memejam kan ke dua mata nya dan kedua tangan melingkar di pinggang Surya, takut melihat sekitar apa lagi Naya tau persis di sisi depan jalan yang akan mereka lewat akan ada banyak makan.
"Ngapa lu, Nay?" tanya Bikang yang melihat ke dua mata Naya memejam.
"Takut po."
"Emang ada apaan, honey?" Surya yang bertanya.
"Itu nanti di depan ada makan." oceh Bikang.
"Yang bener bae, po?"
__ADS_1
"Lah ya iya, bener Surya." baru di kata, nampak beberapa makan dengan pohon ilalang yang lebih pendek tidak setinggi yang tadi di lewati mereka.
"Numpang numpang, cucu adam numpang lewat... kita beda alam, jangan ganggu." oceh Bikang selama melewati makam yang sudah menjadi makanan keseharian nya.
Surya cuma diam di bibir, dengan hati yang komat kamit, ya ahli kubur... Surya sama Naya sama temen nya cuma numpang lewat, jangan ganggu, jangan nampak, kalo nampak.. Surya gak jamin berani lewat sini lagi.. jauh jauh dari mata... kita cuma numoang lewat.
Sedangkan Naya dalam hati nya juga tidak kalah heboh, heboh dengan do'a, bismillah hirohman nirohim... assalamualaikum ya ahli kubur, Naya ama yang laen cuma numpang lewat, jangan ganggu, cucu adam numpang lewat, jangan ganggu, kita beda alam, yang udah gak ada lietin aja dari jauh, jangan deket deket. ocehan Naya meski dalam hati dengan mata terpejam.
Sedangkan Bikang lebih bersikap biasa, sudah sehari hari semenjak menikah dan tinggal di rumah suami, jalan ini yang selalu di lewati nya.
"Masih jauh, po?" tanya Surya, seolah perjalanan terlampau lama dan jauh.
"Dikit lagi, Sur.. itu di depan ada tanjakan ya, lu naek aja." oceh Bikang.
Naya yang mendengar perkataan Bikang langsung membuka ke dua mata nya.
"Alhamdulillah nyampe juga." oceh Naya saat Surya menaiki tanjakan menuju rumah Bikang.
"Udah Sur, berenti di sini aja!" Surya langsung menghentikan laju motor nya di depan sebuah rumah yang nampak besar.
"Makasih ya Surya, Naya.... mau pada mampir dulu gak nih?" tawar Bikang saat sudah turun dari motor.
"Gak deh po, mau langsung pulang aja... biar bisa langsung istirahat Naya nya." tolak Surya dengan tangan menggenggam jemari Naya yang terasa dingin.
"Iya sama sama po, oh iya po .. ada jalan laen gak, selaen jalan tadi yang kita lewatin?" tanya Surya yang memilih jalan lain ketimbang jalan tadi meski jauh pasti akan di pilih asal bisa menghindar dari jalan tadi jalan yang menegangkan.
"Yaaah sayang nya itu jalan satu satu nya, Sur." ucap Bikang, pasti ini bocah takut. batin Bikang.
"Gitu ya, Surya pamit dah po." Surya mulai menstarter motor nya.
"Nay pulang, po!" seru Naya dengan melambaikan tangan ke Bikang sedangakan ia kini menempel kan tubuh depan nya bak perangko di punggung Surya.
"Hati hati." ucap Bikang dengan melambaikan tangan nya juga. gw rasa itu bocah bakalan ampe merid berdua. batin Bikang.
Surya melaju kan kembali sepedah motor nya menuju rumah Naya.
Seperti tahu akan perasaan Naya, Surya langsung menggenggam jemari Naya yang kini menempel di perut nya.
"Kalo takut, ngerem aja... jangan lupa baca do'a yang kamu bisa, honey."
__ADS_1
"Iya."
Kali ini Surya melaju dengan kecepatan sedang dengan hati di liputi rasa takut, takut ada yang nampak... namun ia harus berani, berani untuk melindungi Naya... masa sama kuburan takut, ia harus meredam rasa takut nya.
Jalan yang tadi di lewati begitu jauh dan lama kini begitu terasa dekat, tidak ada lagi rumput ilalang yang menjulang tinggi, pencahayaan terbatas, makam di sana sini, jalan yang masih tanah, yang ada hanya jalan beraspal dengan beberapa rumah dan beberapa kendaraan yang berlalu lalang.
Hati Surya lebih lega lagi tatkala ia kini melintasi jalan raya. Ada rasa lega yang di rasa, Naya pun sudah tidak memejamkan ke dua mata nya.
Kedua mata Naya menatap wajah lelah Surya dari kaca spion.
"Kamu ngantuk ya, yank?" tanya Naya.
"Enggak ko."
"Tadi kamu ngapain aja di tempat kerja?"
"Ngapain? ya kerja kaya biasa ngepel lantai, ngemob ubin biar kinclong, ngambilin sampah dari toko toko."
"Ada SPG gak... yang minta di anterin pulang sama kamu, yank?" pertanyaan yang terlontar begitu saja ke luar dari mulut Naya.
"Ko tanya nya gitu?" Surya menggenggang erat jemari Naya dan membawa nya ke bibir lalu mengecup nya.
"Ya ga apa apa, cuma pengen tanya aja... ada gak yang minta di anter sama kamu?" jari telunjuk kanan Naya menusuk nusik di pinggang kanan Surya.
"Emmmm gimana ya jawab nya."
"Kamu malah gitu si? bearti ada yang minta di anterin ya pulang nya?" Naya yang tadi nya menyandar kini duduk tegak dengan tangan yang mendaratkan cubitan di pinggang kanan Surya.
"Gak ada, honey... aku cuma nganterin kamu doang... gak ada nganterin cewek laen." Surya mengusapkan tangannya ke bagian pinggang yang di cubit Naya.
"Awas aja kalo kamu bohong." oceh Naya.
"Kalo aku bohong, mau di cium sama kamu ya, honey?" ledek Surya namun serius.
"Itu mau nya kamu!" Naya mengerucutkan bibir nya sebel
Bersambung...
...💖💖💖💖💖...
__ADS_1
Jangan lupa dukung author dengan like dan komen 😊😊
Salam manis 😊