Cinta Tak Terpisahkan

Cinta Tak Terpisahkan
Cinta Tak Terpisahkan 82


__ADS_3

"Terus kenapa bisa punya pacar juga? kan belum lulus sekolah? berarti kamu ngelanggar prinsip kamu dong? cecar Surya yang ingin tahu di balik alasan Naya.


"Kasih tahu gak yaaaaa?" ledek Naya yang malah balik bertanya.


"Kasih tau lah, kalo gak! aku marah." ancam Surya.


"Ini sotonya udah jadi, Nay!" seru pok Asni yang memotong percakapan antara Naya dan juga Surya.


"Jadi berapa pok?" tanya Surya, sedangkan Naya langsung mengambil 2 kantong plastik berisi soto.


"Jadi empat puluh ribu." jawab pok Asni.


Surya mengambil dompet yang di letakkan di saku belakang jins biru yang ia kenakan, dan mengambil uang 1 lembar berwarna biru, "Ini po." sambil menyodorkan pada pok Asni.


Pok Asni meraih uang pemberian Surya dan menyerahkan uang kembalian yang ia ambil dari laci, "Makasih ya." ucap pok Asni pada Surya.


"Iya pok, sama-sama." ucap Surya.


"Duluan pok." pamit Naya.


Naya dan Surya pun akhirnya pulang ke rumah dengan membawa empat bungkus soto.


"Ini, apa gak kebanyakan?" tanya Naya sambil memperlihatkan bungkusan soto yang ada di tangannya ke arah Surya.


"Kaga segitu mah.. cukup lah buat bunda, nenek, ayah sama ade kamu Ani." ucap Surya.


"Kamu, gak ikut makan yank?"


"Enggak, aku masih kenyang."


Dreeet.. dreet.. dreet.. dreeet..


Getaran panggilan masuk di ponsel Surya.


Surya mengambil ponselnya yang ada di saku kanan jins nya, tertera nama Kamal.


"Aku angkat telepon dulu, yank." izin Surya pada Naya.


"Tinggal angkat doang, ribet amat."


πŸ“± "Halo." Surya.


πŸ“± "Lagi di mana, bro?" tanya Kamal.


πŸ“± "Gue lagi sama cewek gua." jawab Surya sambil melirik Naya.


"Lagi ngobrol sama siapa sih? batin Naya.


πŸ“± "Cewek yang mana bro? cewek luh banyak." tanya Kamal sambil cekikikan.


πŸ“± "Parah luh, ngapa luh telpon gue?" tanya Surya.


πŸ“± "Ngumpul yuk bro, udah lama nih luh gak ngumpul." ajak Kama.


πŸ“± "Nanti bae, dah ya." Surya langsung mematikan sambungan teleponnya dan menyimpannya kembali ke saku jins.


"Kamu mau makan soto dulu, yank?" tanya Surya.


"Mau lah."


"Ngapa tadi gak bilang kalo mau? nambah 1 bungkus lagi."


"Ini juga udah banyak."


Saat Surya dan Naya baru sampai di halaman, rernyata sudah ada nenek Fatimah yang ikut di teras bersama dengan bunda.


"Bawa apaan luh, Nay?" tanya nenek Fatimah.


"Bawa soto." jawab Naya yang langsung menyerahkan bungkusan soto pada bunda. Surya langsung duduk di pinggir teras sambil menyalakan putung rokonya.


"Ambil mangkok gih, Nay." perintah bunda.

__ADS_1


"Eeeet ya, tadi Naya udah yang beli bun.. bunda aja gih yang ambil." tawar Naya.


"Tua duluan luh, nyuruh bunda luh." sela nenek Fatimah.


"Iya, iya, Naya yang ambil." Naya pun langsung mengambil mangkok di dapur.


"Luh, ora makan tong?" tanya nenek Fatimah.


"Masih kenyang, nek." tolak Surya.


"Makasih ya Surya." ucap bunda.


"Iya bun, sama-sama." jawab Surya.


"Kayanya, momennya pas nih buat sekalian minta izin sama bunda buat ajak Naya jalan." batin Surya.


"Oh iya bun, Naya mao Surya ajak jalan.. boleh bun?" izin Surya mengutarakan osi hati nya.


"Mao jalan kemana?" tanya bunda sambil membuka ikatan pada bungkusan soto.


"Naya, luh lama amat ngambil mangkok doang?" teriak nenek Fatimah.


Naya langsung muncul di depan pintu dengan membawa 2 mangkok beserta 3 sendok, "Nih, Naya udah nongol nek." jawab Naya.


Naya meletak'kan mangkok di depan bunda, bunda menuang soto ke dalam mangkok, memberinya peresan air limo dan mengaduknya.


Naya pun membuka ikatan dari bungkusan soto dan menuangnya ke dalam mangkok serta menambahkan perasan air limo dan juga sedikit sambal, karena bunda kurang suka pedas.


"Ini baru sedep." ucap bunda saat sudah mencicipi kuah soto.


"Gua bukain lah, Imah!" seru nenek Fatimah.


"Lah ini buat emak." bunda menggeser mangkok yang berisi soto pada nenek Fatimah.


Naya menggeser mangkok yang berisi soto ke depan bunda, "Ini bun, udah Naya bukain."


"Gak pedes banget kan Nay?" tanya bunda.


"Eet tong, luh ini makan? belinya doang." ucap nenek Fatimah sambil melahap soto.


"Udah buat nenek sama bunda ajah." ucap Surya.


"Ini luh beli banyak amat, Surya?" tanya bunda.


"Sekalian buat Ani sama ayah nanti bun." jawab Surya.


"Aku.. gak?" sela Naya.


"Kamu mau ikut aku gak?" tanya Surya.


"Emang bunda udah bilang boleh, Surya?" tanya bunda dengan ekspresi wajah yang serius.


"Lah ya kapan bunda belom jawab." jawab Surya.


"Emang luh pengen banget gitu Nay, jalan-jalan? terus luh, ora jadi ke rumah temen luh?" cecar bunda di sela makan sotonya.


"Lah ya pengen bun.. boleh ya bun?" tanya Naya sambil ikut makan soto dari mangkok bunda.


"Au tuh rencananya gimana, yank?" tanya Naya meminta pendapat dari Surya.


"Dari sini mao ke Bintaro Plaza bun, terus nanti sore baru ke rumah temen, abis dari rumah temen baru deh pulang.. boleh kan bun?" ucap Surya menjelaskan rencananya.


Bunda manggut-manggut, "Yaudah sono, luh ora mao ganti celana?" tanya bunda pada Naya yang masih duduk memakan soto.


"Masa iya bun, ke moll pake kolor." ledek Naya, "kamu, ora malu yank? aku pake kolor?" tanya Naya mengetes Surya.


"Kamu malu gak, jalan pake kolor?" tanya balik Surya.


"Mao di taro di mana ini muka gua, yang bener dong Nay, masa jalan sama gue pake kolor, astagaaaa." batin Surya yang meronta-ronta dengan ulah jain dari pertanyaan bunda dan juga Naya.


"Aku ganti celana dulu ya!" seru Naya yang bergegas masuk ke dalam rumah untuk mengganti celana.

__ADS_1


Surya meraih ponselnya dan mengetik pesan, lalu dikirim ke nomor Naya.


βœ‰οΈ "Pake celana jins yang pas body, kamu punya gak?" tanya Surya lewat pesan singkatnya.


βœ‰οΈ "Gak punya kalo yang pas body bamget mah, yang agak longgar ada tapi bukan yang cut bray kok.


"Astaga, masa iya mao di pake yang cut bray.. udah kaya jaman dulu bae gua." batin Surya saat membaca pesan dari Naya.


βœ‰οΈ "Asal jangan pake yang cut bray." jawab Surya pada akhirnya.


βœ‰οΈ "Oke."


"Luh gajian, baba di bagi ora Surya?" tanya bunda.


"Di bagi kok bun." jawab Surya.


"Jangan lupa sama orang yang udah berjasa tuh sama luh, sisihin duit buat ngamal." saran bunda.


"Iya bun, beres."


Yang di tunggu dateng juga, Naya keluar dengan rambut yang di kuncir biasa, kuncir satu. Dengan kaos lengan pendek dan jins yang sedang lah ya, gak ketat dan bukan cuy bray.


Dengan sendal yang biasa menemani.


"Ayo yank." ajak Naya.


"Eeet ya, anak muda sekarang.. yang, yang, malu ama yang tua." ucap nenek Fatimah.


"Nenek kaya ngerti ajah yang tuh apa." ledek Naya.


"Lah tau lah, gua ajah Nay, ama almarhum engkong luh.. ora ada tuh kata yang, yangan." cerocos nenek Fatimah.


"Ya orang kaga cinta, yang dari hongkong." celetuk bunda.


"Uda ah, Naya jalan dulu ya." pamit Naya yang sudah melihat Surya berdiri.


Naya pun mencium punggung tangan kanan bunda dan nenek Fatimah secara bergantian, di ikuti juga oleh Surya.


"Jalan dulu ya, bun." pamit Surya.


"Iya, Surya.. pergi utuh.. pulang juga harus utuh." ucap bunda.


"Iya bun.. beres." jawab Surya.


Naya dan Surya pun berjalan bersama ke cikini untuk menaiki angkot yang akan membawanya ke Bintaro Plaza.


...Ngapain ya ke Bintaro Plaza? πŸ™„...


...Keseruan apa lagi nih dari Naya dan Surya?...


...Tunggu kisah selanjutnya 😊...


...🌹🌹🌹🌹🌹🌹...


bersambung...


Terima kasih sudah mampir untuk membaca karya receh author 😊😊


Mohon πŸ™πŸ»πŸ™πŸ» dukung karya receh author 😊 dengan cara ↩️


...πŸ‘...


...komen...


...πŸŒΉβ˜•...


...⭐⭐⭐⭐⭐...


...vote...


...β™₯️...

__ADS_1


...🌸🌸🌸 salam manis 🌸🌸🌸...


__ADS_2