
πππ
Dengan rasa khawatirnya bunda berjalan lebih cepat ke rumah.
"Kamar, kosong.. masih nyuci nih bocah." gumam bunda saat melihat Naya tidak ada di kamar, tapi mendengar suara air di kamar mandi.
"Naya." panggil bunda saat sudah berdiri di depan pintu kamar mandi.
Naya yang merasa namanya di panggil pun menoleh ke arah suara, "Apa bun?" masih dengan menahan perih di mata dengan memejamkan mata kanannya yang terkena sabun.
"Heemmm, rupanya ini anak abis nangis, idungnya merah bener kaya tomat." batin bunda saat melihat wajah Naya.
"Mata kamu kenapa?" tanya bunda.
"Tadi kena sabun, bun."
"Itu baju udah semua kamu cuci?"
"Tinggal bilasin doang."
"Ya udah, kamu lanjutin lagi nyucinya.. dikit lagi juga rapih." ucap bunda.
"Eeeet ya, kirain mao bantuin kali mah." keluh Naya.
"Tar bunda yang jemur, bunda bantuin kan tuh?"
"He'eh aja dah."
Bunda pun meninggalkan Naya yang masih belum selesai dengan cuciannya.
"Anak gua patah hati, galau amat.. udah di kata jangan pacaran ama bocah, masih bae.. begini kan jadinya." gumam bunda sambil berjalan menuju kulkas.
Bunda membuka pintu kulkas, mencari bahan yang sekiranya bisa bunda buat jadi cemilan.
Ternyata di dalam kulkas ada ubi, gula pasir, dan santan. Bunda mengambil semua bahan yang di perlukan dan berjalan lagi ke dapur.
Bunda mengambil baskom untuk wadah ubi yang nantinya susah di kupas kulitnya, menaruh gula dan juga santan kemasan di atas kompor.
Sambil duduk di jengkok kayu bunda mengupas kulit ubi dengan pisau.
"Bunda, ngapain?" tanya Naya yang melihat bunda di dapur.
"Tidur." jawab bunda asal.
"Mana ada tidur di dapur? bunda mao buat apaan?" tanya Naya heran.
"Ya kamu aneh nanyanya, udah tau di dapur tuh masak, pake di tanya ngapain."
"Ah bunda mah."
"Kamu cepetan nyucinya, Nay."
"Emang mao ngapain lagi, bun"
"Bunda, mao ajak kamu."
"Kemana?" tanya Naya yang lagi membilas baju.
"Mao tau aja, udah cepetan nyucinya."
"Ini juga dikit lagi selesai." jawab Naya.
__ADS_1
"Bundaaaaa." suara teriakan Apri yang memanggil bunda.
"Apa entongnya bunda?" tanya bunda yang melihat Apri memasuki rumah.
Dapur yang langsung terlihat dari pintu utama pun langsung membuat Apri bisa dengan jelas melihat bunda yang sedang berada di dapur.
"Bunda buat apa?" tanya Apri yang langsung berjongkok di depan bunda, sambil matanya memperhatikan apa yang tengah bunda lakukan.
"Tebak, bunda mao buat apa?" bunda memancing Apri untuk menebak, apa yang akan di buat oleh bunda.
"Ubi goreng." tebak Apri.
"Salah... ayo tebak lagi."
"Kentang goreng ya, bun?" tebak Apri lagi.
"Masih salah... ayo tebak apa?"
Naya yang sudah selesai dengan cucian pun langsung membawanya ke luar rumah untuk segera di jemur.
"Udah selesai, Nay?" tanya bunda saat melihat Naya membawa keluar baju yang di cucinya dengan ember.
"Tinggal jemur doang, bun." jawab Naya sambil tetap berjalan membawa ember ke depan rumah.
"Ya udah, sekalian ya! kamu yang jemur." ucap bunda sambil memotong ubi menjadi potongan yang berukuran kecil, sekali caplok di mulut gitu.
"Laaah bisa gitu bun? katanya bunda yang mau jemurin, gimana si." keluh Naya yang langsung meletakkan ember di tanah.
"Udah tanggung, kamu aja yang jemur... kalo mao bantuin bunda, jangan setengah-setengah, langsung bae beresin... hihihi." bunda terkikik melihat Naya yang cemberut dari depan rumah dengan kedua tangan Naya yang berada di pinggang.
"Enak banget ya jadi bunda huh." sungut Naya dengan bibir yang sudah di buat monyong.
"Kalo bantuin bunda itu, jangan ngeluh... nanti pahalanya pindah jadi buat bunda looh Nay!" seru bunda yang makin memancing dongkol hati Naya.
"Ya bisa dong, bunda gitu." bunda mengambil panci dan mengisinya dengan air dari ember yang ada di dapur.
Setelah panci terisi air, bunda menaruh nya di atas kompor dan menyalakan apinya.
"Aku tau nih, bunda mao buat apa." ucap Naya yang kini sudah memegang gantungan baju.
Bunda masuk ke kamar mandi sambil mencuci ubi dengan air bersih lalu di tiriskan dengan menggunakan saringan.
"Apa, ka?" tanya Apri yang kini duduk di jengkok mengganti kan bunda.
"Kasih tau gak yaaaaa?" ledek Naya saat melihat wajah Apri yang sudah menatap ke arahnya dengan tampang serius, "Apri tebak aja sendiri... wahahahah." Naya langsung ngacir terbirit-birit ke luar dengan membawa serta gantungan baju.
"Naaaaaay nakal." omel Apri dengan teriakan dahsyat nya π€£π€£π€£π€£π€£.
"Apri, berisik ih.. pake teriak-teriak gitu." omel bunda saat ke luar dari kamar mandi dan melihat air sudah mendidih, lalu memasukkan ubi ke dalam air yang mendidih.
"Nay, nakal bunda."
"Tapi jangan teriak gitu..."
"Gendong." ucap Apri yang sudah merentangkan kedua tangannya ke depan bunda.
"Aiiih, si gantengnya bunda minta di gendong?" bunda langsung menggendong Apri dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya mengaduk ubi dalam panci yang berenang bebas di air mendidih dengan centong sayur biar matengnya rata.
"Itu apa, bun?" tanya Apri yang masih belum tahu bunda mau buat apa.
"Ini namanya kolek ubi, Apri... masa gini aja gak tau." jawab bunda.
__ADS_1
"Kolek? asiiiik, Apri mau ya bun!" seru Apri yang sudah membayangkan enaknya kolak buatan bunda.
"Tar ya, ini belum mateng." bunda menaruh centong sayur dalam mangkuk kosong.
Sambil menunggu ubinya empuk, bunda membawa Apri ke luar untuk duduk di lantai depan rumah sambil memperhatikan Naya pastinya.
"Belum selesai juga, Nay?" sambil berdiri melihat Naya yang lagi menjemur bajy.
"Dikit lagi... ngapa dah bun?"
"Apri mao bantuin, kaka." ucap Apri yang minta di turunkan dari gendongan bunda.
Bunda menurunkan Apri dari gendongannya, Apri langsung menghampiri Naya membantu sebisa Apri, sedangkan bunda memilih duduk di lantai.
Baju di embar sudah tidak ada ada, Naya langsung menenteng besi pada ember hendak membawanya ke kamar mandi.
"Apri maen ya bun?" Apri yang meminta izin untuk main lagi.
"Jangan lama-lama mainnya."
Apri menganggukkan kepalanya dan langsung main.
Bunda yang melihat Naya sudah sampai di kamar mandi langsung bicara dengan suara yang agak keras, "Naaaay, tolongin bunda yaaa, jangan lupa itu ubinya di cek, udah empuk apa belom."
"Tuh kan, ada bae.. ini baru beres, udah di suruh lagi." batin Naya yang lagi ngedumel.
"Iyaaa." jawab Naya yang langsung mengambil sendok sayur dan menyendok beberapa ubi ke dalam mangkuk lalu membekahnya dengan ujung sendok sayur.
"Udah empuk, bun." gantian, Naya yang berteriak pada bunda dari dapur.
Bunda langsung bangun dari duduknya dan berjalan ke dapur untuk menambahkan santan dan juga gula ke dalam panci, bunda juga menambahkan sejumput garam dan potongan daun pandan.
"Biar kenapa, bun? kok pake daon?" tanya Naya yang masih berdiri di samping bunda memperhatikan isi panci.
"Ini namanya daon pandan, biar wangi." bunda mengduk lagi isi panci agar tercampur rata dan santannya tidak pecah.
Di rasa sudah matang dan rasanya sudah mantep, bunda menuang kolek ke dalam 2 mangkuk yang sudah di siapkan sebelumnya sama bunda lalu di beri potongan daun pandan di atas ubi sebagai hiasan.
"Panggil nenek kamu gih, suruh ke sini!" perintah bunda.
Naya pun langsung menghampiri nenek Fatimah.
...πΉπΉπΉπΉπΉ...
bersambung...
terima kasih sudah mampir untuk membaca karya receh author ππ
mohon ππ»ππ» dukung karya receh author ππ dengan cara β©οΈ
...like...
...komen...
...vote...
...πΉ...
...β...
__ADS_1
...β₯οΈ...
...πΈπΈπΈ salam manis πΈπΈπΈ...