
Coba aja ayah manggil bunda, pasti kan bunda langsung nyamperin ayah... ayo dong yah, panggil bunda. batin Naya dengan penuh harap.
Pucuk di cinta, ulam pun tiba. Bala bantuan yang Naya harapkan, ternyata di sambut kenyataan.
Ayah Adi memanggil bunda Imah, "Im, Im, sini dah."
"Tar dulu, bang." saut bunda Imah yang di iringi dengan bangun dari duduknya.
Sebelum bunda Imah benar benar ke luar dari kamar Naya, bunda Imah berbalik sambil berkata, "Awas lu, makan sambil maen hape." ucap bunda Imah dengan telunjuk jari menunjuk ke arah Naya.
"Iya, bunda cantik... udah sana, bunda udah di tungguin bebeb itu." ledek Naya sambil tangannya menyuapkan nasi ke dalam mulut, bener bener lama ini Naya kalo soal makan, kerjaan pun lelet.
Setelah di pastikan bunda meninggalkan kamar, Naya langsung buru buru mengganti mode hapenya menjadi mode getar, biar kalo ada pesen Surya yang masuk, tidak menimbulkan suara, alhasil bunda Imah juga dapat di pastikan tidak akan tahu jika Naya makan sambil main hape lebih tepatnya berbalas pesan singkat.
Naya membaca pesan dari Surya.
"Lah ya jangan gitu, makan mau lauknya apa pun itu, tetep harus makan yang banyak kamu, honey... tau gak biar kenapa?" pesan pertama dari Surya yang baru di baca Naya.
"Ko kamu gak bales, honey?"
"Kamu udah tidur ya honey? tapi gak mungkin juga kamu jam segini udah tidur."
"Honey, kamu lagi apa sih?"
"Lagi sama cowok ya lu, sampe gak sempet bales pesen gw!!!!"
Busrak dah, si Surya angot lagi apa kurang obat... dari awal pesennya enak, ngapa makin ke sini in makin bikin hatii gw dongkol ya? pengen gw pites bae ini orang, isi pikirannya gak ada stok positif apa ya ke orang laen? dumel Naya dalam hati dengan detak jantung yang lebih cepet, saking keselnya baca pesen dari Surya.
"Huuuuh." Naya menghela nafas dalam.
"Ngapa ka?" tanya Ani yang melihat tinggah kakanya jadi aneh.
"Kaga ngapa ngapa, cuma kaka lagi pengen makan orang." oceh Naya.
"Bujuk dah, kaka mao ngalahin Sumanto yang dari jombang?" ledek Ani.
Bugh.
Naya melempar bantal ke arah Ani, tapi dengan mudah di tangkis Ani, jelas Ani bisa silat.
"Ahahaha, lagi ngambek ni yeee ama ayang embeb." ledek Ani.
"Yang model begini ini, ade minta di telen." gerutu Naya.
"Ahahaha, yang buat kesel siapa, marahnya ke siapa... salah alamat cuy."
"Bodo amat." Naya meninggalkan kamar dengan piring yang kini sudah kosong.
***
Pagi yang cerah nampak matahari pagi menyinari bumi.
Naya yang baru selesai dengan cucian piring langsung rebahan di atas kasur, biasanya sambil maen hape... karena moodnya dari semalam kurang bagus, Naya lebih memilih menyalakan tivi dan fokus pada layar tivi yang menampilkan kartun.
"Nay, ngapain lu?" teriak bunda dari dalam kamarnya.
__ADS_1
"Ngasoh, bun."
"Sini dulu." pinta bunda Imah.
Eet ya, ora boleh ngeliet orang seneng pisan... baru juga ngasoh... mao nyuruh lagi ini bunda mah. Dumel Naya meski hanya dalam hati, tapi Naya tetap menurut dan menghampiri bunda, wanita yang sudah melahirkan dan membesarkan nya.
"Ngapa, bun?" Naya berdiri di depan bunda yang sedang duduk menonton televisi.
"Beliin bunda kue bakar gih, mulut bunda iseng." bunda menyerahkan uang dua ribuan ke Naya.
"Warung mana, bun?"
"Warung yang deket mushola... tadi bunda liet ada di situ."
"Naya nape sekalian, bun... kan Naya juga pengen jajan." ujar Naya dengan wajah di buat semelas mungkin.
"Eleh eleh, anak bunda pengen jajan... mao jajan apa, neng? dua ribu, dapet?" bunda menyerahkan lagi uang dua ribu ke Naya.
"Eet goceng apa, bun." tawar Naya yang berusaha nego dengan jumlah uang jajannya.
"Goceng? mao buat beli apaan?" tanya bunda dengan mata terbelalak kaget, pasalnya Naya sudah punya beberapa buku novel yang isi cetaknya berwarna coklat.
"Pengen beli buku Novel, bun." boleh kan ya bun?"
"Penting kaga itu buku?" tanya bunda Imah.
"Penting buat ngisi waktu, bun." alesan Naya.
"Ora ada urusan nya kan sama pelajaran? seinget bunda, Naya juga udah punya buku novel kan?" cecar bunda Imah.
"Ya kan kalo yang di rumah beda judulnya bun sama yang mao Naya beli lagi, isi cerita nya juga beda bun." cicit Naya.
Bunda melihat wajah Naya yang tampak di tekuk, bak cucian kusut... gak enak buat di lihat.
Kalo kaga di bolehin, anak gw ngambek ini. tebak bunda meski hanya menilai dari raut wajah Naya yang di tekuk.
Biar bagaimanapun seorang ibu akan peka dengan perasaan anaknya meski si anak itu tidak mengatakan isi hatinya.
"Beli itu makanan Nay, yang bisa ngenyangin perut." bunda menyodorkan uang yang Naya mau.
"Jadi, boleh kaga ini... Naya beli buku novel?" tanya Naya.
Ngeeng.
Suara motor ayah Adi yang berhenti di depan rumah.
"Iya, boleh."
Naya dan bunda ke luar rumah untuk melihat dan menanyakan alasan ayah Adi yang sudah pulang di jam yang masih pagi namun terik.
"Waalaikum salam, orang mah kalo baru nyampe rumah." sindir bunda Imah yang tidak mendengar ayah Adi mengucapkan salam.
"Iya, gw lupa... kopi kek kopi." ujar ayah Adi.
Bunda dan Naya mencium punggung tangan ayah Adi secara bergantian yang lagi duduk dengan selembar kertas di tangan ayah Adi.
__ADS_1
"Apaan tuh, bang?" tanya bunda Imah tanpa menghiraukan permintaan ayah Adi.
"Ini kertas absen."
"Kopi, Im." ujar ayah Adi.
"Ora ada, kopi nya abis." bunda Imah duduk di samping ayah Adi dan melihat selembaran kertasnya.
Naya yang baru memakai sendal, di tanya ayah, "Mao kemana, Nay?"
"Ke warung... ayah mao nitip? biar sekalian jalan ini Naya."
Ayah Adi mengeluarkan dompetnya dari saku celananya dan mengeluarkan uang dua puluh lima ribu lalu di serahkan pada Naya.
"Boleh dah, ini di foto copy sepuluh ribu, kopi item gambar kapal api lima ribu, sisanya buat Naya." ujar Ayah.
Bugh.
Bunda Imah melayangkan tangan ke lengan atas ayah Adi.
"Lah, Naya di bagi... aya ora?" tanya bunda Imah.
"Buat lu mah tar, gedean."
"Asiiiik, dapet sepuluh ribu.. makasih yah." Naya pergi meninggalkan rumah dengan hati yang senang, dapet uang jajan sepuluh ribu dari ayah Adi.
Aku bisa beliin buku novel 2 ini mah, hihihi. batin Naya sambil berjalan riang dengan senyum yang selalu mengembang.
"Mao kemana, Nay? seneng bener itu muka." tanya Santi, ibu pemilik kontrakan.
"Mao ke warung, bu... muka Naya mah emang keliatan seneng bu, apa lagi abis di kasih uang jajan sepuluh ribu dari ayah." adu Naya sambil terus berjalan.
"Asiiik, ibu mao dong." ledek ibu Santi.
"Minta sama pak Anto, bu." jawab Naya.
Foto copy dulu dah, abis itu baru ke warung. batin Naya.
"Pak, foto copy ini sepuluh ribu ya!" ujar Naya saat di hampiri bapak penjaga toko foto copy.
"Oke." ujar si bapak dengan meraih kertas yang Naya bawa ke mesin foto copy.
"Pak, buku novelnya mao ya!" ujar Naya.
Bapak si foto copy pun mengeluarkan beberapa stok buku novel yang ada di dalam etalase ke depan Naya.
Naya memilih judul buku yang ingin ia beli.
"Lagi ngapain, Nay?" tanya Dava dengan berdiri di samping Naya.
Bersambung...
🤔 Bang Dava lagi...
Jangan lupa komen, buat dukung author 😊😊😊
__ADS_1
No koment julid