Cinta Tak Terpisahkan

Cinta Tak Terpisahkan
Cinta Tak Terpisahkan 49


__ADS_3

Sejak pesan yang terakhir kali di kirim Surya, Surya tidak lagi mengirim pesan pada Naya. Di hati Naya ada sedikit rasa kecewa dengan sikap Surya.


Siang harinya di saung depan rumah nenek Fatimah. Naya yang tengah tiduran dengan kepala di atas paha bunda. Sedangkan nenek Fatimah rebahan di atas saung.


"Imah, mending lu cariin uban nih di pala gua." ujar nenek Fatimah pada bunda.


"Tar dulu bun... cariin rambut keriting Naya dulu, kan gatel bun." Naya merajuk pada bunda.


"Iye, tar ya emak. Yang tuan ngalah." ujar bunda.


"Ah bunda mah." keluh Naya.


"Lagi emak... pala udah putih semua juga itu rambut, apaan yang d cariin uban? udah ubanan semua." ledek bunda yang membuat Naya tawa terpingkal-pingkal.


"Ahahahah, bener bun. Nenek rambutnya udah putih semua, apaan yang mao di cabutin nek?" tanya Naya saat sudah menghentikan tawanya.


"Yeee... lu tuh kaga anak, kaga cucu... sama bae ngeledek gua. Tar lu ngerasain punya uban, gatel." jawab nenek Fatimah dengan sumpah serapahnya.


"Ahahaha nenek kalo lagi ngomel lucu,


kaya Apri lagi minta jajan ga di kasih sama bunda." ledek Naya.


"Hus, kamu Nay. Omongannya kadang suka bener." jawab bunda.


"Sama bae luh berdua, Imah. Gua masukin lagi luh ke no***." bahasa nenek Fatimah yang nyablak keluar dah tuh.


"Emang bisa ya bun?" tanya Naya dengan polosnya.


"Tanya noh nenek kamu, Nay." ujar bunda. "Eh ade kamu udah pulang tuh, Nay." kata bunda yang melihat Ani tengah jalan ke arah saung dengan senyum yang tidak lepas dari bibirnya.


"Kaka, bantuin Ani ngerjain pr dong." pinta Ani yang masih berjalan ke arah saung.


"Nyampe juga belom." kata Naya.


"Biarin." jawab Ani sambil mencium punggung tangan kanan bunda.


Lalu Ani mencium punggung tangan kanan nenek Fatimah dan terakhir mencium punggung tangan kanan Naya.


"Bangun kaka, ayo ajarin aku ngerjain pr." pinta Ani sambil mencubit pipi Naya dengan gemesnya.


"Aduuuh sakiiiit." ucap Naya sambil mengusap pipi yang di cubit Ani. "Ganti baju dulu sanah. Emang gak cape apah, udah minta ngajarin ngerjain pr? " kata Naya lagi.


Ani mendudukkan bokongnya di atas saung dan ikut mencari rambut keriting pendek di kepala Naya.


"Udah kamu ganti baju dulu, Nis... terus makan, noh bunda udah masak terong di bumbuin." ujar bunda menengahi perdebatan antara Naya dan Ani.


"Beres deh bunda ku yang cantik." jawab Ani sambil menowel dagu bunda.


"Aniiiiiiii." teriak Naya saat Ani dengan jahilnya mencubit pipi Naya lalu pergi berlari menuju rumah.


Jam 2 siang kurang 5 menit.


Naya sudah rapih dengan celana bahan hitam panjang, kemeja hitam yang merupakan seragam kerja resto dan juga kerudung hitam yang sudah Naya kenakan, Naya juga sudah memakai manset tangannya, dengan tas selempang yang sudah menengger di bahu.

__ADS_1


"Kamu nunggu apa lagi, Nay?" tanya bunda yang melihat Naya belum juga berangkat kerja.


"Nunggu jam, bun." jawab Naya sambil menonton televisi.


"Udah jam segini..." ujar bunda sambil melirik jam dinding yang ada di kamar Naya. "Berangkat aja napa, Nay. Nunggu di tempat kerja itu lebih baik dari pada telat." saran bunda.


"Bun, nanti kita ke harmoni belanja bulanan ya?" usul Naya.


"Emang kamu udah gajian, Nay?" tanya bunda dan duduk di pinggir ranjang.


"Belum sih, nanti juga gajian bun."


"Kamu gak smsan lagi sama Surya?" tanya bunda yang melihat Naya tidak sibuk dengan ponselnya sejak tadi pagi.


"Kaga." jawab Naya singkat.


"Emang kenapa? lagi berantem ya?" tebak bunda.


"Hehehe putus, bun." jawab Naya.


"Laaaah ngapa putusnya?" tanya bunda kepo.


"Mau tau ajah nih, bunda... aku jalan ah bun." Naya pamit pada bunda dan mencium punggung tangan kanan bunda.


"Bilang aja gak mau jawab, dasa* bocah." ucap bunda saat Naya berjalan ke luar rumah.


Tidak berselang lama, Naya masuk lagi ke dalam rumah.


"Apa lagi Nay, yang ketinggalan?" tanya bunda yang menggantikan Naya menonton televisi di kamar Naya.


"Surya bae sih yang di pikirin." ledek bunda.


"Apaan sih bun, orang udah putus juga."


Bunda mematikan televisi dan berjalan ke luar rumah untuk melihat Naya. Dilihatnya Naya sedang duduk di teras dengan sepatu di depannya dan kaos kaki di tangan kanannya.


"Apa lagi Nay?" tanya bunda yang melihat Naya belum juga memakai kaos kakinya.


"Ini hari apa ya, bun?" tanya Naya.


"Malam jum'at, kenapa?" tanya bunda lagi.


"Aku udah lama ya, gak ikut pengajian remaja di mushola." ucap Naya.


"Gak apa.. kamu kan kerja, kalo lagi libur, kan kamu bisa ikut ngaji lagi." ujar bunda.


"Naya, berangkat ya bun?" pamit Naya dan mencium punggung tangan kanan bunda.


"Iya, baru dua kali Nay." ledek bunda.


"Apanya 2 kali bun?" tanya Naya dengan polosnya.


"Ya baru 2 kali, kamu salim sama bunda." tutur bunda menjelaskan maksud perkataannya.

__ADS_1


Naya pun berjalan meninggalkan bunda. Sedangkan bunda langsung masuk ke dalam rumah dan menutup pintu.


Baru berjalan sampai di saung yang berada di depan rumah nenek Fatimah, Naya menghentikan langkahnya sambil menepuk jidatnya sendiri. "Aduh, aku lupa."


Naya pun berbalik arah dan memilih pulang ke rumah.


"Assalamualaikum, bunda." ucap Naya sambil melepaskan sepatunya di depan rumah, Naya melangkahkan kakinya di teras.


Kreeek... (suara pintu di buka oleh Naya)


"Loh cepet amat Nay, udah balik lagi.?" tanya bunda heran.


"Hehehe... ada yang ketinggalan, bun." ucap Naya malu sambil mencium punggung tangan kanan bunda.


"Apa lagi yang ketinggalan?" tanya bunda heran.


"Hehehe, duit bun buat ongkos angkot. Sama tambahin ya bun, Naya mau beli tahu kremes." ujar Naya sambil mengkode jempol dan jari telunjuk di gerakkan.


"Emang ada yang jual tahu kremes?" tanya bunda.


"Ada bun, resto sebelah yang baru buka."


"Ya udah... nih ongkos angkot sama beli tahu krispi." kata bunda sambil menyerahkan uang sepuluh ribu rupiah pada Naya.


"Aseeek, bunda baik deh." puji Naya sambil mengambil uang dari tangan bunda dan menyimpannya di saku baju.


"Naya berangkat bun." ujar Naya sambil mencium punggung tangan kanan bunda.


"Iya, ada lagi gak yang lupa? Nanti balik lagi, awas kamu ya!!!" bunda mengingatkan Naya.


"Kali ini gak, gak balik lagi." ucap Naya sambil berjalan ke luar lalu menutup pintu dan memakai sepatu.


Naya pun berjalan menuju cikini dengan tergesa-gesa karena takut telat. Gimana gak telat, dari tadi bolak balik rumah mulu, ada aja yang ketinggalan. Maklum ternyata putus dari Surya berdampak seperti itu pada Naya, kadar pelupanya bertambah. 🀣🀣🀣


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


bersambung.....


terima kasih sudah mampir untuk membaca karya receh author 😊😊😊


mohon πŸ™πŸ»πŸ™πŸ» πŸ™πŸ»πŸ™πŸ» dukung karya receh author 😊😊😊😊 dengan cara ↩️


β€’β€’β€’β€’β€’> πŸ‘ like


β€’β€’β€’β€’> ✍️ komen


β€’β€’β€’β€’β€’> ⭐⭐⭐⭐⭐


β€’β€’β€’β€’β€’> vote


β€’β€’β€’β€’β€’β€’> πŸŽβ˜•πŸŒΉ


β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’> β™₯️ favorit biar gak ketinggalan cerita'nya 😊😊😊

__ADS_1


🌷🌷🌷🌷 salam manis 🌷🌷🌷🌷


__ADS_2