
Pagi hari yang cerah, secerah hati bunda yang hari ini menghidangkan ayam goreng yang di bumbuin untuk di hidangkan hari ini.
Ani yang sudah rapi dengan baju seragam yang melekat di tubuhnya langsung duduk di ruang depan yang biasa di gunakan tempat untuk makan bersama.
Bunda menaruh beberapa piring kosong di lantai untuk di gunakan makan.
"Bang, lu ora mao madang apa? motor bae di elap, gua lu cuwekin." omel bunda yang melihat ayah masih sibuk dengan kanebo sambil mengelap motornya di halaman rumah.
"Iya, bentar.. dikit lagi." ucap ayah dengan santai.
Ani menyendok nasi ke atas piringnya.
"Widiiiiih, mantep ayam goreng!" seru Naya sambil menguncir rambutnya lalu duduk di samping Ani.
Bunda memisahkan bagian dada ayam dan paha ayam ke atas piring kecil, "Kasih nenek kamu dulu, nih Nay." ucap bunda yang menyodorkan piring yang di pegangnya pada Naya.
"Baru juga duduk, udah di suruh bangun lagi bae." gerutu Naya.
"Udah kasiin dulu itu ke nenek kamu." omel bunda.
Naya langsung bangun dan berjalan ke arah rumah nenek Fatimah untuk mengantarkan piring yang berisi ayam goreng masakan bunda.
"Apri, udah nonton televisinya, sini madang dulu." panggil bunda yang melihat Apri masih mantengin layar televisi.
Bunda menyendokkan nasi di atas piring dan juga menaruh potongan ayam di piringnya.
"Mao madang ora lu, bang?" omel bunda lagi.
"Iya, iya... bawel." oceh ayah.
Ayah langsung masuk ke dalam rumah dan berjalan ke arah kamar mandi untuk mencuci tangan.
"Enak ora, Ni?" tanya bunda melihat Ani makan dengan lahap.
"Enak banget, bun." jawab Ani dengan mulut penuh nasi.
"Apriiii, mao madang ora luh? bunda gak ajak luh ya entar!" ancam bunda yang melihat Apri belum menghampirinya.
"Iya, iya, bunda ngomel mulu." celetuk Apri yang mematikan televisi dengan menekan tombol power pada remot.
"Iya, ya Pri... bunda masih pagi udah ngomel mulu." timpal ayah yang sudah duduk di dekat bunda.
"Naya mana lagi nih, lama amat nganterin ayam doang juga." omel bunda lagi.
"Nginep kali." celetuk Ani.
"Emang ada ya bun, pagi-pagi nginep?" tanya Apri yang sudah ikut duduk di tengah-tengah Ani dan ayah.
"Ada." jawab bunda sambil menyuapkan nasi dan potongan ayam ke mulut Apri.
"Siapa yang maooo!" seru Naya dari arah luar rumah.
"Mao apaan, Nay?" tanya bunda.
Naya duduk di dekat Apri dan meletak'kan apa yang di bawahnya di hadapan bunda.
__ADS_1
"Apaan tuh, bun?" tanya Ani yang aneh melihat bentuknya.
"Tebak apa ayo, Ni?" ucap bunda untuk menyuruh Ani menebak nama hidangan yang di bawa Naya.
"Pepes, bun?" tebak Ani.
"Yaaaah payah ini anak ayah, masa ora tau itu namanya apaan, Ni?" ucap ayah.
"Emang ayah tau, itu apaan?" ucap Ani melempar pertanyaan pada ayah.
"Kamu tau Nay, itu apaan?" tanya ayah pada Naya.
Naya mencicipi masakn yang tadi di bawanya.
"Emmmm, enak." jawab Naya setelah mencicipi nya.
"Eeeet ini bocah ora nyambung, di tanya apa.. jawabnya apa." gerutu ayah yang tidak mendapati jawaban yang ingin di dengarnya.
"Ihihihi, ayah gak tau bae... aku mao nyebut namanya tapi lupa, apa ya ini ada di otak tapi ora mau keluar di mulut, apa ya namanya, botak atau apa ya!" batin Naya.
"Ini namanya botok, pasti nenek kamu yang buat?" ucap bunda memberi tahu nama masakan yang di bawa oleh Naya.
"Iya nenek yang masak, tadi nungguin nenek angkat ini dulu dari langseng." ucap Naya.
"Kata kaka Ani, tadi kaka Nay nginep rumah nenek." oceh Apri.
"Apa bae." ucap Naya.
πΏπΏπΏ
Naya yang lagi asik nonton televisi sambil maen hape di kamar di datengin bunda yang berdiri di depan pintu kamar Naya.
"Ayo, Nay." ajak bunda yang kini mengenakan celana panjang dengan kaos tangan pendeknya.
"Mao kemana, bun?"
"Harmoni Nay, belanja... kan semalem kamu abis setoran gede ama bunda." ucap bunda.
"Ayo ayo." ucap Naya bersemangat dan bergegas menyusul bunda yang sudah jalan duluan.
Naya mengetik pesan dari hapenya.
"Aku jalan ke harmoni ama bunda." isi pesan yang Naya kirim ke Surya.
Setelah melihat Naya sudah ke luar dari rumah, bunda langsung mengunci pintu.
"Ada yang ketinggalan gak, Nay?" tanya bunda.
"Kaga ada." jawab Naya, "Apri gak ikut, bun?" tanya Naya sambil mengikuti langkah kaki bunda.
Bunda masuk ke dalam rumah nenek Fatimah, sedangkan Naya memilih menunggu bunda sambil duduk di saung melihat hapenya.
"Iya, hati-hati. Jangan aneh-aneh kamu!" balasan dari Surya.
__ADS_1
"Widiiiiih, orang mao belaanja di kata aneh-aneh." balasan dari Naya untuk Surya.
"Mata jangan aneh-aneh, jangan ngelirik lanang." Surya.
"Iya." balas Naya singkat.
Bunda datang menghampiri Naya yang sedang duduk di saung sambil main hape.
*Ayo, Nay!" ajak bunda lagi.
Naya menyimpan hape dalam saku celana kolor yang sedang di kenakannya. Lalu jalan sambil memeluk lengan bunda.
Saat di depan gang.
"Sandi, liet Apri ora?" tanya bunda pada Sandi yang lagi main gundu.
"Itu bundanya Apri, di warung lagi beli es." jawab Sandi.
Bunda dan Naya jalan lagi kebetulan warung tempat Apri jajan juga nanti di lewati sama bunda dan juga Naya.
"Tuh Apri, bun!" ucap Naya sambil menunjuk ke arah Apri yang lagi membayar jajanannya.
"Apri." panggil bunda.
Apri langsung melihat bunda yang sudah berdiri di belakangnya.
"Bunda mao mana?" tanya Apri.
"Ikut, yuk!" ajak bunda pada Apri sambil menggenggam tangan mungil Apri.
"Jalan-jalan, Pri." celetuk Naya.
Kini Naya, bunda dan juga Apri jalan bersama menuju gang jaman untuk naik angkot.
bersambung...
terima kasih sudah mampir untuk membaca karya receh author πππ
mohon ππ»ππ» dukung karya receh author π dengan cara β©οΈ
...like...
...komen...
...vote...
...βββββ...
...β...
...πΉ...
...β₯οΈ...
...πΈπΈπΈ salam manis πΈπΈπΈ...
__ADS_1