
...🍃🍃🍃...
Aku melempar hape ke atas kasur, "Kemana si luh! Dasar buaya, ga berubah, mentang mentang sekarang udah ada motor, jadi angot lagi itu miringnya!" Omel ku sambil memiringkan tubuh ku ke arah dinding, memarahi dinding dengan satu jari telunjuk menunjuknnya seolah dinding itu adalah Surya.
Naya gak tahu aja ulahnya membanting hape di kasur dan marah marah gak jelas ternyata di lihat oleh sepasang mata yang tidak sengaja melihatnya.
"Dasarrr bocah labil, tadi bae lu sayang sayangan, sekarang aja lu ngambek, marah di depan orangnya napa!" Gerutu bunda Imah sambil kembali membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
"Ngapa lu, Im?" Tanya ayah yang merasa guncangan di tempat tidurnya di barengi dengan suara bunda yang gerutu.
"Ora ngapa, udah tidur lagi...pala aya masih sakit ini!"
Dengan telatennya ayah memijat kembali kening bunda Imah meski dengan posisi tiduran, lelahnya mata membawa ke duanya kembali ke alam mimpi.
🍀🍀🍀
Pagi harinya bunda yang masih kurang enak badan memaksakan diri untuk memasak nasi lalu sholat subuh.
Ani yang baru selesai dengan wudhu meririk ke kamar bunda, "Bunda gak masak lauk?"
"Ga deh Ni, kaka kamu udah bangun?" Tanya bunda yang sedang merebahkan tubuhnya di atas kasur.
"Belom, ayah kemana bun?"
"Kaka kamu bangunin gih! Ayah masih di mushola, belom balik."
"Kaaa, bangun ka... udah subuh. Sholat gih, nanti di marahin bunda luh!"
"Emmm." Aku mengulet dengan mengangkat kedua tangan ke atas.
"Cepet ih, abis itu masak ya ka! Hehehe." Ani langsung memakai mukenanya dan sholat subuh 2 rokaat.
Aku mendudukkan diri di pinggiran kasur, menatap Ani yang lagi sholat subuh.
Tadi gw ora salah denger ya? Ani bilang masak? Emang bunda belom enakan apa ya?
Aku bangkit dari tempat tidur dan berjalan melihat keadaan bunda, "Bunda udah enakan?" Tanya ku sambil menyentuh dahi bunda, "Udah mendingan tuh! Gak panas kaya semalam."
"Naya masak lauk gih! Tadi bunda udah masak nasi. Pala bunda masih pusing buat di bawa berdiri." Terang bunda.
Yaaah kalo kaya gitu, apa boleh buat dong, mana aku gak bisa masak lagi, bumbu dapur aja gak kenal. Begini lah repotnya kalo bunda sakit, rumah acak kadut. Makan gak ada yang urus.
"Malah dia ngelamun! Udah sana kamu sholat subuh dulu, abis itu masak kangkung ama tempe, tadi bunda liet masih ada stok sayuran di kulkas." Terang bunda lagi sambil mengguncang lengan ku.
"Iya iya."
Aku langsung ngambil wudhu lalu sholat subuh, baru deh mengeluarkan kangkung dan tempe untuk di masak.
"Bun, ini kangkungnya apain?" Aku mengarahkan bungkusan plastik putih yang berisikan kangkung yang sudah di insangin sama bunda.
__ADS_1
"Itu bunda udah cuci kangkungnya, kamu tinggal ulek bumbunya aja Nay." Oceh bunda sambil menonton tivi sambil rebahan dengan bantal yang agak tinggi di kepala.
"Bumbunya apa bae, bun?"
"Makanya kalo bunda lagi masak, di lietin biar kamu tau apa aja yang di perluin buat bumbu kangkung, Naya Naya!"
"Ah bunda mah ngoceh bae!"
Dengan inisiatif ku, aku taruh saja kembali kangkung dan tempe di dalam kulkas, aku berlari ke dapur.
"Kaka Naya mao masak aja rempong amat ya! Hahahha." Ledek Ani dari dalam kamar sambil memakai seragam sekolahnya.
"Bodo amat mao di kata apa ge!" Oceh ku dengan kembali ke ruang depan dengan membawa talenan kayu, piso, sebuah baskom, mangkok sedang dan 2 saringan plastik.
Aku meletakkan semua yang aku bawa di lantai depan kulkas.
Bunda pindah ke ruang depan memperhatikan ku sambil duduk menyandar pada dinding dekat pintu kamarnya dengan berselonjor kaki.
Kangkung yang sudah di insangin bunda langsung deh aku masukin ke dalam baskom.
Aku mendudukkan diri di lantai, "Potong semana, bun?" Tanya ku sambil tangan kanan memegang pisau dan tangan kiri memegang tempe yang ada di atas talenan kayu.
"Semana bae yang kamu mao."
Senyum ku merekah, Aseek cuma motong tempe mah kecil, aku potong tipis tipis aja lah.
Baru juga 2 lembar potongan tempe, udah dapet komplenan dari bunda.
"Eeeet bunda mah, kan tadi bunda sendiri yang bilang terserah Naya ukurannya!" Dumel ku tidak mau kalah dengan menatap bunda dengan bibir yang mengerucut.
"Bunda bilang tebelin lagi motongnya!"
"Iya, iya ih, ngomel mulu." Aku melanjutkan motong tempe dengan ukuran yang lebih tebel.
"Ini mangkoknya isiin garem ama penyedap rasa taroin aer dikit." Ujar bunda mengarahkan tangannya pada mangkok yang tadi aku bawa.
Aku berjalan ke dapur dengan membawa mangkok, "Buuuuun, garemnya seapaan ini?" Teriak ku dari dapur.
"Setengah sendok teh, penyedap rasanya juga." Ujar bunda.
Aku kembali ke depan dengan membawa mangkok di tangan kiri dan gayung yang berisi air di tangan kanan.
"Buat apaan kamu bawa gayung, Nay?" Tanya bunda saat melihat ku juga membawa gayung ke depan.
Aku berjongkok di sebelah bunda, mengarahkan gayung dan mangkok "Ini aernya semana, bun?" Tanya ku dengan enteng.
"Astaghfirullah, ini bocah mao masak ribet banget ya!" Bunda menuangkan air secukupnya ke dalam mangkok.
Bunda mengarahkan gayung ke arah ku, "Ini! Kamu taro dulu di kamar mandi, tar kalo ke tendang aja, basah lantainya!"
__ADS_1
Aku abaikan seruan bunda, aku taro aja itu gayung depan pintu kamar bunda, "Ya elah bun, taro bae dulu di sini."
Bunda geleng geleng kepala melihat ku yang abai.
"Apa lagi ini, bun?" Aku mendudukkan diri di lantai.
"Tempenya masukin ke mangkok lah, kan biar nyerep itu bumbunya bagen kata garem ama penyedep!" Seru bunda.
"Oh iya, lupa." Ku masukkan potongan tempe ke dalam mangkok yang tadi sudah berisi air, garam dan penyedap.
"Bawang merahnya kamu kupasin, Nay!"
"Berapa biji, bun?"
"Bawang merah 7, bawang putih 3, kemiri 3, cabe merah keriting 4, rawitnya pake 1 bae, ama tomat setengah nanti kamu ulek ya!"
"Eet ya, atu atu apa, bawang merah 7, bawang putih 3, kemiri 3, apa lagi tuh! Naya lupa kan!"
Ayah yang sudah rapih dengan baju kerjanya berdiri di depan pintu kamar memperhatikan Naya dan bunda yang sedang mengarahkan Naya untuk masak lauk pagi ini.
"Masak doang berisik amat si?"
"Orang lanang diem bae!" Sarkas bunda.
"Yah elah, bini gua galak amat...mending buat kopi dah!" Seru ayah.
Bukan ayah namanya kalo jalan mata melihat ke bawah dan ayah menendang gayung yang aku taro tadi di depan pintu kamar bunda.
Byuuuur.
"Adiiiiiii! Mata udah empat masih ora awas bae ya!" Suara bunda menggelegar di pagi hari.
Sisa air yang tersisa di gayung tumpah membasahi celana yang bunda pakai, menggenangi lantai.
Aku menyeret baskom, nyaringan dan sayuran menjauh dari genangan air.
Bunda langsung berdiri dan melangkah kan kakinya ke kamar, mengganti celana yang basah dengan yang kering.
"Lagian siapa suruh naro gayung di depan pintu!" Seru ayah yang menyeret topo kaki dengan satu kakinya, mengelap lantai yang basah dengan topo itu.
"Anak lu noh, yang naro gayung depan pintu!" Seru bunda dengan suara naik 3 oktaf.
Aku nyengir kuda aja deh, hehehe maaf ya yah, gara gara Naya jadi ayah kena semprot bunda, bunda juga harus ganti celananya yang kena air.
"Gegara gayung, pagi pagi udah riweh bener dah ah." Gumam Ani.
Bersambung...
...💖💖💖💖💖...
__ADS_1
Jangan lupa dukung author dengan like dan komen 😊😊
Salam manis 😊