Cinta Tak Terpisahkan

Cinta Tak Terpisahkan
Cinta Tak Terpisahkan 131


__ADS_3

"Enakan ngirim pesen, bisa mikir dulu kalo mao jawab pertanyaan... kalo di telpon mah, suka ketawan dong kalo gugup... ora bisa mikir." ucap Naya yang lebih suka berbalas pesan dari pada telpon.


"Ah lu Nay, bilang bae ngirit pulsa." celetuk Ayu.


"Ah lu Yu, kadang- kadang suka bener." ledek Naya.


"Entar, bener nih kita pulang jam 7 malam?" tanya Ayu.


"Iya, bener lah Yu... masa bo'ong." ucap Naya.


Tika yang mengenali mobil pak Pangesta, langsung memberi tahu Naya dan juga Novi untuk tidak mengobrol.


"Naya, Novi, jaga jarak... jangan ngobrol juga, itu mobil item yang lewat di depan mobilnya pak Pangesta." ujar Tika dari belakang kasir.


Tepat saat mobil pak Pangesta berada dekat dengan meja keramat, pak Pangesta menurunkan kaca mobil dan membunyikan klakson mobilnya.


Tin tin tin.


Naya yang mendengar klakson mobil langsung menoleh.


Pak Pangesta langsung melambaikan tangan pada Naya, seraya menyuruh Naya untuk mendekat ke arah mobil.


Naya pun langsung menghampiri mobil pak Pangesta.


"Kenapa, pak?" tanya Naya saat sudah berdiri di samping pak Pangesta yang mengemudi mobil.


Bu Leni menyerahkan pada Naya dus kue yang di atasnya ada tulisan Holland.


"Ini nanti makan bareng sama yang lain, ya!" ucap bu Leni.


"Iya, bu... makasih ya bu!" ucap Naya saat dus sudah berada di tangan nya.


"Aziz, kemana?" tanya pak Pangesta.


"Lagi sholat ashar, pak." jawab Naya.


"Ya, udah sana... kerja lagi yang bener." ucap pak Pangesta yang langsung melajukan lagi mobilnya.


Naya langsung membawa dus kue ke arah dapur.


"Apaan tu, Nay?" tanya a Awan yang melihat Naya membawa dus.


"Kayanya mah, kue a." jawab Naya yang langsung meletakkan dus di atas meja yang berada di dapur.


Dus itu pun menjadi pusat perhatian Angga, Rion, Ipul, yang sedang berada di dapur.


"Dari siapa, Nay?" tanya Rion.


"Bu Leni."


"Kapan kemari nya?" tanya Ipul.


"Tadi barusan... abis ngasi ini, langsung pergi." jawab Naya.


"Buka dong, Nay." pinta Angga.


"Emang ini kue buat siapa Nay?" tanya Rion.


"Katanya suruh makan bareng-bareng." jawab Naya lagi.


"Tunggu pak Aziz dulu deh." usul Ipul.


"Ide bagus tuh." timpal Angga.


"Buka dulu mah, ora ngapa kali." celetuk Rion.


Saat tutup dus di buka oleh Rion.



"Wiiiih, mantep." celetuk Ipul.


"Kayanya enak nih." timpal Rion.


"Isinya apaan?" tanya a Awan yang baru memasuki dapur.


"Kue, a... emang siapa yang ulang tahun ya a?" tanya Naya.


"Pak Pangesta kali mah." ujar a Awan.


Pak Aziz yang baru selesai dengan sholat nya langsung mencari anak buahnya yang tidak nampak di depan.

__ADS_1


"Kalian, lagi ngapain?' suara barito pak Aziz yang berkacak pinggang sambil berdiri tidak jauh dari dapur.


"Liet kue, pak." jawab Naya.


"Dari siapa, Nay?" tanya pak Aziz yang berjalan ke dapur.


"Bu Leni, pak... tadi bapak di tanyain sama pak Pangesta, terus langsung pergi lagi." ujar Naya.


"Ini kue, katanya buat siapa Nay?" tanya pak Aziz lagi.


"Di suruh makan bareng-bareng." jawab Naya.


"Telpon aja dulu Ziz, biar gak kesalahan." usul a Awan.


Pak Aziz langsung meraih hape blackbe*** miliknya dan mendil nomor pak Pangesta.


"Iya, halo pak." ucap pak Aziz saat sambungan teleponnya tersambung.


"Ada apa?" tanya pak Pangesta di sebrang sana.


"Tadi bapak ke sini, cari saya?" tanya pak Aziz.


"Cuma nanyain." jawab pak Pangesta.


"Ini pak, kue buat siapa ya pak?" tanya pak Aziz.


"Naya gak bilang, itu buat siapa?" tanya balik pak Pangesta.


"Bilang pak, buat makan bareng- bareng katanya." jawab pak Aziz.


"Ya udah, bener itu." ujar pak Pangesta.


"Halo Aziz, itu makan buat kalian semua... di habiskan ya!" suara bu Leni.


"Iya ibu, terima kasih bu." ucap pak Aziz.


Sambungan teleponnya langsung di matikaan, hapenya langsung di simpan lagi ke dalam saku celananya.


Naya, Rion, Ipul, Angga, a Awan hanya mendengar kan pak Aziz saat berbicara di telepon.


"Piso, Pul." pak Aziz meminta Ipul mengambil kan pisau.


Ipul mengambilkan pisau.


"Iya, boleh." pak Aziz langsung memotong kue tart dengan pisau yang tadi di ambilkan oleh Ipul.


"Mao kemana, Nay?" tanya a Awan yang malah melihat Naya berjalan meninggalkan dapur.


"Ora enak dari tadi ninggalin depan." ucap Naya.


"Tar balik lagi, makan kue." ucap Angga.


Ipul, Angga, Rion, a Awan dan pak Aziz menikmati kue tart nya.


"Tadi apaan Nay, yang di kasih pak Pangesta?" tanya Ayu saat Naya sudah berdiri di samping nya.


"Kue tart." jawab Naya.


"Buat siapa?" tanya Ayu lagi.


"Buat kita semua, karyawan dapur bebek." ucap Naya.


"Lah ko, kita ora di panggil buat makan si Nay?" tanya Ayu lagi.


"Iya entar, kita gantian kali mah." jawab Naya.


"Tar keabisan Nay." celetuk Ayu.


"Kaga, kue tart nya gede bener." ucap Naya.


Pak Aziz datang ke depan resto dan berdiri menghadap ke arah kasir.


"Nanti kalian ke dapur ya! bergantian makan kue tart pemberian dari pak Pangesta." ucap pak Aziz.


"Wiiiiih, asiiiik... makan-makan lagi." seru Novi.


"Kue tart, Nov." ucap Naya.


"Emang, ka Nay udah liet? tanya Eka.


"Orang tadi Naya ko yang bawa kue tart nya." ujar Ayu.

__ADS_1


"Ya udah, pokoknya nanti ke dapurnya bergantian." ucap pak Aziz lagi mengingatkan.


"Iya, pak." ucap Tika.


Pak Aziz berdiri di dekat meja nomor 3, sambil mengawasi resto yang masih ramai pengunjung.


"Ayo Nay." Ayu mengajak Naya untuk ke dapur.


"Kita, duluan ya!" ucap Ayu pada Tika, Novi dan juga Eka sambil menarik tangan Naya.


"Eh ada pak Aziz." ucap Ayu yang kaget melihat pak Aziz berdiri di dekat meja nomor 3.


"Iya, udah sana gih." ucap pak Aziz yang tau Naya dan Ayu mao makan kue tart di dapur.


Jam 7 kurang 15 menit di dinding dapur.


Pak Aziz berdiri di sisi kanan kasir.


"Yang masuk pagi, siap- siap pulang... priper dulu sebelum pulang ya!" ujar pak Aziz yang mengingatkan.


"Aku nyapu kasir deh." ucap Ayu.


Tika langsung menyambar kain lap hendak mencucinya beberapa buah.


Naya memilih ngepel, menunggu Ayu yang lagi nyapu.


Sambil menunggu Ayu, Naya memilih menelpon ayah.


Naya menelpon ayah saat Naya sudah berada di dapur.


"Ayah, jemput ya yah!" ucap Naya saat sambungan teleponnya tersambung.


"Ayah udah di depan ini Nay." jawab ayah.


"Hehehe, ya udah.. tunggu bentar ya yah." ucap Naya.


"Iya, ayah tungguin." ujar ayah yang langsung mematikan sambungan teleponnya.


Naya mengetik pesan untuk Surya.


πŸ“¨ Naya: "Aku udah mao pulang nih."


πŸ“¨ Ayank: "Kalo udah di rumah, kabarin aku!"


Melihat Ayu yang sudah beres dengan menyapu, Naya langsung menyimpan hapenya ke dalam saku bajunya, kini Naya menyambar pelan dan mulai mengepel sekitaran kasir.


"Sebelum pulang, do'a dulu!" ucap pak Aziz saat melihat Naya, Ayu dan Tika memakai tasnya.


Rion, Angga, Naya, Tika dan Ayu pun berdo'a sebelum pulang


Naya mengetik pesan sambil berjalan menghampiri ayah.


πŸ“¨ Naya: "Aku jalan pulang nih yank."


"Anak ayah, di jalan maen hape bae!" ucap ayah saat Naya berada di depan nya.


"Bentaran doang, yah." Naya mencium punggung tangan kanan ayah.


"Tetep bae Nay, ada batu kesandung bae dah!" ujar ayah.


"Ayo yah, pulang." ucap Naya yang sudah menyimpan hapenya ke dalam saku bajunya.


...🌹🌹🌹🌹🌹🌹...


bersambung...


Jadi ketemu ora ya, Naya ama Surya?


terima kasih sudah mampir untuk membaca karya receh author 😊😊


mohon πŸ™πŸ»πŸ™πŸ» dukung karya receh author 😊😊 dengan cara ↩️


...like...


...komen...


...vote...


...favorit'in novel ane...


...🌹 yang di nanti...

__ADS_1


...β˜• yang di tunggu...


...🌺🌺🌺salam manis🌺🌺🌺...


__ADS_2