
...🌷🌷🌷...
"Kan aye udah bilang ama emak, aye mah kaga mau maksain anak biar dia pilih jodohnya sendiri, kawin di jodohin itu ora enak emak, kalo kata sayur asem mah ora di pakein garem;" Oceh bunda Imah
"Salah bun, yang bener itu sayur asem kurang garem!" Ledek ku meralat perkataan bunda.
"Tau dah bunda, yang dikit kagi mau di lamar."
🍂Sabtu yang di nanti keluarga besar Naya dan Surya tiba juga.🍂
Dari pagi bunda sudah bawel minta di antar ke pasar sama Naya. Karena Surya bilang pihak dari Surya yang datang ke rumah hanya 6 orang dan Surya juga sudah berpesan untuk tidak repot repot masak, akhirnya bunda hanya menyiapkan buah seadanya.
Jam di dinding menunjukan pukul 9 pagi, Ani dan aku sedang asik nonton tivi setelah waktunya bersantai, makan pagi kan udah di lalui, mandi pun udah, nyuci baju juga udah kemar, tinggal deh berleha leha di atas tempat tidur.
Bunda berdiri di depan pintu kamar ku.
"Nai! Ayo lah! Tar ke buru siang ini!" Seru bunda yang sudah rapih dengan celana panjang dan kaos lengan panjang dengan rambut di kuncir.
"Kaga tar bae bun, sore gitu!"
"Jangan di tunda tunda, ayo lah jalan!" Dumel bunda.
"Iya dulu." Ku ambil ikat rambut, ku kuncir satu rambut ku, mau bikin kuncir kuda tapi gak bisa, sebisanya aja lah, ku kuncir asal rambut panjang ku ini.
Aku menaiki motor dan membawanya berhenti di saung, karena bunda yang tidak sabaran langsung menunggu ku di saung.
Di saat motor akan aku jalankan.
"Bunda mau kemana? Apri ikut!" Seru Apri dengan mulutnya yang pelo merengek minta ikut.
"Apri di rumah aja sama kaka Ani, mau ya!" Bunda membujuk Apri agar tidak minta ikut.
"Gak mau, Apri mau ikut!" Apri merengek dengan menarik ujung baju bunda.
__ADS_1
Aku malah mengompori Apri untuk ikut belanja buah, "Udah ajak bae apa bun, itung itung jalan jalan ya Pri!"
Pagi menjelang siang itu juga aku, bunda dan Apri pergi mencari buah untuk di bawa pulang.
Bunda lagi kelaguan, mau beli jeruk aja mintanya beli yang ada di swalayan.
"Biar kerenan dikit apa Nay!" Alasan yang di berikan bunda untuk membeli jeruk dan salak yang ada di swalayan.
Kini cantelan pada motor ku kiri dan kansn sudah terisi dengan buah jeruk dan salak yang bunda borong. Gak tanggung tanggung, bunda membelinya dengan banyak yang sama yakni 10 kilo.
Kini tujuan bunda beralih pada pisang, anggur, semangka dan snack seperti kacang kulit, kripik singkok. Setelah semuanya sudah terbeli. Baru lah aku membawa motor ku pulang ke rumah.
Waktu seakan berjalan dengan cepat, ngikutin dan dengerin omongan nenek Fatimah, yang ada kini rumah nenek penuh dengan kerabat dan tokoh masyarakat yang di tuakan.
Inginnya acara yang sepi, sekarang malah berganti dengan ramai. Setelah acara lamaran selesai, Surya kembali lagi ke rumah ku, mengantarkan ku untuk ke resto, berbagi rasa senang dengan buah dan snak yang memang di sisihkan untuk teman ku yang ada di resto.
Jam 10 malam aku sudah berada di resto, memberikan sekantong buah dan satu dus bolu biar bisa di nikmati anak resto lainnya.
Aku hanya bercerita pada Ariyanti jika saat ini aku resmi di lamar Surya.
Bunda bener bener bergerak cepat, meski mas kawin dan uang yang aku terima tidak seberapa jumlahnya, tapi tidak menyurutkan semangat bunda untuk turun tangan langsung dalam mengurus segala persiapan pernikahan anak tertuanya.
Tanggal sudah di tentukan, ternyata tanggal untuk ku dan Surya masih terbilang cukup lama, masih ada waktu 3 bulan untuk sampai di hari ijab kabul.
Aku cukup tahu diri dan tidak banyak menuntut bunda harus ini dan hsrus itu, harus ada ini dan harus ada itu. Aku hanya ikuti jalan tengahnya biar bunda gak pusing buat bayar ***** bengek dalam urusan bayar membayar.
Urusan undangan sudah beres, urusan tenda dan catering juga sudah beres, tinggal tempat tidur.
Berhubung kamar ku kecil, rumah bunda juga kecil, modal juga pas pasan, akhirnya bunda dan aku sepakat untuk membeli tempat tidur dengan ukuran besar, kalo kata bunda biar cukup banyak yang bisa tidur di kasur ku ini dan lemari 3 pintu.
Cincin tidak aku pakai, ukurannya kebesaran. Malah bisa di bilang ini cincin lebih cocok di jari manis bunda, secara jari ku kecil dan jari bunda besar.
Hari pernikahan yang di tunggu datang juga, hari bersejarah dalam hidup ku adalah hari di mana aku, menjadi ratu dan raja dalam sehari hari yang aku nantikan, siapa yang tidak ingin menjadi ratu dan raja yah biar pun inginnya setiap saat tapi apa lah daya hanya orang yang tidak mampu berusaha bertahan di tengah kerasnya pinggiran kota Bintaro.
__ADS_1
Aku dan Surya sudah mengundang mantan, tapi entah kenapa mantan ku dan mantan Surya seakan kompak tidak ada yang menghadiri acara kami ini.
Acara ijab kabul berjalan dengan haru, sedih rasanya kini aku bukan lagi tanggung jawab orang tua, aku berharap pernikahan ini membawa kebahagiaan untuk ku kelak.
Bang Dava menghadiri acara ku, memberikan ucapan selamat pada ku, bahkan ia ikut menjadi pemain marawis yang menghibuar para tamu undangan.
Acara ku ini seolah menyatukan kembali teman masa sekolah yang sudah lama tidak berjumpa, bisa di bilang kalo bahasa kerennya itu, reonian.
Jika yang aku pernah datangi setiap pelaminan, pengantin tidak ada yang turun dari pelaminan berbeda dengan ku dan Surya.
Aku juga sebagai pengantin ingin berbaur dengan teman teman ku.
Dengan gaun putih lengan pendek, aku berdiri di samping Surya, "Yank, aku mau ke temen aku ya!" Pinta ku pada Surya yang masih betah duduk di pelaminan dengan tangannya yang sibuk dengan hape.
"Iya, samperin aja kalo kamu mau ya!" Jawab Surya acuh.
"Kamu juga samperin temen kamu gih, biar sama sama adil!" Seru ku.
"Iya, nanti aku nyusul."
Mata ku menatap tajam ke Surya, ini bocah dari tadi lagi ngirim pesen ke siapa si? Sok sibuk banget dah, dari tadi gw di cuwekin.
Ku tarik tangan Surya dan hampir saja hapenya jatuh tapi ke buru di tangkap olehnya, "Ayo yank!"
Ku rasakan tatapan Surya seakan menahan marah.
Bersambung
...🌷🌷🌷🌷...
Terima kasih udah mampir 😊.. salam manis dan love love love love sekebon
Jangan lupa 👍
__ADS_1
Komen ya 😊😊😊 barang cuma 10 huruuuuuf bae dah.
Komen mu merubah popularitas ku 😁