
...πΊπΊπΊπΊ...
Bunganya lagi mekar, sama akaya hati Naya yang lagi mekar, berbunga-bunga yang abis seharian ngabisin waktu bareng Surya, ciye ciye π€£π€£ lagi manis aja luh π€£π€£ terbang di ajak jalan doang juga.
Di depan Pasar Ceger terdapat orang yang jualan buah dengan mobil bak terbuka, mengalihkan perhatian Surya.
"Kita mampir ke situ dulu ya, yank!" seru Surya.
"Ngapain, yank?"
"Aku mao beliin buat bunda di rumah."
"Tar duit kamu abis, loh.. dari tadi kan udah ke luar mulu duit kamu."
"Suuuut, jangan keras-keras ngomongnya." ucap Surya sambil meletakkan jari telunjuknya ke bibirnya sendiri.
"Emang ngapa?"
"Astaga, jatoh dah harga diri gua, cuma gegara beli rambutan masa gua ora kuat beli!" batin Surya.
Surya tidak menggubris pertanyaan Naya dan tetap menghentikan jalanan saat berada di depan mobil bak terbuka yang menjual rambutan.
Naya mengikuti dan berhenti di belakang Surya.
"Pak, mao dong rambutan nya." ucap Surya pada penjual rambutan yang sedang menata dagangannya.
"Boleh, boleh.. mau berapa iket bang?" tanya penjual rambutan.
"Ini bang." ucap Surya sambil menyerahkan rambutan yang sudah di pilihnya.
"Ada lagi bang? jambu bijinya nih bang!"
"Bunda suka tuh jambu biji." batin Naya.
"Ini aja, udah bang." ucap Surya sambil mengambil dompet dari saku belakang celana jeans dan menyerahkan uangnya untuk membayar rambutan.
"Makasih, bang." ucap si penjual.
"Sama-sama, bang." Surya mengambil plastik yang berisi rambutan dari tangan si abang nya.
Setelah selesai dengan membeli buah rambutan, Surya dan Naya pun kembali melanjutkan perjalanannya menuju rumah Naya.
"Kamu gak bakal di marahin kan sama bunda?" tanya Surya sambil berjalan beriringan dengan Naya.
Surya menenteng plastik berisi rambutan sedangkan Naya menenteng plastik berisi buku novel.
"Ya gak lah, kan tadi kamu udah izin." ucap Naya.
Kendaraan berlalu lalang di jalan, debu pun menghinggapi pejalan kaki, jalan terlihat padat akan kendaraan, maklum lah jam sudah sore ada anak sekolahan yang baru pulang dari kegiatan belajar nya, belum lagi orang yang pulang bekerja kalo jam kantor.
"Pasti lagi pada santai sambil nunggu ada customer masuk buat mesen makanan." gumam Naya yang memikirkan resto.
"Kamu ngomong apa, yank?" tanya Surya.
"Jam segini biasanya aku kalo di resto lagi pada santai, ada yang lagi makan juga, maen hape kalo gak ada pak Pangesta." ujar Naya.
Saat melewati perempatan Japos.
"Baru pulang, neng?" ujar kang ojek yang mengenal Naya.
"Iya, bang." jawab Naya sambil terus berjalan di belakang Surya.
Mendengar ada yang menyapa Naya, Surya langsung mempercepat laju jalannya.
"Pacar gua, ngapa lagi si? tadi ora ngapa-ngapa." batin Naya bertanya-tanya dengan sikap Surya.
"Jalannya pelan-pelan apa, yank!" seru Naya yang tertinggal jauh.
"Berani banget, udah tau lagi jalan sama gua.. pake ngobrol sama cowok.. ganten." omel batin Surya.
Di warung yang di lewati, Surya menghentikan langkahnya dan masuk ke dalam warung.
"Ngapain lagi tuh bocah berenti di warung?" tanya Naya yang masih berusaha menyusul Surya.
__ADS_1
Naya memilih berhenti di depan warung tanpa ikut masuk ke dalam.
Surya ke luar dari dalam warung sambil menghisap rokok.
Bagi Surya, rokok dapat mengurangi rasa kesalnya terhadap Naya, cemburu ora jelas. π€£π€£π€£
Mereka melanjutkan perjalanan lagi dengan Surya yang eiam seribu bahasa, lebih tepatnya mendiami Naya.
"Kamu ngapa sih, yank?" tanya Naya yang kesel di cuwekin.
"Gak apa-apa." jawab Surya singkat.
"Masih nanya lagi, gua kenapa.. dasar luh ganjen." batin Surya yang masih meradang.
"Iih gak jelas dah, tadi bae-bae aja." batin Naya.
Sampai di rumah.
"Assalamualaikum." ucap Surya yang melihat pintu rumah Naya tertutup.
Sedangkan Naya duduk di teras, di ikuti Surya yang ikut di teras dengan duduk berjarak di antara keduanya.
Surya membuang puntung rokok yang sudah kecil.
"Waalaikum salam, baru pulang luh?" ucap bunda sambil membuka pintu.
Melihat Naya dan juga Surya duduk di teras, di tambah lagi dengan raut wajah yang tampak lelah terpancar nyata dari ke duanya.
"Cape amat?" tanya bunda lagi yang ikut duduk di teras.
"Iya bun." jawab Surya, "Oh iya, ini buat bunda." ucap Surya sambil menyodorkan plastik yang berisi buah rambutan.
"Widih, tau bae bunda lagi pengen makan rambutan." ucap bunda yang langsung memetek rambutan lalu mengupas nya dan memakan buahnya.
Nenek Fatimah duduk di teras rumahnya sambil berkata, "Baru pulang luh, bocah?" tanya nenek Fatimah yang melihat Naya dan juga Surya.
"Iya, nek." jawab Naya.
"Emak, sini dah." panggil bunda dengan tangan melambai ke arah nenek Fatimah.
"Luh makan apaan, Imah?" tanya nenek Fatimah sambil menghampiri bunda.
"Aku ambilin minum ya, Sur?" tanya Naya.
"Iya." jawab Surya singkat, sambil mengirim pesan pada hapenya.
"Dia lagi ngirim pesen ke siapa sih?" batin Naya kepo.
Naya masuk ke dalam rumah untuk mengambilkan air minum untuk Surya.
"Luh beli rambutan di mana, Imah?" tanya nenek Fatimah sambil makan rambutan dengan duduk di samping bunda.
"Bukan aya yang beli, tuh Surya yang beliin." jawab bunda.
"Eh iya tong, luh abis maen ke mana emangnya?" tanya nenek Fatimah.
"Tadi pagi abis dari BP, nek.. terus ke rumah temen." jawab Surya.
"Di BP ada apaan tong?" tanya nenek Fatimah lagi.
Naya ke luar dengan membawa segelas air minum dan juga botol yang berisi air dingin.
"Minum dulu nih." ucap Naya pada Surya sambil menyodorkan gelas berisi air dingin.
Naya duduk di samping Surya.
Surya langsung mengambil gelas yang di sodorkan ke arahnya dan langsung meminumnya hingga habis.
"Ada orang jualan nek, tempat nongkrong juga, ada bioskop juga." ujar Surya setelah menghabiskan minumnya.
"Heeet jauh-jauh liet orang dagang doang tong? noh di Pasar Ceger juga ada orang jualan tong." cerocos nenek Fatimah.
"Lah ya beda mak, Pasar Ceger mah ora berAC beda ama BP." sela bunda.
__ADS_1
"Luh udah makan, tong?" tanya nenek Fatimah lagi.
"Udah, nek." jawab Surya.
"Ayah sama Ani, belom pulang bun?" tanya Naya.
"Paling dikit lagi, Nay." jawab bunda.
"Apri, kemana bun?" tanya Surya yang belum melihat Apri.
"Ada noh lagi nonton kartun, biasa mantengin televisi kali udah sore dia mah." jawab bunda.
Seperti magnet, baru di omongin.. anaknya langsung ke luar dan berjalan menghampiri Surya.
"Apa, om? om cari-cari aku?" tanya Apri yang sudah duduk di pangkuan Surya.
"Apri, dari mana?" tanya Surya sambil mencubit gemas pipi gembul Apri.
"Ton tv, om."
"Udah mandi, belom Pri?"
"Udah dong, udah wangi."
"Om sama ka Nay tuh Pri, yang bau.. kan dari pagi jalan-jalan mulu." celetuk bunda.
"Luh madang dulu, Sur." tawar bunda.
"Gak bun, mao langsung pulang aja." jawab Surya.
Apri langsung bangun dari pangkuan Surya dan berpindah ke pangkuan Naya.
"Udah kaya ora punya tulang luh Pri." ucap Naya.
"Hehehe."
Surya bangun dari duduknya dan mencium punggung tangan kanan bunda dan juga nenek Fatimah secara bergantian.
"Surya pulang, bunda." ucap Surya.
"Eeet di kata madang dulu juga." ujar nenek Fatimah.
"Nanti ajanek di rumah, masih kenyang ini." jawab Surya.
"Gak nanti malam aja pulang nya?" tanya Naya yang serasa berat melepas kepulangan Surya.
"Aku cape." jawab Surya.
"Hati-hati." ucap Naya.
"Iya." jawab Surya yang langsung berjalan pulang.
...πΉπΉπΉπΉπΉπΉ...
bersambung....
terima kasih sudah mampir untuk membaca karya receh author ππ
mohon ππ»ππ» dukung karya receh author ππ dengan cara β©οΈ
...like...
...komen...
...vote...
...βββββ...
...πΉ...
...β...
...πΈπΈπΈ salam manis πΈπΈπΈ...
__ADS_1