
Pagi hari ini bunda masak ikan kembung sebagai menu hari ini, ikan kembung yang di bumbui dengan racikan bumbu ala-ala bunda, sambil menonton televisi, obrolan pun tak terelakkan.
Tapi berbeda dengan bunda dan ayah, lebih tepatnya pada bunda. Bunda sedang melakukan aksi perang dingin terhadap ayah seorang, sedangkan ayah tidak merasa sedang dimusuhi bunda, toh ayah masih bersikap sama seperti biasanya.
"Ayah, semalam pulang jam berapa? Ani kapan di beliin kamus, yah? kamaren kan ayah bilang mau anterin Ani ke toko buku buat beli kamus? ayah malah gak pulang semalam!" tanya Ani yang membom bardir ayah dengan pertanyaan, dengan wajah di tekuk karena gagal beli kamus.
"Ayah bukannya gak pulang, Ni.. cuma telat pulang." ucap ayah meluruskan perkataan Ani.
"Ayah, kerjanya jauh ya yah!" seru Apri yang seolah membero dukungan pada ayah.
"Iya Pri.. ayah kerjanya jauh.. jadi pulangnya telat deh." ucap ayah.
"Alesan bae.." ucap bunda dengan ketus.
"Ya elah, Imah.. ora percayaan amat si luh ama gua!" seru ayah, masih baik-baikin bunda yang tengah ngambek.
"Lu bener bae gua ora percaya, apa lagi luh bohong.. ora percaya sekali gua mah ama luh." seru bunda.
"Hus, ngomong apaan sih luh.. ada bocah tuh pada denger." ucap ayah.
"Bocah? bocah siapa sih bocah?" tanya Apri dengan wajah polosnya.
"Bocah noh yang lagi pada maen layangan di televisi, Pri." seru ayah yang memanga ada berita di televisi menampilkan anak-anak yang sedang bermain layang-layang.
"Apri, udah belom makannya?" tanya bunda yang masih setia menyuapi Apri.
"Udah ah bun, Apri mao maen sepedah dulu ya bun!" seru Apri yang langsung bangun dari duduknya.
"Minum dulu, Pri." ucap bunda sambil menyodorkan segelas air putih.
Setelah minum air putih, Apri nyelonong ke arah dapur untuk mengambil serta mengeluarkan sepedah yang di simpan di dapur sama bunda.. Apri keluar dengan menaiki sepedah.
"Yah, liet dah.. Apri keren kan yah?" tanya Apri sambil menaiki sepedanya.
"Iya, Apri keren bener." jawab ayah.
"Pri, perut di kondisikan." ucap Naya yang meledek Apri.
"Biari, weeek." ucap Apri sambil menjulurkan lidahnya ke luar dan mulai menggoes sepedanya.
Apri keluar bermain sepedah dengan wajah riang.
"Ayo yah, kita berangkat." ajak Ani, yang sudah selesai dengan sarapannya.
"Ayo, ayah juga udah selesai nih." seru ayah.
"Piringnya taro mana bun?" tanya Ani.
"Taro bae kamar mandi, jangan lupa cuci tangan." ucap bunda.
Ani pun hendak melangkah ke arah kamar mandi dengan membawa piring bekas ia makan.
__ADS_1
"Ini Ni, sekalian piring ayah di bawa." ucap ayah sambil menyodorkan piringnya pada Ani.
Ani meraih piring yang ayah sodorkan padanya sambil berkata, "Ayah, ora cuci tangan?" tanya Ani.
"Ayah mah gampang cuci tangannya." jawab ayah.
Ani melangkah ke kamar mandi dengan membawa piring bekas makannya dan piring ayah. Sedangkan ayah berjalan ke luar rumah dengan membawa segelas air putih.
"Halah, paling juga air minum buat cuci tangan." ujar bunda.
"Bunda lagi marahan sama ayah?" tanya Naya pada bunda.
"Ayah kamu noh yang salah, ora tau apa yang di rumah mah mikirin dia yang belom pulang.. yang ora pulang ora ada pikirannya." ujar bunda meluapkan kekesalannya.
"Laaah, ya kapan ayah kerja bun.. itu juga di suruh nanem pohon noh di pinggir jalan tol." ucap ayah saat masuk lagi ke dalam rumah dengan meletakkan gelas yang sudah kosong ke lantai.
"Emang ora bisa apa luh telpon, telpon buat apa luh kantongin kalo ora luh gunain buat telpon gua? kabarin orang mah." cerocos bunda meluapkan kekesalannya pada ayah.
"Ya gua lupa Imah." ujar ayah.
"Sekarang mah, luh mau pulang kek, ora kek, bodo amat.. suka-suka luh bae." ujar bunda lagi.
"Ya elah Imah, udah apa marahnya." bujuk ayah sambil mengenakan jaket bersiap akan berangkat.
"Luh pulang ya laki gua, ora pulang ya bukan laki gua!" seru bunda.
"Bunda." panggil Ani, yang sudah berdiri di belakang bunda.
"Ngapa Ni?" tanya bunda.
"Tar dulu, bunda ambil duitnya dulu." ukar bunda sambil bangkit dari duduknya dan berjalan ke kamar untuk mengambil uang jajan untuk Ani.
Di ruang depan yang di jadikan tempat berkumpulnya anggota keluarga atau tempat untuk makan bersama.
"Ani di depan ya bun, pake sepatu." ujar Ani yang meninggalkan ruang depan.
"Iya." suara bunda yang menyahuti perkataan Ani.
"Ayah sih, bunda ngambek tuh." ucap Naya yang masih menghayati sarapannya.
"Lah ya kan ayah kerja Nay." ucap ayah.
"Ya lagi ayah gak bilang sama bunda kalo lembur." kata Naya.
"Di kata ayah lupa, orang lupa tanda gak inget Nay." ucap ayah yang berusaha membela dirinya sendiri.
"Minta maaf gitu yah, biar bunda gak ngambek lagi." jelas Naya.
"Emang mesti gitu, ayah minta maaf sama bunda? lah kapan ayah kerja Nay." kata ayah.
"Au amat ah yah.. emang ayah betah gitu di cuwekin sama bunda?" tanya Naya.
__ADS_1
"Lah ya ora betah lah." jawab ayah.
"Ya udah sonoh minta maaf.. Bae-baein bunda yah." ujar Naya dengan mengisyaratkan ayah untuk masuk menyusul bunda ke kamar.
"Ayah coba deh." ucap ayah yang mengerti maksud Naya.
Ayah masuk ke kamar sedang melihat bunda yang sedang membuka satu persatu lemari box.
"Bunda lagi cari apa?" tanya ayah yang masih berdiri di depan pintu kamar.
"Nyari dompet, bunda lupa naro dompet." jawab bunda.
"Biasanya bunda taro mana?" tanya ayah lagi.
"Taro lemari lah, di selipan baju." jawab bunda.
"Lah bunda ngapa nyarinya di lemari box?" tanya ayah sambil mendudukkan dirinya di pinggir kasur.
"Wah iya lupa." ujar bunda dan beralih ke lemari kayu.. dan mencari duit yang bunda selipkan di antara baju-baju.
"Bun, sini dah bun." titah ayah sambil menepuk-nepuk tangan di kasur dekat ayah duduk.
"Mao ngapain duduk? gak liet, orang lagi nyari duit buat ongkos Ani sekolah?" tolak bunda dengan mode ketus tanpa melihat ke arah ayah.
"Ya elah bun, ngambek lagi bae ya!" seru ayah.
"Bodo." jawab bunda.
Akhirnya setelah sekian lama mencari di beberapa selipan baju, bunda menemukan dompetnya. Lalu mengambil selembar uang kertas dari dalam dompet dan menyimpan kembali dompetnya di selipan baju.
Ayah menarik tangan kanan bunda sambil berkata, "Maafin gua Imah."
πΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ
bersambung...
kira-kira bunda bakal maafin ayah gak ya?
terima kasih sudah mampir untuk membaca karya receh author πππ
mohon ππ»ππ»ππ» dukung karya receh author πππ dengan cara β©οΈ
β’β’β’β’β’> π like
β’β’β’β’β’> βοΈ komen
β’β’β’β’β’> βββββ
β’β’β’β’β’> ππΉβ
β’β’β’β’> vote
__ADS_1
β’β’β’β’> β₯οΈ favorit biar gak ketinggalan cerita'nya ππ
πΊπΊπΊπΊ salam manis πΊπΊπΊπΊ