Cinta Tak Terpisahkan

Cinta Tak Terpisahkan
Cinta Tak Terpisahkan 58


__ADS_3

Di ruang depan rumah Naya yang di jadikan tempat berkumpulnya anggota keluarga, sebelum memulai aktivitas. Keluarga Naya sarapan bersama dengan menu ikan kembung yang di beri bumbu racikan bunda sendiri.


"Nay, bunda mau tanya.. bener gak apa nih, kalo gajian pertama kamu buat beli sepedah Apri?" tanya bunda di sela makan saat sedang menyuapkan nasi dan potongan ikan kembung ke dalam mulut Apri.


"Gak apa bun." ucap Naya dengan santai.


"Kaka Nay, gajian ya bun? Apri mau di beliin sepedah baru ya bun?" tanya Apri dengan mulut yang masih penuh dengan makanan.


"Apri di beliin maenan sepedah Pri, bukan sepedah yang bisa di taekin. wahahah." ledek Ani yang di akhiri dengan tawa geli.


"Itu mah, kaka Ani aja. Weeek." ucap Apri dengan menjulurkan lidahnya pada Ani.


"Apri.. Ani.. gak boleh gitu ah." ucap bunda menengahi.


"Ayah di beliin apa bun?" ucap ayah yang tidak mau kalah.


"Ayah.. emmm.. makan ajah tuh ikan kembung." ledek bunda.


Ayah hanya membalas ledekan bunda dengan memanyunkan bibirnya.


"Ahahaha.." Ani dan Naya tertawa melihat ayah yang cemberut.


"Bibir ayah, sakit ya yah?" tanya Apri dengan polosnya yang melihat bibir ayah maju 5cm.


"Bagus ya, ikut ngeledek ayah.. kalian ini.." ucap ayah dengan nada lirih.


"Ani mau dong ka." seru Ani.


"Mau apaan Ni?" tanya Naya.


"Mau buku kamus bahasa arab." ucap Ani.


"Noh, minta ama bunda.. kan duit bunda yang pegang." ucap Naya.


"Boleh ya bunda?" tanya Ani.


"Emang penting Ni?" tanya bunda.


"Penting bun, Ani yang mau kan.. hehehe.." jawab Ani dengan wajah di buat semelas mungkin.


"Di suruh sama pihak sekolah gak? ada hubungannya sama sekolah gak?" tanya bunda penuh selidik.


Karena Ani paling rajin minta di beliin buku, di baca cuma sekali dua kali, nantinya nasib itu buku berakhir di dalam kardus tempat penyimpanan buku. Sudah banyak buku yang bernasib seperti itu. Kalo kata bunda mah ya, mubazir.


"Gak ada sih bun.. tapi Ani mau bun." pinta Ani dengan mata berkaca-kaca.


"Cari yang penting dulu Ni, yang penting kamu apa buat sekolah?" tegur bunda.


"Apa ya.. Al-Qur'an deh bun yang ada terjemahannya." ucap Ani.


"Ya udah, nanti kamu beli sama ayah." ucap bunda.


"Asiiiik." sorak Ani.


"Beli sepedah kapan bun?" tanya Apri yang sudah tidak sabar ingin punya sepedah.


"Tar siang ya Pri, tunggu ayah istirahat kerja.. kalo pagi, bengkel sepedah belum ada yang buka." jelas ayah.


"Mau sekarang, yaaah." pinta Apri dengan menggelayut manja pada lengan kiri ayah.

__ADS_1


"Sabar ya tong Apri, anak bunda yang ganteng.. sepedahnya lagi di beli dulu sama yang jual, di cariin yang cakep.. tau Apri mau beli sepedah." tutur bunda membujuk Apri dengan jurus rayuan maut.


"Gitu ya bun? kok orang yang jual sepedah, tau Apri mau beli?" tanya Apri.


"Nah luuuh, dia tanya begitu.. jawab apa bun?" ledek Ani pada bunda.


"Kira-kira bunda bisa jawab pertanyaan Apri gak nih?" batin Naya.


"Lah ya tau lah, kan kaka Nay gajian... kemaren ntuh, ayah udah ngomong sama yang jual sepedah, minta di cariin sepedah yang gambarnya cakep.." tutur bunda memberi pengertian pada Apri. "iya kan yah?" tanya bunda yang meminta dukungan dari ayah.


"Uhuk uhuk.." ayah tersendak.


Bunda menyodorkan gelas yang berisi air pada ayah.. ayah pun langsung meminumnya..


Jam 10 pagi di rumah Naya..


"Surya udah lama Nay gak maen?" tanya bunda yang sedang duduk di teras rumah bersama dengan Naya.


"Di kata udah gak bun.. Naya sama Surya udahan." jawab Naya.


"Oh iya Nay, tadi bunda kasih nenek Fatimah uang dari gajian kamu.. yaah hitung-hitung buat nenek Fatimah jajan kue kering." ujar bunda.


"Iya bun. Oh iya bun, jadi gak ke swalayan beli buat bulanan bun, sekalian minyak wangi, terus sabun cuci muka aku bun." tanya Naya.


"Emang kamu mau jalan sekarang? naek angkot sama bunda?" tanya bunda.


"Ayok sekarang bun, Apri gak di ajak bun?" tanya Naya.


"Apri di ajak lah Nay.. mana mau dia ketinggalan pant** bunda." ledek bunda.


Bunda bangun dari duduknya hendak mengambil dompet yang berisi uang gajian Naya.


"Gak usah, tar juga ketemu di depan." ujar bunda.


"Ayo Nay.." ajak bunda pada Naya.


Naya dan bunda pun berjalan beriringan untuk ke swalayan, tapi sebelum itu bunda pamit dulu pada nenek Fatimah yang sedang duduk di saung.


"Pas banget luh, sini Imah.. cabutin uban gua." ujar nenek Fatimah yang melihat bunda berjalan ke arah saung.


"Yeeeh, si emak.. aye sama Naya mau ke swalayan dulu ya, mao borong.. kan abis nampanin duit segepok dari Naya." ujar bunda.


"Ah luh, masa mao borong pake celana kolor gitu, luh lagi Nay.. jadi perawan yang resikan dikit napa, lebih rapihan dikit gitu.. bocah sih mao borong pake kolor ama kaos doang udah jadi bae." gerutu nenek Fatimah yang menilai penampilan bunda dan Naya.


"Yeeeh si emak, yang penting ini penuh mak.. baju mah ora jadi masalah." ujar bunda sambil menepuk-nepuk saku kanan celana pendek alias kolor yang sedang di kenakan.


"Ngapa itu celana luh? pendek tau, ganti sonoh pake celana panjang." komentar nenek Fatimah lagi.


"Heet ya si emak mah, yang penting ini emak." ujar bunda sambil menunjukkan dompet yang tadi berada di dalam saku celana pada nenek Fatimah.


"Nih aye nitip ini sama emak, kali bae tar Adi pulang." bunda memberikan konci rumah pada nenek Fatimah.


"Emang luh perginya lama ya Imah?" tanya nenek Fatimah.


"Lama emak, aye mao nginep." ledek bunda.


"Jangan lama-lama luh, tar kalo ada yang nyariin, pagimana?" pinta nenek Fatimah.


"Ah nenek mah, jalan juga belom, udah di pesen jangan lama-lama bae." keluh Naya.

__ADS_1


"Udah ah yuk jalan." ucap bunda.


Bunda yang tau jika berdebat dengan nenek Fatimah pasti tidak akan ada habisnya, langsung menggandeng Naya jalan meninggalkan nenek Fatimah di saung.


"Eh luh pergi borong ora ngajak Apri?" tanya nenek Fatimah lagi.


"Di ajak nek." ucap Naya sambil melambaikan tangan kanannya ke belakang.


Di depan halaman rumah Fifi, terlihat Apri yang sedang mendorong Sandi yang sedang duduk di atas sepedah.


"Apri.." panggil bunda yang sedang berdiri di depan gang bersama dengan Naya.


Apri yang namanya di panggil pun langsung mencari sumber suara dan berlari menghampiri bunda.


"Bunda, Apri kapan punya sepedah?" tanya Apri yang sudah berada di gendongan bunda, dengan menyadarkan kepalanya di bahu bunda.


Bunda, Naya dan juga Apri pun berjalan kaki menuju jalan utama untuk menaiki angkot yang akan membawa mereka bertiga ke swalayan.


"Sabar ya sayang, tunggu ayah.. nanti ayah pulang bawa sepedah buat Apri." ucap bunda.


"Apri ikut bunda sama kaka dulu ya!" seru Naya.


"Emang mau kemana kaka?" tanya Apri sambil menegakkan kepalanya untuk dapat melihat Naya.


"Kita mau belanja Pri, nanti Apri pilih jajanan yang Apri mau." ujar Naya.


"Apri mau naek kereta dorong ya bunda? boleh?" tanya Apri.


"Iya boleh." ucap bunda.


"Kereta dorong, apaan bunda?" tanya Naya yang tidak tahu maksud Apri.


"Troli belanjaan Nay.." jawab bunda.


Naya mencubit pipi gembul Apri sambil berkata, "Alaah cupit.. ada-ada aja kamu tuh."


"Auu, sakit kaka." keluh Apri.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


bersambung...


terima kasih sudah mampir untuk membaca karya receh author 😊😊😊


mohon πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ» dukung karya receh author 😊😊😊 dengan cara ↩️


β€’β€’β€’β€’β€’> πŸ‘ like


β€’β€’β€’β€’β€’βœοΈ komen


β€’β€’β€’β€’> ⭐⭐⭐⭐⭐


β€’β€’β€’β€’β€’> vote


β€’β€’β€’β€’β€’> πŸŽβ˜•πŸŒΉ


β€’β€’β€’β€’β€’> β™₯️ favorit biar gak ketinggalan cerita'nya 😊😊😊


🌺🌺🌺🌺 salam manis 🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


__ADS_2