Cinta Tak Terpisahkan

Cinta Tak Terpisahkan
Cinta Tak Terpisahkan 39


__ADS_3

Pagi hari di rumah Naya.


Setelah ayah pergi bekerja di barengi dengan mengantar Ani ke sekolah. Tinggal lah Naya, bunda dan Apri yang ada di rumah.


Apri berjalan menghampiri bunda yang sedang menyapu halaman rumah.


"Bunda... Apri maen ya?" kata Apri sambil memeluk kaki bunda, dengan suara riang.


"Masih pagi, Apri... Nonton kartun aja dulu gih..." kata bunda, sambil menghentikan aktivitas menyapunya.


"Tapi Apri mau maen." Apri mulai merajuk.


Lalu bunda berjongkok dan meraih kedua tangan Apri.


"Apri maen sama kaka Nay dulu gih."


"Aaaah bunda. Kaka Nay kan lagi cuci baju." jawab Apri, sambil memanyunkan bibirnya.


"Bunda lupa kalo kaka Nay lagi nyuci." jawab bunda, sambil mencubit pipi Apri yang tembem. "Apri bantuin bunda nyiram tanaman, mau gak?"


"Maen air ya, bunda?"


"Iya boleh."


"Apri tunggu disini dulu ya. Bunda mau ambil air dulu buat Apri nyiram pohon." kata bunda.


Bunda bangkit dari posisinya yang berjongkok lalu berjalan ke arah rumah, dan meletakkan sapu yang tadi bunda gunakan ke dalam ember besar yang ada di sudut teras.


Bunda menghentikan langkahnya di depan pintu, dan memberi jalan Naya yang sedang membawa ember berisi baju basah.


"Bunda awas." sambil susah payah Naya membawa ember yang berisi baju basah yang tadi ia cuci untuk ia jemur di depan rumah.


"Ini juga bunda udah awas, Nay." kata bunda. "Kenapa gak manggil bunda aja biar bisa bantu kamu bawa ini ember ke luar, Nay?" tanya bunda.


Naya meletakkan ember di tanah dan mengatur nafasnya yang tersengal-sengal.


"Gak apa-apa bun... biar Naya aja. Kan bunda udah nyapu halaman." ucap Naya sambil mengatur nafasnya yang cape.


Bunda masuk ke dalam rumah.


Sedangkan Naya langsung menjemur pakaian yang tadi sudah ia cuci sebelumnya.


"Apri ngapain disitu?"


Naya yang melihat Apri sedang berdiri sambil jari tangannya menunjuk ke beberapa bunga yang mekar.


"Apri lagi itung bunga kak."


Apri melihat bunda keluar dari rumah dengan membawa ember yang berisi air serta gayung.


"Ini, Pri." kata bunda, sambil meletakkan ember di atas tanah.


Apri pun langsung meraih gayung yang ada di dalam ember dan mulai menyiramkan pohon yang ada di taman depan rumah.


Bunda duduk di teras sambil memperhatikan Naya yang sedang menjemur pakaian dan Apri yang sedang menyiram tanaman.


Matahari pagi dan lelah sehabis mencuci pakaian membuat peluh mengucur dari dahi Naya.


"Mau bunda bantu jemur gak, Nay?" tanya bunda, sambil berselonjor kaki.


"Gak usah, bun. Bunda duduk manis aja di situ." kata Naya, tanpa menoleh ke arah bunda.


Dafa yang kebetulan lewat depan rumah Naya pun melihat aktivitas yang menyejukkan mata.


"Duuuh perawan ama perjaka, masih pagi... udah pada rajin-rajin banget bantuin bundanya." ujar Dafa.


Yang niat awal cuma lewat depan rumah, Dafa mengalihkan jalannya jadi menghampiri bunda yang lagi duduk di teras.


"Iya tuh si Naya. Mau di bantuin jemur, malah gak mau... yaaah mending duduk aja lah sambil ngeliatin." jawab bunda, saat Dafa sudah duduk di dekat bunda.


"Sayang bunda tuh berarti. Cocok po, buat calon bini. Masak ama nyuci." ujar Dafa, sambil terus menatap ke arah Naya.


Naya yang mendengar perkataan Dafa pun langsung menyambar bicara, seperti bensin yang kena api, langsung terbakar.


"Apaan bang? Masak ama nyuci? Lah itu mah Inah bang, tuh yang kerja di kompleks cikini, pergi pagi pulang sore." celetuk Naya.


"Ya au, Nay... Inah mah ketawan kerja jadi asisten rumah tangga." jawab Dafa, sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.


"Dafa... kamu mau kemana? Tumben jam segini lewat? Mang gak kerja?" tanya bunda.


"Habis olahraga jalan sehat po... Biasa, kalo masuk kerja siang, olahraga pagi jalan sehat gitu po." jawab Dafa.


"Tapi po, baru liet hari ini? tanya bunda, dengan kening yang mengkerut tanda heran.

__ADS_1


"Lah kan Dafa biasanya mah lewat bawah. Jalan aspal po." jawab Dafa.


Naya yang sudah selesai dengan aktivitas menjemur pakaian pun melihat ke arah Apri lalu Naya berjalan mendekati Apri.


"Apri, ngapain?" tanya Naya, saat sudah berdiri di belakang Apri.


Tanpa melihat ke suara orang yang mengajaknya bicara, Apri masih sibuk dengan tangan kanannya yang sedang memainkan air di dalam ember, sedang tangan kirinya di gunakan untuk berpegangan pada mulut ember.


"Lagi maen air lah." jawab Apri dengan polosnya.


"Embernya nanti taro sendiri ya ke dalam!!!" kata Naya.


"Iyaaa." yang sedang berjongkok sambil tangan kanannya di masukkan ke dalam ember.


Naya pun membawa ember yang ia pegang untuk menyimpannya di dalam kamar mandi.


"Udah rapi bae si Nay." tanya Dafa, saat Naya mau memasuki pintu rumah.


"Ya udah lah bang. Orang jemur dari tadi juga." jawab Naya, dan berlalu meninggalkan Dafa dan juga bunda yang masih duduk di teras rumah.


Setelah menyimpan ember di kamar mandi, Naya menghampiri kamarnya untuk melihat handphone miliknya.


"Eh da pesan masuk nih, dari Surya sama Maya. Tumben Maya ngirim pesan." gerutu Naya, dengan pandangan mata fokus pada layar handphonenya.


๐Ÿ’Œ Maya


Hay nay, sombong nih sekarang sama gue. maen dong nay ke rumah gue.


๐Ÿ’Œ Naya


Gue lupa jalan ke rumah lu.


๐Ÿ’Œ Maya


Lu masih kan sama surya??


๐Ÿ’Œ Naya


Iya masih. kenapa may?


๐Ÿ’Œ Maya


lu ajak aja Surya. Dia pernah ko ke rumah gue.


๐Ÿ’Œ Naya


Pesan Maya udah di bales, sekarang giliran pesan Surya yang di bales. batin Naya.


Naya menyalakan kipas angin yang ada di kamarnya, setelah kipas angin menyala. Naya pun merebahkan tubuhnya ke atas kasur yang empuk, sambil membalas pesan dari Surya.


๐Ÿ’Œ Surya


kamu lagi ngapain yank? (. โ› แด— โ›.)


๐Ÿ’Œ Surya


ko gak bales sih?? lagi sama cowok lu ya?


๐Ÿ’Œ Surya


eet ora di bales. Lagi ngapain sih lu yank?


๐Ÿ’Œ Naya


maaf baru bales (โ—โ€ขแด—โ€ขโ—)


baru selesai jemur pakaian.


๐Ÿ’Œ Surya


kirain lagi sana cowok


Lah kaya orang tau bae nih bocah, tadi ada Dafa. Tapi... kan ngobrol sama bunda... gak usah di bahas lah. batin Naya.


๐Ÿ’Œ Naya


cowoknya Apri, kamu gak kerja? apa lagi istirahat?


๐Ÿ’Œ Surya


Aku midel.


๐Ÿ’Œ Naya

__ADS_1


midel apa?


๐Ÿ’Œ Surya


masuk jam 10, pulang jam 7


๐Ÿ’Œ Naya


sekarang kamu lagi ngapain?


๐Ÿ’Œ Surya


siap-siap


๐Ÿ’Œ Naya


(ใƒปoใƒป) baru juga jam 8. getol amat. udah tau masuk jam 10 pagi.


๐Ÿ’Œ Surya


iya dong, harus getol cari duit


๐Ÿ’Œ Naya


cari duit apa cari cewek?


๐Ÿ’Œ Surya


maunya cari apa? ( โ•นโ–ฝโ•น )


cewek apa duit?


๐Ÿ’Œ Naya


Au ah gelap.


๐Ÿ’Œ Surya


ini terang sayang. kan masih pagi.


๐Ÿ’Œ Naya


mata kamu tuh yang gelap.


๐Ÿ’Œ Surya


hahhaha, gitu aja ngambek. gue cium lu nay.


๐Ÿ’Œ Naya


au ah gelap surya.


๐Ÿ’Œ Surya


aku jalan dulu ya honey. muach.


๐Ÿ’Œ Naya


eror, baru jam segini juga. hati-hati lu kupret.


๐Ÿ’Œ Surya


Iya kampret. hahaha. gue cubit lu.


"Kamu ngapain, Nay?" tanya bunda, dari depan pintu kamar sambil menenteng ember.


"Lagi tiduran, bun."


"Tar keluar ya Nay. Duduk di teras lagi sama bunda. Sambil ngadem." kata bunda, dan bunda berjalan kembali ke arah kamar mandi untuk menaruh ember.


bersambung....


Kira-kira Surya mau kemana ya??


terima kasih sudah mampir untuk membaca karya receh author ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š


mohon ๐Ÿ™๐Ÿป๐Ÿ™๐Ÿป๐Ÿ™๐Ÿป dukung karya receh author ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š dengan cara โ†ฉ๏ธ


\=\=\=> ๐Ÿ‘ like


\=\=\=> โœ๏ธ komen


\=\=\=> โญโญโญโญโญ

__ADS_1


\=\=\=> ๐ŸŽ๐ŸŒน


\=\=\=> โ™ฅ๏ธ favorit biar gak ketinggalan cerita'nya


__ADS_2