
Berhubung malam ini Naya di jemput ayah dengan sepedah, yang biasanya hanya memakan waktu 20 menit jika menggunakan sepeda motor, kali ini membutuhkan waktu 40 menit untuk ayah sampai di rumah, lebih lama.
Tapi tidak terasa karena sepanjang perjalanan Naya dan ayah saling bertukar cerita dan melakukan tanya jawab sambil menikmati dinginnya malam.
"Ko jalan sini, yah?" tanya Naya heran.
Ayah membilukkan laju sepedahnya masuk ke cikini, karena setahu Naya jam segini pasti portal kompleks sudah di tutup.
"Lebih deket Nay..."
"Ayah, gantian sini aku yang bawa." pinta ku merasa tidak enak pada ayah.
"Ayah pasti lelah mengayuh sepedah udah gitu bonceng aku juga. Maaf ya yah." batin Naya.
Saat sudah di depan portal kompleks yang tertutup rapat, ayah menghentikan laju sepedahnya.
"Tuh kan, portalnya di tutup yah..." seru Naya yang melihat portal kompleks di tutup.
"Kamu turun, Nay." kata ayah sambil menghentikan laju sepedahnya.
"Terus kita gimana, yah?" tanya Naya saat sudah turun dari sepedah.
"Kamu jalan lah Nay."
Naya masih tidak bergeming, melihat ayah yang menuntun sepedah melewati kolong portal dengan memiringkan sepedah dengan badan ayah yang sedikit di bungkukkan, wiiih cara ayah berhasil.
Naya pun mengikuti cara ayah dengan membungkukkan badan dan melewati kolong portal.
"Ayo Nay, naik lagi." pinta ayah sambil duduk di atas sepedah.
Naya pun duduk lagi di boncengan sepeda. Ayah pun melajukan lagi sepedahnya saat Naya sudah duduk di atas boncengan. Masih ada 1 portal kompleks lagi yang harus di lewati, dan itu lumayan tidak jauh jaraknya dari portal yang tadi kami lewati.
"Turun lagi, yah?" tanya Naya saat sudah di depan portal kompleks yang ke 2.
"Kaga, Nay."
"Terus..?"
"Loncat Nay. Iya turun lah Nay, masa kamu gak liet tuh udah ada portal."
"Hehehe kali bae gitu ayah bisa lewatin portal tanpa Naya turun."
Naya pun turun dari boncengan sepedah dan berjongkok melewati portal kompleks yang ke 2 ini, maklum udah di portal pake ada polisi tidurnya.
Ayah harus lebih mencondongkan sepedanya agar bisa melewati portal kompleks.
"Ayo naek lagi, Nay." seru ayah.
Ayah melajukan sepedahnya lagi dan mengayuh dengan hati-hati saat di jalan yang rusak.
"Aku turun aja deh yah." pinta Naya.
"Gak usah, udah kamu pegangan aja, takut jatoh noh."
"Makanya takut jatoh, aku jalan aja yah..."
"Udah tar aja."
"Ayaaaah, tanjatan depan... Naya turun aja ya yah."
"Udah kamu duduk manis aja... jangan goyang-goyang, ayah ngimbanginnya susah nih."
Saat jalan menanjak, laju ayah semakin pelan. Tenaga yang ayah keluarkan juga harus bertambah di tambah beban badan Naya yang di bonceng dan jalan yang menanjak.
__ADS_1
Karena sepedah yang di bawa ayah semakin melambat, Naya nekad turun dari sepedah. "Yeeee, Naya turun yah." sorak Naya sambil turun dari boncengan sepedah dan bertepuk tangan kegirangan.
"Dasa* bocah, di kata jangan turun." umpat ayah.
"Gak apa yah, ayah udah cape." jawab Naya sambil kedua tangannya menyentuh boncengan yang tadi di duduki Naya, lalu Naya mendorongnya.
"Ayo naek lagi, Nay." ajak ayah yang sudah berhasil melewati jalan menanjak yang cukup tinggi.
"Oke bos." jawab Naya sambil duduk kembali di atas boncengan sepedah.
Sampai dekat gang rumah. Naya melihat gerobak bakso yang lagi mangkal di depan warung yang tidak jauh dari gang rumah.
"Wiiih enak tuh."
"Enak apa, Nay?"
"Bakso, yah."
Ayah menghentikan laju sepedah di depan gang, Naya pun turun dari boncengan sepedah.
"Beli bakso nih." ucap ayah sambil menyodorkan uang sepuluh ribu pada Naya.
"Beli berapa, yah?" sambil mengambil uang yang di sodorkan ayah.
"Beli aja semua. Tar buat kamu sama bunda."
"Beres yah. Ayah jalan aja duluan."
"Kamu berani?"
"Hehehe... kaga, yah." jawab Naya sambil cengengesan.
"Au amat, Nay. Udah sonoh jalan."
Ayah menunggu Naya di depan gang, sedangkan Naya langsung berlari menghampiri gerobak bakso.
"Di mangkok apa di bungkus, neng?" tanya si abang bakso yang langsung berdiri dari duduknya.
"Bungkus, dua ya bang." ucap Naya seraya menyerahkan uang sepuluh ribu kepada si abang bakso.
"Campur semua, neng?"
"Yang satu campur, yang satu lagi gak pake mie putih.. Sambelnya di pisah ya bang."
"Beres, neng."
Si abang bakso langsung meracik dan membuatkan bakso pesanan Naya, dua porsi bakso yang di bungkus.
"Eh ada Naya, jam segini baru pulang Nay?" tanya Dafa saat sudah berdiri di belakang Naya.
"Iya bang."
"Kamu pulang sendiri, Nay?" tanya Dafa lagi, dan menggeser dirinya jadi berdiri di samping Naya.
"Gak, tuh di jemput sama ayah." ujar Naya sambil menunjuk ke arah yang sedang menunggu di depan gang.
"Kalo kerja kamu pake kerudung, Nay?"
"Iya.. bang." jawab Naya sambil melihat ke arah Dafa.
Untuk beberapa saat Naya dan Dafa saling beradu pandang.
"Sebenernya sih, bang Dafa cakep. Tapi sayangnya aku gak deket sama bang Dafa. Malah lebih dekat ke Surya." batin Naya.
__ADS_1
"Ya Allah, lumayan cantik Naya kalo pake kerudung. Biar di kata tingkah lakunya kaya bocah." batin Dafa.
"Baksonya, neng?"
Ucapan si abang bakso menyadarkan Naya dan Dafa dari lamunannya masing-masing.
"Baksonya, neng." kata si abang bakso lagi mengulang pertanyaan.
"Makasih, bang." ucap Naya sambil meraih bungkusan plastik bening bersisi bakso.
"Naya, duluan bang." pamut Naya pada Dafa.
"Mau di antar abang gak, Nay?" tawar Dafa.
"Lah gak usah, orang udah ada ayah noh di sonoh." ucap Naya sambil berlari ke arah ayah dan meninggalkan Dafa dan juga si abang bakso.
"Ngapain pake lari sih Nay?" tanya ayah saat Naya sudah berdiri di depan ayah.
"Pengen cepat nyampe rumah, yah. Biar bisa makan bakso." ucap Naya sambil ngos-ngosan.
"Assalamualaikum, bunda." ucap Naya sambil mengetuk pintu.
"Waalaikum salam." jawab bunda dari dalam rumah.
Kreeeeek ( bunda membuka pintu).
"Kamu bawa apa, Nay?" tanya bunda.
"Bakso, bun." jawab Naya sambil meraih dan mencium punggung tangan kanannya bunda.
Naya membuka sepatu dan kaos kaki lalu masuk ke dalam rumah dan menuju dapur untuk mengambil 2 mangkok beserta sendok dan garpu.
"Asik makan bakso." ujar Ani yang ternyata belum tidur dan masih menonton televisi.
"Tumben kamu belum tidur?" tanya Naya.
Naya duduk di lantai bersama dengan ayah, bunda dan juga Ani sambil menyerahkan mangkok pada bunda.
"Aku berdua kaka ya?" tanya Ani.
"Iya, bunda berdua ayah." ujar bunda.
"Apri gak di bangunin bun?" tanya Naya.
"Apri susah di bangunin kalo udah tidur Nay." jawab bunda.
Jadilah Naya menghabiskan seporsi bakso bersama dengan Ani. Sedangkan ayah seporsi bersama dengan bunda. Menikmati bakso sambil sesekali Naya menjawab pertanyaan yang di lontarkan bunda, mengenai hari yang di lalui Naya di resto hari ini.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
bersambung....
terima kasih sudah mampir untuk membaca karya receh author ๐๐๐
mohon ๐๐ป๐๐ป dukung karya receh author ๐๐ dengan cara โฉ๏ธ
โขโขโขโขโขโข> ๐ like
โขโขโขโขโข> โ๏ธ komen
โขโขโขโขโข> โญโญโญโญโญ
โขโขโขโขโขโข> vote
__ADS_1
โขโขโขโขโขโข> ๐๐นโ
โขโขโขโขโขโข> โฅ๏ธ favorit biar gak ketinggalan cerita'nya ๐๐๐ค