Cinta Tak Terpisahkan

Cinta Tak Terpisahkan
Salah menilai


__ADS_3

"Kamu tadi ngabarin orang resto ga, honey?" tanya Surya saat sudah mendudukkan dirinya di bangku bersebelahan dengan Naya.


"Udah dong."


"Kapan? ko aku gak tau?"


"Pas aku tadi lagi di toilet, aku buru buru telpon bos aku."


"Kata bos kamu apa, honey?"


Naya tidak langsung menjawab, sehubungan kang bakso yang datang membawa 2 buah mangkuk bakso dan juga mie ayam ceker.


"Makasih, bang." ucap Naya saat mangkuk bakso sudah di depan meja nya.


"Sama sama, silahkan di nikmati." setelah mengucapkan nya kang bakso meninggalkan ke duanya.


"Tadi kamu alesan apa sama bos kamu, honey? ko bisa sih di kasih izin gak masuk?" cecar Surya sambil menikmati mie ayam ceker pesenannya.


"Ya yang aku udah bilang tadi, bilang kakek aku lagi sakit."


"Owh, ini aaaa." Surya menyuapkan mie ayam ke mulut Naya, Naya menerima suapan Surya.


"Enak kan racikan aku?" tanya Surya yang meminta pendapat Naya.


"Enak, ini gantian punya aku." Naya menyuapkan bakso ke mulut Surya.


"Emmmm pedes banget, honey." Surya langsung menyeruput minumannya.


"Oh iya, ka Sani kenal sama Anti di pabrik? apa mereka dulu temen sekolah?" tanya Naya.


"Dulu itu mereka satu sekolah, terus dia dateng ke rumah minta di cariin kerjaan... ya udah di ajak deh masuk pabrik." terang Surya.


"Sering main ke rumah? terus main sama kamu juga?"


"Iya sering main ke rumah, aku juga dulu sering ikut main ke rumah nya, di ajak sama Sani." jelas Surya lagi.


"Oooooh kamu dulu sering ke rumah Anti, kalo sekarang gimana? masih suka main ke rumah nya?" ujar Naya dengan ketus.


Aura kesel menyelimuti hati Naya, hati nya tiba tiba terasa mendidih mendengar penuturan Surya.


Apa sih Naya ini, tampangnya jadi jutek gini, tadi biasa aja... kenapa lagi coba ini bocah. Surya membatin.


Dengan riang Surya berkata, "Kalo sekarang, aku cuma ke rumah kamu honey.. tapi kalo kamu bolehin aku ke rumah Anti, aku seneng banget malah." Surya menggeser mangkuk yang kini sudah tandas isinya.


"Ya udah sana, gak usah ke rumah aku lagi... kalo masih mau ke rumah Anti." ucap Naya ketus dengan memainkan sendok hingga menghasilkan suara dari benturan mangkuk dan sendok.


"Kamu kenapa si, honey?" Surya menatap Naya yang mulai ngambek.


"Au amat, pikir aja sendiri." Naya menyingkir kan mangkuk nya yang masih tersisa isi nya, lalu menyeruput minumannya.


"Ko gak di abisin?"


"Kenyang." sarkas Naya.


"Emang kamu gak laper? aku aja laper, tuh liet mangkuk aku aja sampe bersih."

__ADS_1


"Udah gak selera." ujar Naya, namun di hati berkata lain, jelas gak selera, kamu ngomong nya gitu di depan aku, gak mikirin perasaan aku apa!


"Kamu kenapa si? muka di tekuk gitu, jelek tau, kamu itu cakepan senyum.." Surya menggeser mangkuk bakso dan mulai menyuapkan ke Naya.


"Ayo aaaa." dengan cepat Naya memakannya, pipinya yang gembul karena makanan membuat terlihat lucu di mata Surya.


"Kamu ngambek sama aku?" Surya menyelipkan anak rambut ke telinga Naya.


"Udah tau ngambek, pake di tanya."


"Ngambek kenapa lagi?"


"Au ah, dasarr kamu tuh gak bisa berubah... Fitri minta balik juga kamu pasti mau." celoteh Naya.


"Ya gak lah, kan aku udah ada kamu.. kalo kamu mau aku punya pacar 2, ya boleh lah." ucapan Surya langsung mendapat tatapan tajam dari Naya.


"Aku cuma bercanda, honey." Surya mengelus pucuk kepala Naya, "Aku cuma sayang, cinta sama kamu, aku juga setia sama kamu." terang Surya.


Kedua nya kini berjalan kaki menuju rumah Naya setelah usai mengisi perut yang keroncongan minta di kasih jatah makan.


"Pulang jalan jalan, Nay?" sapa laki laki yang berpapasan dengan Naya dan Surya di jalan.


"Iya, bang." jawab Naya dengan senyum terlukis di bibirnya sambil terus berjalan bersama dengan Surya.


"Kamu kenal sama cowok tadi? itu siapa?"


"Temen ngaji, bang Idir."


"Dia suka sama kamu?" tuduh Surya.


"Kaga."


"Ya gak lah, ngapa jadi aku."


"Lah itu tadi cowok itu nyapa kamu, pake senyum senyum segala, gak tau apa kamu lagi jalan sama aku." terang Surya.


"Dia juga tau kali kamu pacar aku, aku jalan sama kamu." Naya mengangkat tangannya yang sedang di genggam Surya.


Siapa yang gak lihat Naya lagi jalan sama Surya, itu bukti nya tangan mereka pegangan, lebih tepatnya Surya yang menggenggang tangan Naya.


Gak ada salahnya menyapa seseorang di jalan apa lagi kita itu kenal dengan orang itu.


Senyum itu bukan bearti suka terhadap seseorang, apa lagi mana pantas menyapa seseorang dengan keadaan wajah di tekuk, gak mungkin kan nyapa orang dengan wajah di tekuk atau dengan suara ketus?


"Kan aku udah bilang, honey... jadi cewek jangan keganjenan apa! aku gak suka ya, kamu senyum senyum ama orang apa lagi itu cowok, yang ada di pikiran itu orang pasti kamu suka sama dia." ujar Surya.


"Lah itu mah pemikiran kamu doang, yank, pemikiran aku mah gak gitu, aku gak keganjenan ya jadi cewek, dari dulu juga aku mah kaya gitu, kalo ketemu yang aku kenal ya aku sapa... aku kenal terus di jalan gak nyapa, idiiiiih sombong amat itu bocah ketemu gak nyapa, aku mah gak mau di kata gitu." terang Naya yang semakin kesal mendengar ocehan Surya.


Wajah memerah nampak dari Surya, tangan nya yang satunya di gunakan untuk menenteng belanjaan berubah menjadi kepalan tangan.


"Mulai sekarang, bisa kan gak usah ke ganjenan, aku malu punya pacar yang keganjenan sama cowok laen." ucapan Surya amat dingin dan datar.


"Au ah, di kata gw gak keganjenan, lu nya aja yang salah menilai gw." Naya mencoba melepaskan tangannya yang sedang di genggam Surya.


"Gak lucu tau gak! kamu kaya gini cuma buat belain itu cowok!" mata Surya menatap tajam Naya.

__ADS_1


"Kamu yang gak lucu, gak masuk akal."


Apaan si ini Naya, pulang dari jalan jalan malah berantem gini... gara gara itu cowok, hubungan gw jadi renggang gini. batin Surya.


Apa lagi ini Surya, gak ngerti banget kalo di kasih tau... di kata gw gak ada hubungannya ama itu si abng Idir, lagi juga cuma nyapa, yang beber aja gw di ajarin jadi sombong gitu, kaga boleh nyapa orang? kaga bener banget si ini ajaran nya. dumel Naya meski dalam hati.


Sampai depan rumah, Surya melihat ada bunda, Apri dan ayah yang lagi duduk di teras sambil duduk melantai.


"Assalamualaikum." ucap keduanya berbarengan saat sampai depan rumah.


Naya dan Surya menyalami ayah dan bunda bergantian.


"Asiiik bunda di bawain oleh oleh ini." celetuk bunda saat menerima kantong plastik dari Surya.


"Cuma itu doang, bun." Surya duduk di lantai dekat dengan bunda.


"Cape ya, cape? mukanya kumel bener." ledek ayah Adi sambil memijat bahu Naya.


"Cape tapi seneng, yah." raut wajah seneng Naya tampilkan dengan sederet gigi putih nya.


Ayah gak tau aja itu Surya udah bikin kesel, Nay. batin Naya.


Ayah gak tau aja, anak nya keganjenan sama cowok, udah tau lagi jalan sama pacar nya. batin Surya.


Ayah masuk ke dalam rumah, sedangkan bunda langsung memakan buah jambu biji nya.


"Eeem, enak ini Sur... makasih ya, bunda udah di beliin ini... bunda gak bayar kan?" tanya bunda.


"Ya gak bun, kan Surya yang beliin."


"Om, itu buat siapa?" tanya Apri yang menghampiri Surya dan langsung duduk di pangkuan Surya.


"Ini buat, Apri... lucu kan?" Surya langsung memakai kan topi bentuk kepala gajah pada kepala Apri.


"Apri lucu ya, om?" Apri mengadahkan kepalanya menghadap ke wajah Surya.


"Iya, Apri lucu... Ani mana bun?"


"Ada onoh di dalam."


Ayah membawakan minuman dingin untuk Naya dan juga Surya, sambil berkata, "Ini minum dulu, Sur."


"Makasih, yah." Surya meminum air dingin yang menyegarkan kerongkongannya.


Ani muncul dari dalam rumah dengan terbatuk batuk, "Uhuk uhuk uhuk, kayanya nama Ani ada yang nyebut nyebut ini?" ledek Ani.


"Apa bae." ujar Naya.


"Sini Ni, ini buat Ani." Surya menyodorkan boneka beruang berwarna hijau yang berukuran sedang pada Ani.


"Asiiik, tau aja ka... Ani suka warna hijo." Ani memeluk hadiah pemberian Surya.


bersambung...


...💖💖💖💖💖...

__ADS_1


Jangan lupa dukung karya receh author 😊


no komen julid nyelekit


__ADS_2