
...🥀🥀🥀...
"Kenapa, Nay?" Tanya Dava perhatian dengan tangannya menggenggam jemari ku.
Pake sok perhatian, pake banget lagi lu bang...tapi tetep aja buat gw nyesek lu bang, tapi buat apa juga gw ngedumel gak jelas gini? Kan gw bukan pacarnya bang Dava, dia mau ngapain ama cewek laen juga sebodoh amat ama gw.
"Ehem, maaf bang tangannya di kondisikan!" Seru ku dengan mata menatap tajam tangannya bang Dava yang sedang menggenggam tangan ku.
"Eh, emm maaf Nay...abang gak sengaja." Dava melerai genggamannya dari tangan ku.
"Kalo mau mesra mesraan gak di sini juga kali bang." Ujar ku ketus.
Dava langsung mengerutkan kening mendengar perkataan Naya. Maksud Naya apaan si? Siapa yang mesra mesraan?
Iri hanya menatap ku bingung mendengar perkataan ku barusan.
Aiiih ini mulut nyeplos gitu aja. Aku mengalihkan pandangan ku menatap Ani yang lagi mesem mesem melihat tingkah ku.
Kaka Nay jeles ini kayanya mah liet bang Dava ama kaka Ira, hahahaha...nyadar ora itu ka Nay lagi cemburu?
"Kenapa, Ni?" Tanya ku pada Ani.
"Gak apa apa, ko tiba tiba panas ya?" Ani mengibas ngibaskan tangannya lalu turun dari kasur, "Ani mao ke luar aja lah cari angin hehe." Ani pergi meninggalkan kamar.
Kini hanya ada aku, Ira dan bang Dava yang ada di dalam kamar.
"Kamu udah minum obat, Nay?" Tanya Dava.
"Gak pake obat obatan, bang."
"Emang gak di bawa ke dokter Nay sama bunda?" Tanya Dava lagi.
"Kaga, cuma di olesin obat merah doang ama minyak kelapa."
"Minyak kelapa buat apaan, Nay?"
"Buat yang lecet di punggung abang, biar gak perih, gak kaku."
"Emang punggung Naya kenapa?" Tanya Dava dengan wajah serius.
"Ya lecet." Ucap ku singkat.
Bunda dateng dengan membawakan 2 buah piring berisi kacang kulit, teko plastik dan beberapa gelas dengan menggunakan nampan.
"Niiiih, kita minum dulu." Ujar bunda saat berdiri di depan pintu kamar ku.
"Nah dari tadi kek pok, aus ini." Ujar Ira yang langsung mengambil gelas dan menungkan air dari teko lalu meminumnya.
__ADS_1
"Bocahnya pada kemana ini?" Tanya bunda saat melihat di kamar hanya ada kami bertiga.
"Ada di depan, pok." Ujar Dava, ini Ira ora peka amat si, bukannya ke luar kek malah di dalam bae.
"Ini, bang!" Ira menyodorkan gelas yang sudah ia isi dengan air dari teko untuk Dava.
Emm mau pamer kemesraan. Aku menatap tidak suka.
Dava mengambil gelas dari tangan Ira.
"Ini buat temen ngemilnya!" Bunda menaruh satu piring kacang di atas tempat tidur ku, "Pok bawa ke depan dulu ini ya! Biar yang laen juga ke bagian." Ujar bunda.
"Iya, pok." Ira yang menjawab dan Dava meminum air dari gelasnya.
Lalu Dava menawarkan minumannya pada ku, "Kamu mau, Nay?" Tanyanya.
Yang bener aja bang, minum dari gelas bekas tangan itu Ira, no way, "Gak, noh Ira tawarin...kali bae mao lagi." Gerutu ku yang masih di dengar Dava.
Dava menarik sudut bibirnya, apa iya Naya jeles ama Ira ya? Dari tadi jawabannya ketus gitu, tatapan Naya ke Ira juga gak bersahabat malah kaya orang ngajakin perang.
Aura dingin kembali terasa saat bunda meninggalkan kamar ku.
🌳 Di depan rumah suasananya malah ke balikannya. 🌳
"Yuhuuuu, minuman dateng." Oceh bunda.
"Asiik, ayo pok sini...kita udah aus ini!" Seru Anis.
"Eh bukan kali, gua juga aus ini " Ucap Soni.
"Wahahhaha, mang enak lu kena batunya." Ledek Anis saat Idir tidak mendapat dukungan dari Soni.
Soni, Anis dan Idir minum es teh manis buatan bunda dan mengemil kacang kulit di selingi obrolan dengan bunda dan ayah, sesekali Ani menjawab pertanyaan yang terlontar dari Anis dan Soni.
Ani yang duduk di samping ayah langsung berbisik, "Yah, ka Nay jeles tau liet bang Dava deket ama ka Ira." Ani mengadu.
Ayah menarik sudut bibirnya, "Kamu kata siapa, Ni?"
"Ih, orang Ani liet sendiri ko tadi mukanya ka Nay jelek banget waktu bang Dava dapet perhatian dari ka Ira."
"Oooh gitu."
"Oh doang yah?"
"Ani gak tanya sama ka Naya langsung?" Tanya ayah Adi.
"Tanya apaan, yah?"
__ADS_1
"Tanya kalo ka Naya itu cemburu apa gak, gitu loh." Terang ayah.
"Mana enak nanyanya, yah...ka Nay pasti jawabnya ngeles kaya bajay." Ujar Ani.
🌪️Kembali lagi ke dalam di mana ada Naya, Dava dan Ira.🌪️
"Laen kali kalo mau nyebrang, hati hati ya Nay!" Seru Dava.
"Hem."
"Kamu udah ngantuk ya, Nay?" Tanya Dava saat melihat ku menguap.
"Dikit." Aku hanya menjawab singkat, males banget pake banget ngeliet Dava sama Ira, apa lagi Ira kaya nyari perhatian gitu ama bang Dava.
"Ya udh yuk, bang...kita pulang...biar Naya bisa istirahat." Ujar Ira yang langsung berdiri dan menarik tangan kiri Dava agar ia beranjak dari duduknya.
Aku langsung cemberut melihatnya, tapi sayangnya aku tidak menyadari tingkah ku ini ternyata dapat di lihat oleh Dava.
Haduuuh Ira, mancing Naya marah bae, itu tampang Naya udah kaya cucian lecek. Tapi abang suka liet Naya kaya gini, karena itu membuktikan kalo Nay punya rasa sama abang Nay.
Jam sembilan malam rumah kembali sepi karena Dava, Ira, Soni, Anis dan Idir sudah pulang.
"Tidur, Ni udah malam." Ucao buna mengingatkan Ani untuk tidur.
"Baru juga jam 9 lewat, bun." Jawab Ani.
Naya mah udah tidur tidak lama tamunya pulang.
Dreet dreet dreet.
Hape Naya yang ada di atas lemari box bergetar tanda ada pesan masuk.
"Hape kaka getar itu, liet ah siapa si yang ngirim pesen." Ujar Ani.
Ani meraih hape kakanya Naya yang ada di atas lemari box dan membuka pesannya.
Ani meminta izin pada Naya untuk membuka pesan yang masuk di hapenya lalu menjawabnya sendiri, "Kaka, Ani izin mao liet pesen yang masuk di hape kaka ya? Boleh Ni!"
"Jangan lupa mimpiin abang ya, Nay... cepet sembuh." pesan dari nomor yang tidak di kenal.
"Kamu lagi apa honey? Udah tidur belom? Maaf ya, aku belom bisa jengukin kamu. Aku sayang kamu honey." Pesan dari Surya.
"Yang satu pesen dari nomor gak di kenal perhatian banget, yang satunya dari pacar, ka Naya kalo ketawan ka Surya pasti langsung di amuk, 🤭🤭🤭." Ani terkikik membayangkan kakanya Naya yang bertengkar dengan Surya karena pesan dari nomor yang tidak di kenal.
"Udah biasa." Gumam Ani lagi.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa jempolnya ya 🤭🤭
Komen mu merubah popularitas ku 😊