
Selama di angkot, Apri rewel menanyakan sepedah pada bunda, belum lagi membayangkan apa yang mau Apri beli saat di swalayan nanti.
Dreeet... dreeet.. getar ponsel Naya tanda pesan masuk.
Naya meraih ponselnya yang berada di saku celana pendek alias kolor.. dan melihat siapa yang mengiriminya pesan. Masuk sebuah pesan dari nomor telepon yang tidak Naya kenal.
"Siapa Nay?" tanya bunda.
"Gak kenal bun." jawab Naya.
"Surya kali Nay." ujar bunda.
"Belum tau bun."
✉️ 0896222***
Hay..
✉️ Naya
Siapa nih?
✉️ 0896222***
Galak amat, boleh kenal gak nih?
✉️ Naya
Bodo amat.. emang situ siapa si?
✉️ 0896222***
Roy, boleh kenal kan? udah punya pacar apa belom ?
✉️ Naya
Lah ini bukannya udah kenal?? tau darimana nomor ini?
✉️ 0896222***
Namanya siapa? tau dari duit seribuan, ada nomor telepon.. ya langsung aku coba aja.. kali aja nyambung..
✉️ Naya
Masaaa? gak percaya tuh.
✉️ 0896222***
Bener dong, masa bohong sih. nama kamu siapa?
"Kerjain ah, pake nama Apri ajah.. pasti gak minta kenalan lagi kalo tau yang punya nomor ini cowok." batin Naya.
✉️ Naya
Apri
✉️ 0896222***
Masa sih? Apri mah nama cowok.. kamu mah kan cewek.?
"Waaah, ketawan nih.. lagi ada yang ngerjain.. masa tau kalo yang punya nomor ini cewek.. harusnya kan gak tau." batin Naya.
✉️ Naya
Emang ini siapa si?
"Nay, taro ponsel kamu, dikit lagi nyampe." ucap bunda.
Naya pun langsung menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku celana.
Naya, bunda dan Apri pun turun dari angkot dan memasuki swalayan berlantai dua.. lantai 1 berisi keperluan dapur, jajanan, ***** bengek dah.
__ADS_1
Lantai 2 berisi pakaian, alat tulis, mainan, sendal, sepatu dan lainnya.
Saat hendak memasuki swalayan, ada scurity yang menatap tajam ke arah bunda, Naya dan Apri.. tapi sayangnya bunda tidak menyadarinya.
Hingga langkah bunda terhenti saat scurity itu menghampiri dan berkata, "Maaf bu, pemeriksaan dulu." ucap scurity dengan sopan.
Bunda pun berdiri dan scurity itu mengarahkan tongkat detektor pada bunda dan bergantian pada Naya.
"Terima kasih, bu." ucap scurity tadi.
"Iya pak sama-sama, jangan nilai orang dari penampilannya pak, yang penting isi dompetnya kan?" ujar bunda.
Bagai di tampar tuh si bapak scurity langsung wajahnya merah bak kepiting rebus.. dan berucap, "Iya bu, maaf. Sekali lagi saya mohon maaf." ujar scurity dengan wajah yang di buat senetral mungkin.
"Di maafin pak." ujar bunda dan berlalu pergi meninggalkan scurity tadi.
Naya mengambil troli belanjaan dan mulai mendorongnya.
"Kaka, mau.." ucap Apri.
"Ya, entar dulu Pri." ucap Naya dan mulai menaikkan Apri ke atas troli belanjaan.
Naya mendorong troli dan bunda berjalan di samping troli belanjaan.
"Kemana dulu, bun?" tanya Naya.
"Ambil susu Apri dulu deh Nay." kata bunda.
Naya pun mendorong troli belanjaan ke tempat susu.. bunda mengambil beberapa kaleng susu cair untuk Apri. Lalu kopi instan untuk ayah.
Bunda berjalan di depan troli belanjaan dan Naya di belakang bunda dengan mendorong troli belanjaan yang juga ada tubuh montok Apri.
"Apri, duduk.. nanti jatoh aja." ucap Naya yang melihat Apri berdiri di dalam troli belanjaan.
"Mau ambil itu kaka." ucap Apri saat melewati snack.
"Makanya turun." ucap Naya.
"Iya, Apri mau turun." pinta Apri.
"Bun.." panggil Naya yang melihat bunda berbelok ke arah sayuran.
Bunda menengok ke arah Naya dan berkata, " Udah kamu ikutin Apri.." ucap bunda.
"Oke lah kalo begitu." ucap Naya.
Naya pun mengikuti Apri yang berjalan ke arah snacks..
"Apri mau ini, ini, ini, ini juga, ini boleh." ucap Apri dengan tangan kanannya memasukkan chiki tar*, slai ola*, chitato*, sosis so***, yupp*, nyam**** dan berbagai makanan ringan.. ke dalam troli belanjaan.
"Mau jualan Pri?" tanya Naya yang melihat Apri semangat memasukkan jajanan ke dalam troli belanjaan.
"Gak, ini buat Apri terus buat abang Sandi, Misbah, abang Pandu." Apri nyerocos kaya kereta menyebutkan nama temannya.
"Et bujuk dah, buat kaka Nay sama kaka Ani.. apaan Pri?" tanya Naya.
"Kaka Nay kalo kau ambil ajah, tuh masih banyak." ucap Apri dengan menunjukkan jari telunjuk kanannya ke arah rak makanan.
"Wah wah wah.. minta di cium nih bocah." ucap Naya yang langsung memeluk Apri dan menghujaninya dengan ciuman di pipi gembul Apri.
"Ampun kaka, geli." ucap Apri yang kegelian.
Naya pun menghentikan aksinya. Lalu mengangkat tubuh Apri masuk ke dalam troli belanjaan lagi. Naya mendorong troli belanjaan dan mencari keberadaan bunda.
Tidak sulit untuk menemukan bunda, dengan situasi swalayan yang masih belum begitu ramai pengunjung. Naya menemukan bunda yang sedang mengantri di tempat ayam potong.. dengan tangan kiri menenteng keranjang belanjaan.
"Bun.." panggil Naya yang sudah berdiri di samping bunda.
"Iya tunggu bentar lagi Nay." ucap bunda pada Naya.
"Apri mau kulit ayam, bun." pinta Apri.
__ADS_1
"Iya, udah nih." ucap bunda sambil menunjukkan keranjang belanjaan pada Apri.
"Asiiiik." sorak Apri kegirangan.
"Ini bu, ayamnya.. ada lagi bu?" tanya si karyawan pria yang berjaga di bagian ayam.. sambil menyodorkan ayam yang sudah di potong.
"Udah ini aja dek, makasih ya." ucap bunda dan menyimpan bungkusan plastik berisi ayam ke dalam keranjang belanjaan.
Bunda menghampiri Naya.
"Ada lagi bun, yang mau di beli?" tanya Naya.
"Keperluan buat mandi, belum Nay." ucap bunda.
Setelah selesai dengan perlengkapan mandi, bunda mengantri di bagian kasir untuk melakukan pembayaran.
"Bunda, haus nih Nay." ucap bunda sambil menyentuh lehernya.
"Bilang aja mau minum bun." ledek Naya.
"Tau aja kamu, Nay." ucap bunda.
"Bunda mau apa?" tanya Naya.
"Teh pucu*.. boleh Nay." ujar bunda.
Naya pun berjalan menuju ciler dan mengambil sebotol teh pucu* yang di mau bunda.. dan sebotol floridi** untuk Naya.
"Ini bun." ucap Naya saat sudah berdiri di samping bunda sambil menyodorkan sebotol teh pucu* pada bunda.
"Anak bunda pengertian banget da'ah." bunda membuka tutup botol dan meneguk teh pucu* dan berkata, " Seger Nay."
Naya juga meminum floridin* dan menaruh kembali ke dalam troli belanjaan.
"Haus bun?" tanya Naya yang melihat minuman bunda tinggal setengah botol.
"Haus Nay." kata bunda.
Tiba giliran bunda untuk membayar di kasir.. Apri menurunkan semua belanjaan dari dalam troli ke atas meja kasir. Semua belanjaan bunda di scan dan tidak ada yang terlewat..
"Semua jadi 196ribu rupiah.." ucap mbak kasir wanita dengan ramah.
Bunda mengambil 2 lembar uang kertas berwarna merah dan memberikannya pada kasir dengan berkata, "Gak usah kembali, neng (panggilan sayang untuk wanita)."
"Terima kasih, ibu." ucap mbak kasir.
"Ada lagi gak Nay, yang mau kamu beli di lantai 2?" tanya bunda.
"Minyak wangi, manset tangan biar bisa gonta ganti." ucap Naya.
Naya, bunda dan Apri naik ke lantai 2 untuk membeli keperluan Naya.. setelah itu pulang dengan tentengan belanjaan di tangan.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
bersambung...
maaf ya baru update 🙏🙏🙏🙏🙏
terima kasih sudah mampir untuk membaca karya receh author 😊😊😊
mohon 🙏🏻🙏🏻 dukung karya receh author 😊😊😊 dengan cara ↩️
•••••> 👍 like
••••> ✍️ komen
••••> vote
••••> 🎁🌹☕
••••> ⭐⭐⭐⭐⭐
__ADS_1
••••> ♥️ favorit biar gak ketinggalan cerita'nya 😊😊
🌺🌺🌺🌺 salam manis 🌺🌺🌺🌺