Cinta Tak Terpisahkan

Cinta Tak Terpisahkan
Bimbang


__ADS_3

...🌷🌷🌷...


Pesan dari Surya? Surya ngirim pesen apaan ya? Ku buka pesannya, "Ngapain kamu ngelietin temen kamu itu? Suka lu sama dia?" Pesan yang di kirim Surya ke nomor hape ku.


Waduh, ada yang bakal ngamuk ini mah! Mata ku menoleh ke belakang, ku lihat Surya yang sedang duduk di atas motor sambil menye sappp putung roko yang ada di tangan kanannya dan hape di tangan kirinya.


Ehem


Aku berdehem dan berdiri.


"Kenapa lu, Nay?" Tanya ka Fajar yang melihat ku seketika berdehem.


"Gak apa apa." Ku langkahkan kaki ku ke arah Surya dan meninggalkan ka Novi dan ka Fajar.


Ka Novi melihat ke arah ku, matanya tertuju pada Surya yang duduk di atas motor, "Pantesan itu bocah langsung nyelonong!" Seru ka Novi.


"Kenapa emang?" Tanya ka Fajar yang lantas mengikuti arah tatapan Novi, menatapnya sekilas, "Kaga dewasa itu namanya cowok, cemburuan gak jelas, secakep apa kali si Naya... masih cantikan juga cewek gw." Ujar Fajar.


"Yeeeh lu Fajar, orang kalo udah cinta, mau di kata jelek sama orang, tetep cakep di matanya." Ujarnya.


"Udah lah, itu urasan dia pada, ngapain kita ngurusin." Fajar fokus lagi pada buku dan catatan stok daging.


Aiiiih serem kali wajah mu Surya, ayank embeb ku lagi cemburuan rupanya. Alihin aja lah, langsung gw kasih duit punjeman dari Ariyanti, kali bae dia lupa buat marah, hahay deh otak lu jalan juga Nay.


"Tadi di jalan gak macet, yank?" Tanya ku saat sudah berdiri di samping Surya.


Surya menatap ku dengan mata memicing.


"Kamu mau minum gak, yank? Eh aku dapet loh punjeman dari Ari!" Seru ku yang nyerocos tanpa rem, yah sebagai pengalihan rasa di hati, udah kaya orang ke gep selingkuh padahal gw ga selingkuh.


Surya menoleh kanan dan kiri, berharap tidak ada orang di sekitarnya. Gila aja si Naya, bisa ancur harga diri gw kalo sampe ada yang denger.


Sedangkan aku tidak mengerti arti Surya yang menoleh kanan dan kiri, ku pikir dia sedang mencari sesuatu.


"Kamu nyari siapa, yank?" Tanya ku.


"Gak usah bahas duit sekarang deh, bikin malu aja sih!" Ketusnya.


Kesel gw di kata bikin malu, "Ya udah, aku balik sana dulu!" Ku tinggalkan Surya di tempatnya dengan hati yang dongkol.


...


Aku duduk menghampiri Ariyanti yang sedang bermain game di hapenya.


"Gak terasa ya 2 bulan lagi puasa!" Seru Ariyanti.

__ADS_1


"Iya, nih... libur berapa hari ya kira kira?" Tanya ku.


"Kalo kemaren sih awal puasa kita libur, lebaran libur 3 hari." Ujar Ariyanti.


...


Akhirnya sampai juga di rumah, Surya sejak dari tempat kerja ku tampangnya tidak bersahabat.


Begitu seneng hati saat sampai di rumah, setelah di perjalanan yang terasa begitu jauh jarak yang di tempuh, pada hal jarak yang aku tempuh itu jalan yang biasa ku lewati.


Sampai rumah aku langsung masuk dan melihat ayah, bunda masih terjaga tengah ngobrol di kamarnya dengan tivi menyala, Ani sudah ke alam mimpi


"Baru pulang, Nay?" Tanya ayah.


"Salam likum orang mah, kalo dari mana mana!" Tegur bunda saat aku mencium punggung tangan ayah dan bunda bergantian.


Wah iya, lupa aku buat ngucap salam, "Lupa bun, assalamualaikum!" Seru ku yang langsung berjalan ke kamar dan menaruh tas di dalam lemari box, tanpa berganti baju lagi aku langsung membuka kulkas dan mengambil gelas untuk aku bawa ke luar.


"Udah telat!" Seru bunda dengan suara keras biar aku dapat mendengarnya, "Anak lu tu, bang!" Seru bunda Imah lagi.


"Anak gua ya anak lu juga, Imah." Ujar ayah yang kini memakai kaca mata minusnya.


"Ama Surya, lu Nay?" Tanya bunda.


Kruk kruk kruk.


Baru juga duduk, udah ada bunyi cacing disko minta di isi amunisi.


"Kamu laper, yank?" Tanya ku polos menaruh gekas dan botol minum di lantai.


"Iya lah laper, aku dari tempat kerja langsung jemput kamu."


Ku berikan uang hasil pinjeman tadi pada Surya, Surya langsung memasukkannya ke dalam kantong saku celananya.


Bunda ke luar menemui Surya, "Baru pulang kerja lu, Surya?" Tanya bunda Imah saat melihat kemeja yang Surya kenakan, kemeja hijau berlebelkan nama PT ia kerja.


"Makan dulu gih! Pasti lu belom makan pan ya!" Seru bunda lagi.


"Iya bun, Surya belum makan, cacing di perutnya udah pada demo." Ujar ku membuat wajah surya bersemu merah semerah tomat matang.


"Gak gitu juga kali, honey!" Seru Surya.


Kini ayah ikut ke luar, "Makan dulu gih!" Seru ayah dengan mengibaskan tangannya menyuruh Surya untuk makan, "Ajak masuk Nay, makan di dalam " Ujar ayah.


"Surya izin ajak Naya ke luar ya, bun!" Ucap Surya.

__ADS_1


"Mao kemana?" Cicit ku menatap Surya.


"Mao beli bakso bun, enak ini anget anget." Ujarnya.


"Ya udah sono, jangan lama lama lu, udah malam ini!" Seru bunda.


"Iya, bun."


"Bunda sekalian ya, Sur!" Ledek bunda.


"Apaan si lu, Im!" Gerutu ayah.


"Hahaha ayah kaya sama siapa aja, pasti Surya beliin buat ayah sama bunda." Terang Surya yang langsung berjalan meninggalkan rumah ku dan ku ikuti langkahnya di belakang.


Ayah memasukkan motor ku ke dalam rumah.


"Lu ora jadi omongin, Im?" Tanya ayah Adi yang ikut duduk di tepian kasur bersama dengan bunda.


"Au ini bang, aya belom ngomong ama Nay, kira kira surya bakal marah apa gimana ya kalo aya tegor!" Seru bunda yang di liputi rasa bimbang.


"Ya lu coba omongin dulu ama, Naya.. kira kira yang enak ngomongnya itu gimana, apa lagi kan yang lebih tahu itu bocah ya si Naya." Ayah diam untuk sesaat, "Kalo emang udah jodohnya Naya sama Surya, Surya bakalan maju bagen lu tegor kaya gitu juga, Im." Terang ayah Adi.


"Kalo Surya ora terima di tegor?"


"Lah ya, bocah putus... emang ora di takdirin ampe nikah."


Rupanya gunjingan para tetangga mulai sampai di telinga bunda, perihal hubungan ku dengan Surya.


Ada warga yang mengadukannya pada bunda, Surya yang selalu pulang larut malam jika habis dari rumah ku, ada juga yang melebih lebihkan ucapanya, dengan bilang melihat ku duduk di pangkuan Surya, belum lagi asumsi warga yang merasa benar dengan apa yang ada di pikirannya, ada bae dah ucapan orang yang gak suka dan gak enak di dengar.


Ayah dan bunda makan bakso di kamar dengan membangunkan Ani dan Apri, berbagi itu indah bagen 2 mangkok porsi bakso di makan berempat, sedangkan aku dan Surya makan di luar dengan mangkuk terpisah.


"Sur kalo udah selesai makannya, ngomong ya! Ada yang pengen bunda omongin." Ujar bunda yang berdiri di depan pintu melihat ku dan Surya yang belum selesai makan bakso.


"Ngomong sekarang aja, bun!" Seru Surya.


Bersambung...


...🌷🌷🌷🌷...


Terima kasih udah mampir 😊


Jangan lupa 👍


Komen ya 😊😊😊 barang cuma 10 huruuuuuf bae dah

__ADS_1


__ADS_2