Cinta Tak Terpisahkan

Cinta Tak Terpisahkan
Cinta Tak Terpisahkan 51


__ADS_3

Malam hari di resto yang ramai akan pengunjung, di tambah lagi dengan kedatangan putra pertama pak Pangesta yang datang bersama dengan istri dan kedua putrinya, menambah huru hara di resto.


Bukan tanpa alasan, karena sebelumnya tadi pak Aziz sudah mewanti-wanti agar tidak terjadi miskomunikasi antara yang berjaga di depan dengan pihak dapur.


Pak Pangesta duduk di meja nomor 1 menghadap ke depan hingga dapat memantau pergerakan yang ada di depan, sambil menikmati jeruk nipis panas dan juga sebungkus rokok yang ada di depannya.


Sedangkan bu Lani standby di dapur mencetak nasi dengan menggunakan mangkuk dan meletakkannya di atas piring.


Anak waitres fokus pada bagian depan, mencatat dan mengantarkan pesanan.


Nini yang membawa nampan berisikan piring kotor hendak berjalan ke dapur, lalu menyinpan piring kotor ke dalam westafel. Saat hendak kembali ke depan, Nini di panggil oleh Leli.


"Mbak, saya mau jeruk hangat ya!" pinta Leli, menantu perempuan dari bu Leni dan pak Pangesta.


"Iya ka, itu ajah?" tanya Nini memastikan apa ada lagi yang di minta anak bosnya itu.


"Udah, itu aja mba." jawabannya sambil menyuapi anak perempuan pertamanya udang tempura.


Nini pun langsung menghampiri ka Tika di kasir sambil berkata, "ka Tika itu...emmm tambahan jeruk hangat 1 ya ka."


"Gak usah di catat lah, paling ka Tika udah catet." batin Nini.


"Iya.." jawab ka Tika, sambil tetap fokus pada catatan yang ada di belakang ciler.


Sedangkan ka Tika berfikir jika Nini sudah membuat mencatat tambahan pada pesanan yang di minta Nini, dengan percaya dirinya ka Tika langsung mengordernya pada bagian dapur.


Sedangkan Nini langsung menghampiri seorang kakek yang baru datang dan duduk di meja nomor 15. Meja yang paling belakang dan dekat dengan pagar besi pembatas.


"Angga, jeruk hangat 1 ya." ujar ka Tika.


"Beres." jawab Angga dan langsung membuatkan minuman yang di minta ka Tika.


"Ka, meja nomor 5 minta bil." ucap Naya sambil berdiri di dekat kasir.


Ka Tika pun langsung menghampiri kasir sambil membawa seporsi bebek asap paha dan nasi serta cumi tepung yang ia letakkan di atas nampan.


Sedangkan catatan meja nomor 6 ka Tika letakkan di atas gelas yang berisi kertas catatan yang pesenannya sudah selesai atau semua pesanan sudah di antar ke meja.


"Nay, meja nomor 6." ucap ka Tika pada Naya yang berdiri standby di dekat kasir."


"Oke." ucap Naya.


Ka Tika membuatkan bil meja nomor 5, setelah keluar kertas bil dari mesin, ka Tika meletakkan di atas nampan bil sambil berkata, "Bil meja nomor 5."


Fifi yang sedang berdiri di dekat westafel depan langsung menghampiri ka Tika dan membawa nampan bil ke meja nomor 5.


Saat sudah di meja nomor 6, Naya menyajika di atas meja sambil berkata, "Permisi ibu, pesenannya bebek asap paha dan ini cumi tepungnya."


"Makasih ya, mbak." ucap si ibu dengan ramah.


"Iya ibu, ada lagi yang bisa di bantu?" tawar Naya.


"Boleh deh mbak. Saya mau 1 ekor bebek asap di potong 6, bungkus ya mbak!" seru si ibu, sambil menikmati bebek asap pesenannya.


Naya mencatat pesanan si ibu di atas kertas, dan mengulang perkataan si ibu, "Maaf ibu, saya ulangi pesanannya ya... 1 ekor bebek asap potong 6, takeway ya?"


"Iya mbak."


"Kalo gitu, saya permisi ibu... silahkan di nikmati ibu, makanannya." ucap Naya.


"Orderan baru!" seru Nini, sambil membawa catatan meja nomor 15.


Ka Tika meraih kertas catatan Nini dan meletakkan segelas jeruk hangat ke atas nampan tanpa memberi tahu nomor meja, "Tambahan jeruk hangat."


"Meja berapa, ka?" tanya Nini.

__ADS_1


"Lah tadi kamu yang minta." kata ka Tika, yang memiliki daya ingat tajam.


"Aduh, meja nomor berapa ya?" bukannya menjawab, Nini malah balik bertanya.


"Tadi ini kamu yang minta, tambahan... tadi kamu gak nyebut meja berapanya Nini." kata ka Tika yang mulai emosi.


Naya menyimpan kembali nampan yang tadi ia gunakan, lalu menyerahkan kertas catatan pada ka Tika, "Tambahan nih ka.." ujar Naya.


"Laen kalo, kalo ada tambahan tuh di catat." omel ka Tika pada Nini sambil tangan kanannya meraih catatan dari tangan Naya.


Ka Tika kembali ke belakang ciler dan menyebutkan orderan baru yang ia terima dari Nini dan Naya.


"Orderan baru ya... bebek goreng dada 1 plus nasi, es teh manis 1 itu buat yang makan di sini. Buat yang takeway... 1 ekor bebek asap potong 6." ucap ka Tika, lalu menempelkan kertas catatan pada bagian belakang ciler.


"Oke." ucap anak dapur dan a Awan serempak.


"Ini meja nomor berapa, Nini?" tanya Naya.


"Aduh aku lupa, Nay." ucap Nini dengan tampang wajah bingung.


"Ka, uang pas ya." ucap Fifi sambil meletakkan nampan bil yang berisikan uang pas dari customer meja nomor 5.


"Oke." ka Tika memasukkan uang ke dalam mesin kasir.


"Itu minuman gak di anter-anter juga?" tanya Novi yang melihat segelas jeruk hangat masih ada di atas nampan.


"Mbak, ko pesenan saya belum juga datang sih?" tanya ka Leli yang sudah berdiri di belakang Naya.


Sontak perkataan ka Leli membuat Naya, Fifi, Novi, ka Tika dan juga Nini jadi saling pandang.


"Astaghfirullah, ternyata itu jeruk hangat punya ka Leli." batin Naya.


"Maaf ka, ini jeruk hangatnya." ucap ka Tika sambil menyerahkan gelas yang sedari tadi ada di atas nampan.


Ka Leli kembali ke mejanya dengan tangan kanan membawa segelas jeruk hangat.


"Loh kok, kamu bawa sendiri?" tanya pak Pangesta, yang melihat menantunya membawa sendiri jeruk hangat dari depan kasir.


"Gak apa, pih." ucap Leli dengan santai dan duduk di kursinya lagi.


"Wah, wah, wah, gak beres nih." gerutu pak Pangesta dengan raut wajah kesal.


"Es teh manis." ucap Angga dari dapur.


Ka Tika melihat catatan meja nomor berapa yang memesan es teh manis, setelah tahu dengan pasti meja nomor berapanya.


Ka Tika menaruh segelas es teh manis ke atas nampan sambil berkata, "Es teh manis meja nomor 15 ya."


"Oke." ucap Elsa sambil membawa nampan berisi segelas es teh manis ke meja nomor 15.


Setelah tahu jeruk hangat yang jadi perdebatan milik meja nomor berapa, Ka Tika langsung menambahkan jeruk hangat ke dalam pesannya pak Pangesta.


"Peringatan ya, buat semuanya... kalo ada tambahan tuh di catat baru kasih tahu." tutur ka Tika yang masih sensi.


"Iya ka." ucap Naya, Novi, Fifi, Nini dan Eka serempak.


"Kasih tau nanti ke heru sama Elsa juga." ucap ka Tika.


"Bebek goreng dada plus nasi." ucap Ipul.


Ka Tika mengambil kertas catatan yang ada di belakang ciler dan membawa serta seporsi bebek goreng dan meletakkan'nya di atas nampan, "Meja nomor 15." ucap ka Tika.


Eka langsung membawanya ke meja nomor 15.


A Awan meletakkan 1 ekor bebek asap ke atas talenan besar yang berbentuk bulat yang ada di samping sisi kiri dapur. Lalu Tohir memotong bebek asap menjadi 6 potong dan meletakkan ke dalam dus kotak.

__ADS_1


"Bebek asap 1 ekor potong 6, ready." ucap a Awan.


Ka Tika mengambil dus kotak yang berisi bebek asap dan menaruh lalapan beserta sambal yang sudah di siapkan sebelumnya oleh Rion.


"Meja nomor 6." ucap ka Tika sambil meletakkan plastik putih berlogo dapur bebek yang berisikan 1 ekor bebek asap yang di sajikan dalam dus.


"Ini di anter sekarang, gak apa ka?" tanya Naya.


"Di lihat dulu Nay, yang mesen tuh lagi makan apa emang cuma nunggu orderan yang di takeway." ucap pak Aziz yang sudah berdiri di dekat kasir.


"Udah selesai makan tuh." ucap Naya.


"Ya udah, langsung di anter aja." ucap pak Aziz.


Naya pun langsung mengantar pesenan yang di bungkus kepada mrja nomor 6.


"Permisi ibu, bebek asap 1 ekornya." ucap Naya sambil meletakkan bungkusan di atas meja.


"Langsung bilnya ya, mbak." pinta si ibu.


"Ya bu, di tunggu ya." ucap Naya.


"Minta bilnya ka." ucap Naya pada ka Tika.


"Ini, Nay." ucap ka Tika sambil menyerahkan bil yang di minta Naya.


Sedangkan pak Aziz langsung menghadap pak Pangesta karena tadi di panggil.


Saat tutup resto, sebelum pulang pak Aziz menyampaikan amanat yang diberikan pak Pangesta.


"Ingat, pembeli itu adalah raja. Utamakan mencatat setiap apa saja yang di pesan pelanggan, agar pelanggan tidak kecewa." tutur pak Aziz, "Untuk ke depannya agar tidak terjadi hal serupa, harap saling mengingatkan 1 sama lain, agar tidak terjadi miskomunikasi." tambahnya lagi.


"Iya pak." ucak yang lain serempak.


"Sebelum pulang, kita berdoa sesuai agama dan kepercayaan masing-masing, berdoa mulai." semua menundukkan kepalanya. "Berdoa selesei." ucap pak Aziz.


"Hati-hati untuk yang membawa kendaraan." ucap pak Aziz.


Dan kami pun berpencar untuk pulang. Tidak untuk Naya, karena kali ini ayah belum juga datang untuk menjemput.


Naya menunggu ayah di pangkalan ojek sambil duduk, dan berusaha menghubungi ayah lewat sambungan teleponnya.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


bersambung.....


kira-kira ayah kemana ya?????


terima kasih sudah mampir untuk membaca karya receh author 😊😊😊


mohon 🙏🏻🙏🏻🙏🏻 dukung karya receh author 😊😊😊 dengan cara ↩️


••••> 👍 like


•••••> ✍️ komen


•••••> ⭐⭐⭐⭐⭐


•••••> vote


•••••> 🎁🌹☕


•••••> ♥️ favorit biar gak ketinggalan cerita'nya 😊😊


♥️♥️♥️♥️ salam manis ♥️♥️♥️♥️

__ADS_1


__ADS_2