Cinta Tak Terpisahkan

Cinta Tak Terpisahkan
Bif Stop


__ADS_3

...🌷🌷🌷...


"Aku pulang nih kalo kamu ngambek!" Ancam Surya.


"Siapa juga yang ngambek." Elak ku.


"Coba aja kamu gak sakit ya honey!"


"Emang kalo aku gak sakit, kenapa? Mau jalan jalan ya?" Tanya ku sambil memindahkan mangkuk yang aku gunakan tadi bersama Surya ke dalam rumah.


Ku taruh mangkok bekas aku dan Surya makan tdi di atas lantai kamar mandi, cuci mangkoknya nanti bae, sekarang waktunya pacaran dulu bagen di kata masih pagi juga, sikat bae 🤭🤭


Aku mendudukkan diri ku di lantai sambil mengobrol ngalor ngidul bersama dengan Surya.


"Ya kaga sih, cuma coba aja kalo kamu gak sakit, kamu sehatkan aku seneng." Ujarnya.


"Owh."


"Yang nyeruduk kamu cowok ya honey?"


"Ehem." Ku tatap wajah Surya yang makin hari makin bersinar terang di hati ku doang tapi, kalo di lihat orang mah ya sama bae, sama bae muka Surya butek 🤭.


"Iya, cowok ... kenapa? Kamu mau kenalan sama dia, yank?" Tebak ku.


"Dih, ogah amat aku kenalan sama cowok, masa jeruk makan jeruk yang bener aja kali, honey! Mending aku kenalan sama cewe."


Ku cubit pinggang Surya, "Awh, sakit honey!" Seru Surya yang mengaduh kesakitan karena cubitan yang bersarang di pinggangnya.


...Skip lah kelamaan 😊...

__ADS_1


Satu tahun kemudian, Naya udah ngambil motor nih, Naya ngambil motor gigi bukan metik pada umumnya yang biasa di kendarain cewek kebanyakan.


Naya sama Surya juga masih nyambung biar kata akur akur tapi kalo lagi berantem ya pake gw lu, kalo lagi ke banyakan sayangnya, orang laen ngontak.


Dava masih skak di tempat, belum berani maju, entah apa yang di tunggu sampe belum juga nyatain perasaannya ke Naya.


Naya kerja bukan di dapur bebek lagi, resto dapur bebek sudah tutup dan pindah ke jawa.


Sama sama resto, tapi yang di hidangkan pun berbeda. Jika dulu Naya berurusan dengan yang namanya bebek dan ayam, tapi kali ini di Bif Stop, Naya berurusan dengan yang namanya daging.


Perbedaannya di sini Naya udah ada motor sendiri, biar kata di jemput sama Surya, yang tadinya Naya bisa langsung duduk manis di boncengan kini berbeda, Naya memilih bawa motor sendiri biar gak telat sampe di resto, kalo di anter jemput sama Surya, pasti Naya telat.


Jam menunjukkan pukul sepuluh malam lewat tiga puluh menit.


Semua anak dapur tengah proper, begitu pun dengan depan.


Sebagai tangan kanannya owner, ka Novi nantinya akan menyerahkan data resto pada orang kantor.


Gajian di resto kali ini juga berbeda dari resto yang sebelumnya, Bif Stop lebih gaya, gaji setiap karyawannya lewat ATM, kartu kecil yang berbentuk pipih tapi berduit alias berharga.


Di saat aku akan membantu teman ku yang menjadi waitres, ka Novi memanggil, "Nay, sini kamu!"


Ku hampiri lah ka Novi yang sedang duduk di meja nomor 6, ka Novi sedang menyamakan barang yang ke luar di kasir dengan stok barang catatan dari ka Fajar, chef di Bif Stop tempat ku bekerja kini.


"Kenapa dah, ka?" Tanya ku.


"Sini." Ka Novi menyuruh ku duduk di sampingnya, sedangkan ka Fajar duduk di depannya.


Ku turuti saja lah, "Terus ngapain ka?" Tanya ku lagi.

__ADS_1


"Belajar nyamain, Nay ... biar lu bisa nanti kalo ka Novi lagi libur!" Seru Fajar.


Aku memperhatikan bagaimana ka Novi dan ka Fajar mengarahkan ku, cara menyamainya, cara menghitungnya, terlihat mudah tapi jika 1 angka salah, maka semua laporan akan amburadul, gak sama antara barang yang ada di stok dan barang yang keluar.


Ku lihat Ariyani dan Dodi, waitres di Bif Stop tengah membagi tugas. Ariyani mencuci lap meja, sedangkan Dodi mengepel lantai.


Ka Adi masih mencuci alat yang di gunakan untuk menggoreng, sedangakn tadi sebelum menyamakan laporan pengeluaran stok barang, ka Fajar lebih dulu mencuci alat gril yang di gunakan untuk membakar bif.


"Bisa gak, Nay?" Tanya Fajar.


"Insyaallah kalo kaya gini mah bisa." Ujar ku.


Di saat sudah selesai dengan laporan, ka Novi mengintruksikan Dodi untuk membawa masuk mesin kasir ke dapur.


"Udah kan gak ada lagi!" Seru ka Novi.


"Gak ada, udah yuk pulang, udah malam ini." Seru Adi yang melihat jam di tangan sudah jam sebelas malam.


Ariyani sudah di jemput ayahnya, sedangakan ka Adi, ka Fajar dan ka Novi pulang dengan mengendarai sepedah motornya sendiri. Kalo Dodi untuk sampai di resto ia berjalan kaki dan untuk pulangnya terkadang ia di ajak bareng dengan temannya yang kebetulan kerjanya di resto juga hanya beda nama restoran dan nama tempatnya, tapi masih dalam satu wilayah yaitu taman jajan, alias sektor sembilan.


Tanpa aku sadari ternyata ada sepasang sorot mata yang tengah menatap ku tajam, sedang memperhatikan sikap ku sedari tadi dari atas motornya.


"Awas aja si Naya, pake deketan gitu sama cowok!" Serunya.


Bersambung...


Terima kasih udah mampir 😊


Jangan lupa 👍

__ADS_1


__ADS_2