Cinta Tak Terpisahkan

Cinta Tak Terpisahkan
Cupang


__ADS_3

Naya memilih judul buku yang ingin ia beli.


"Lagi ngapain, Nay?" tanya Dava dengan berdiri di samping Naya.


"Eh, bang." Naya menatap sekilas wajah tampan Dava yang selalu tersenyum dan lam ke adaan apa pun, lalu fokus lagi pada buku novel yang ingin ia beli.


"Ini, Nay lagi pilih buku."


"Buat siapa, Nay?" tanya Dava, heran juga Naya memilih buku novel yang sudah pasti di dalamnya ada adegan orang dewasa nya.


"Buat Nay baca, bang."


Mata Dava membulat seketika, "Dari pada baca novel yang kaya gini, mending baca novel yang berbau islami." ujar Dava.


"Cuma baca doang, bang." kilah Naya.


Beliin bang kalo bisa mah, ini aja pake duit dari ayah. dumel batin Naya.


"Ini neng." si bapak foto copy menyerahkan plastik yang di dalamnya terisi lembaran kertas yang sudah di foto copy.


"Sama buku ini ya, pak." Naya memisahkan 2 buku yang ingin di beli nya.


"Jadi dua puluh ribu ya, neng."


Naya menyerahkan selembar uang kertas berwarna hijau, yang bertuliskan dua puluh ribu.


"Makasih, pak." ucap Naya dengan menarik ujung bibirnya.


"Sama sama, neng."


"Duluan, bang." pamit Naya pada Dava.


"Iya."


Saat di gang rumah nya, Naya tidak langsung berbelok masuk gang, tapi berjalan lurus ke warung terlebih dahulu untuk membeli kopi dan kue bakar pesenan bunda.


Naya mengetik pesan di hapenya.


"Aku lagi ke warung nih, kamu lagi apa?" pesan yang Naya kirim ke nomor Surya.


"Ngapain ke warung?" balas Surya.


"Ya jajan lah, ayah minta di beliin kopi, bunda minta di beliin kue bakar." balas Naya.


"Aku gak kamu beliin?"


"Ya engga lah, kamu nya lagi gak sama aku si."


"Langsung pulang kamu, jangan sok deket sama orang apa lagi cowok."


"Iya."


"Jangan iya iya aja, dengerin kalo aku ngomong."


"Iiiiih emang ada ngomong gak ada suaranya, ya? orang cuma tulisan juga 🤣🤣🤣" ledek Naya lewat pesannya.


"Kalo di bilangin, gw cium lu."


"Maoooo."


"Bener ya? kamu kapan lagi masuk pagi, honey?"

__ADS_1


"Malam senin baru masuk pagi lagi aku."


"Ya, udah... aku lanjut kerja lagi."


💖💖💖


Waktu yang di tunggu Surya akhirnya datang, tiba malam senin Surya datang ke rumah Naya jam 8 malam.


"Assalamu'alaikum." ucap Surya saat sudah sampai di rumah Naya.


Dari dalam rumah, Naya langsung menyahutinya, "Waalaikum salam."


Naya menyimpan buku novel yang baru beberapa lembar ia baca di atas lemari box.


"Ciyeeeee, di apel pacar ni yeeee!" ledek Ani yang sedang belajar di atas kasur.


"Anak kecil, diem aja, week." Naya meledek Ani dengan menjulurkan lidahnya ke luar dan berjalan pergi menghampiri Surya.


Kreek.


Pintu di buka Naya, wangi parfum Surya langsung menyeruak di indra penciuman Naya.


Pacar gw wangi banget dah, mandi kaga ya itu orang? apa mandi parfum? batin Naya.


Tampak Surya yang sedang berdiri meregangkan kaki nya.


Surya duduk bersandar pada dinding dengan meluruskan kedua kakinya ke depan.


"Ko kayanya sepi banget, bunda sama ayah, kemana Nay?" tanya Surya yang biasanya tivi di kamar bunda akan menyala saat ia datang, tapi kali ini tivi di kamar bunda mati tidak seperti biasanya.


"Oh iya, bunda, ayah sama Apri lagi pergi kondangan." jelas Naya.


"Kamu di rumah sama siapa?"


Naya masuk ke dalam rumah.


Kirain cuma ada Naya doang sendiri di rumah, bisa kali mah ****** dikit. pikir Surya.


"Ka Surya ya, ka?" tanya Ani saat melihat Naya membawa air minum untuk tamu nya.


"Iya, emang siapa lagi?"


"Iya kali gitu, tikungan... hihihi." Ani terkikik dengan melek Naya.


"Apa bae, udah kerjain bae itu pr." Naya menunjuk buku yang ada di hadapan Ani dengan memanyunkan bibirnya.


"Ya elah itu bibir, **** amat ka."


"Au ah gelap."


Naya duduk di samping Surya.


"Kamu jalan lagi ke sini?" tanya Naya yang melihat keringat di kening Surya.


Surya juga langsung melepas switer yang ia kenakan, tampak lengannya yang berotot.


Glek.


Surya meminum air putih dingin yang Naya sodor kan pada nya.


"Makasih, honey... iya aku jalan buat nyampe sini, kan angkot cuma sampe jalan utama doang."

__ADS_1


"Kasian banget si pacar aku." Naya menyeka keringat di kening Surya dengan tangan kanannya.


"Makasih lagi, honey... buat kamu, jalan juga aku jabanin kalo kamu nyuruh dateng." ucap Surya.


"Apa bae."


"Aku serius loh, kamu minta aku dateng tiap hari juga, ayo aja aku mah."


"Terus kerjanya kapan? waktu buat keluarga nya kapan?" tanya Naya.


"Kerjaan sama keluarga nomor 2, yang penting itu nyenengin kamu." ledek Surya.


"Apa bae di kata."


"Eemmm bunda sama ayah, udah lama belum jalannya?" tanya Surya sambil mata nya melihat keadaan sekitar.


"Belom lama, kenapa emang?"


"Nenek Fatimah juga kondangan?" tanya Surya lagi, ingin memastikan situasi aman.


"Iya lah, nenek Fatimah juga ikut kondangan di bonceng sama om Nata." jelas Naya.


"Kondangan kemana, honey?"


"Kereo."


Kalo belom lama jalan, kemungkinan masih ada satu jaman lebih buat ayah sama bunda nyampe rumah, bisa ini mah, tinggal kibulin Naya biar gw di kasih. pikir Surya dengan menatap lekat wajah Naya.


"Kamu kenapa ngelietin aku kaya gitu?" Naya merasa aneh dengan tatapan Surya.


"Gak ada apa apa ko." bohong Surya.


Surya merubah posisi duduk nya menghadap ke depan Naya, hingga kini keduanya duduk berhadapan dan Surya mulai berkata, "Emmmm, honey.. di leher kamu ada apaan tuh?"


"Apaan?" Naya refleks melihat lehernya dengan menyingkirkan rambutnya yang ada di lehernya.


"Sini aku bantu." Surya langsung berdiri dengan kedua lututnya, "Kamu diem ya!" perintah Surya.


"Iya."


Surya memiringkan kepala Naya, bibir Surya langsung mendarat di ceruk leher Naya yang jenjang, Surya mulai menyesappp nya dan menggigit nya pelan, ada rasa aneh yang Naya rasa saat Surya melakukan nya.


Surya merasakan tubuh Naya yang seketika itu menegang, Surya melakukan nya lagi di tempat yang berbeda, memberi tanda kemerahan di ceruk leher Naya.


"Ko kaya di gigit ya?" ujar Naya, yang belum mengerti apa yang terjadi pada lehernya.


"Gak apa, nanti juga baikan... cukup tutupin aja dari orang orang termasuk ayah sama bunda kamu, pake rambut kamu... begini juga gak keliatan." Surya merapikan rambut Naya yang panjang hingga menutupi ceruk leher Naya yang ada tanda kiss mark nya.


"Makasih ya, honey." Surya mengecup sekilas bibir Naya.


"Kenapa makasih?"


"Itu ****** nya, aku kasih 3 di leher kamu."


"Apaan?


Bersambung...


Jangan lupa komen, buat dukung author 😊😊😊


No koment julid

__ADS_1


Naya ngerti gak ya, ****** itu apa? 🤔


__ADS_2