
Naya mengecek layar handphonenya, kali aja dapet pesan dari Surya.
Ternyata hanya kecewa yang di dapat.
"Mba, bil ya!" ucap customer yang duduk di meja nomor 3.
Naya pun masuk dan berdiri di belakang kasir untuk membuatkannya bil.
"Siapa yang minta bil, Nay?" tanya Ayu yang sedang berada di dapur.
"Meja nomor 3, Yu." jawab Naya.
"Biar Ayu aja sini yang anter." Ayu berdiri di belakang Naya dengan bersandar pada ciler.
Naya menyerahkan nampan bil yang sudah ada kertas bil di atasnya ke pada Ayu.
Ayu menghampiri customer meja nomor 3, "Ini ka, bil nya!" ucap Ayu sambil berdiri dan menaruh nampan bil di atas meja.
"Tunggu dulu ya, mbak." si kaka cantik mengambil uang dari dompetnya dan menaruh uang 2 lembar kertas berwarna merah di nampan bil dan menyerahkannya pada Ayu.
"Di tunggu kembalian nya ya, ka!" pamit Ayu yang langsung menghampiri Naya lewat depan kasir.
"Wiiiih kembali." Naya mengambil nampan bil yang kini berisi uang dan keetas bil, memasukkan dua lembar uang kertas berwarna merah ke dalam laci kasir dan mengambil uang kembalian dari dalam laci kasir.
"Kembaliannya nih, Yu." ucap Naya sembari menyodorkan lagi nampan bil dengan uang kembalian si kaka di meja nomor 3.
πΊπΊπΊ
Malam semakin larut, tanpa terasa jam menunjukakkan hampir jam setengah 11 kurang 10 menit.
Pak Aziz dan Angga sedang duduk bersantai di bangku pengasapan.
Sambil memainkan hapenya Naya berdiri di depan ciler.
"Ngapain lu, Nay?" tanya Ayu yang tengah duduk di meja 8 depan kasir.
"Pengen foto ah, pake kamera ini... kali aja hasilnya bagus." ujar Naya.
"Mao dong, ikut." Ayu langsung berjalan cepat menghampiri Naya yang tengah bergaya dengan hape di tangannya.
Ayu ikut berdiri di samping Naya, berpose seimut mungkin.
Jepret.
Suara bidikan dari kamera hape Naya.
"Coba Nay, lihat hasil jepretan kamu!" rengek Ayu yang minta melihat hasil dari selfi barusan.
Naya memperlihatkan nya pada Ayu.
"Aiiih lucu deh yang ini Nay, imut kan Ayu?" ucap Ayu saat melihat hasil fotonya.
"Heh, ngapain lu pada?" Tohir muncul di depan kasir mengagetkan Naya dan juga Ayu.
"Rese lu, kirain siapa?" ketus Ayu.
"Lagi selfi lu ya? ciyeee yang udah punya hape ada kameranya, sini Nay... gua yang fotoin." Tohir menawarkan diri untuk jadi fotografer dadakan buat Naya dan juga Ayu.
Naya pun tidak menolak tawaran dari Tohir.
"Tolong ya, yang cakep!" ujar Naya seraya menyerahkan hapenya pada Tohir.
"Beres deh, mao bayar berapa lu pada? fotografer profesional nih yang motoin." ucap Tohir yang membanggakan diri nya sendiri.
"Eeet mana ada fotografer profesional ngaku dewek? kerja di bebek lagi?" celetuk Ayu.
"Gua kerja di resto cuma sampingan, maklum gua lagi sepi job di fotografer." ledek Tohir.
"Eeet kebanyakan ngoceh luh pada, udah dapet belom Tohir, foto yang cakep?" ucap Naya.
__ADS_1
"Dari tadi luh pada ngoceh bae, udah ayo gaya dulu." ucap Tohir.
"Tiga, dua, satu." Tohir menghitung mundur sebelum membidik kamera.
Jepret.
Suara bidikan kamera dari hape Naya
"Busrak dah Nay, hape luh canggih amat ini ada suaranya?" ledek Tohir yang mendengar suara dari kamera hape Naya.
"Canggih apa unik, lu? ngeledek lu ya?" ucap Naya.
"Lagi lu Nay, kamera pake ada suaranya." ujar Ayu.
"Gua ora tau cara ngilangin suaranya." ucap Naya dengan polosnya.
"Eeet ya lu mah, otak atik bae itu pengaturan di kameranya." ucap Ayu.
"Udah ah biarin bae, tar rusak aja." ucap Naya.
"Ya kali cuma ngutak utik pengaturan bisa bikin rusak hape Nay?" ledek Tohir.
"Bodo... mending foto bertiga yuk!" ajak Naya dari pada memperdebatkan masalah suara yang di hasilkan dari bidikan kamera hape nya.
"Sini luh pada keluar, enak bae di situ... sempit tau!" ujar Tohir yang meminta Naya dan Ayu keluar dari ruangan kasir yang sempit.
"Gua liet hasilnya dong." pinta Ayu yang ingin melihat hasil jepretan Tohir yang mengaku fotografer profesional.
"Mao gaya gimanapun juga, gua imut." ucap Ayu saat melihat hasil jepretan Tohir.
"Lu mao ninju siapa, Nay?" tanya Ayu yang melihat Naya mengepalkan tangannya di foto.
"Itu tuh, semanget... tau kaga luh!" ujar Naya.
"Semangat di foto ama gua ya, Nay?" ledek Tohir.
"Tapi hasil fotonya cakep ko ini." ucap Ayu.
"Siapa dulu dong..." ucapan Tohir terputus karena di sela Naya.
"Kameranya." celetuk Naya.
"Ahahaha, iya... kamera lu Nay..keren... suaranya." balas Tohir meledek Naya.
Naya, Ayu dan Tohir akhirnya berdiri di dekat papan putih panjang untuk mengambil foto mereka bertiga.
"Aku aja yang pegang hapenya ya!" ucap Naya.
"Siapa bae dah." ucap Tohir.
"Nay itung ampe 3, gaya ya!" ujar Naya.
"Iya, bawel." jawab Ayu.
"Tiga, dua, satu." ucap Naya menghitung mundur sambil mengarahkan kamera ke arah mereka bertiga.
Jepret
Suara bidikan kamera dari hape Naya.
"Liet dong, fotonya!" seru Ayu yang tidak sabar melihat hasil foto mereka bertiga.
Naya memperlihatkan layarnya ke arah mereka bertiga.
"Kapan ya Ayu dapet seragam kaya kalian... Ayu doang yang masih pake kemeja putih." ujar Ayu saat melihat Naya dan Tohir memakai seragam hitam dalam foto.
Ayu memilih duduk di kursi yang ada di belakang papan putih panjang, Tohir duduk di meja 3 biar bisa sekalian melihat jika ada customer yang masuk ke resto.
__ADS_1
"Sabar Ay, dikit lagi lu juga pake seragam kaya kita." ujar Tohir.
Naya duduk di meja yang sama dengan Tohir berhadap-hadapan.
"Iya, Yu... sabar, dikit lagi bajunya jadi" ucap Naya menghibur Ayu.
"Kata siapa, Nay?" tanya Ayu yang menanggapinya serius.
"Iya kali bae bajunya lagi di jait, terus jaitannya belom jadi." ujar Naya.
"Bisa jadi sih." ujar Ayu.
"Hayooooo, kalian lagi pada diskusi apa nih?" pak Aziz nongol dari belakang mengagetkan Naya dan Ayu... Tohir mah udah tau kalo pak Aziz mao mengagetkan Naya dan juga Ayu.
"Lagi diskusi baju pak." ujar Tohir.
"Kenapa sama baju?" tanya pak Aziz yang ikut duduk di meja yang sama dengan Ayu.
"Ayu belom dapet seragam pak." ucap Naya.
"Sabar, selesein masa trening kamu dulu Yu!" ucap pak Aziz.
"Tapi lagi Naya, Tohir, Angga, Fifi, Novi, Eka itu langsung dapet baju pak? di hari pertama kerja malah." ujar Naya.
"Itu kan emang stok baju lagi ada, kalian juga karyawan pertama juga kan hitungannya, tapi tetap waktu itu masih trening." ucap pak Aziz menjelaskan pada Naya, Ayu dan Tohir.
"Kita ora priper pulang, pak?" tanya Tohir.
"Emang pada mao pulang?" tanya pak Aziz.
"Lah ya, mao pak!" ucap Naya.
"Ya udah, siap-siap... beresin tuh yang perlu di priper." ucap pak Aziz.
"Yeeee, pulang." ucap Naya yang langsung mendil nomor ayah.
"Ayah, jemput." ucap Naya saat sambungan teleponnya tersambung.
"Udah dari tadi Nay, nih ayah udah di pangkalan ojek ama bapaknya Ayu." ucap ayah.
"Oke deh, tunggu ya yah!" ucap Naya yang langsung mematikan sambungan teleponnya dan menaruh hapenya di saku baju.
"Yuuuu, bapak lu lagi ngobrol noh di pangkalan ojek ama ayah nya Nay." ujar Naya memberi tahu Ayu jika bapak nya sudah datang untuk menjemput nya.
"Oke, deh." jawab Ayu.
"Udah sono priper." ucap pak Aziz.
"Iya, pak." ucap Naya yang langsung mulai priper pulang.
...πΉπΉπΉπΉπΉπΉ...
bersambung...
terima kasih sudah mampir untuk membaca karya receh author ππ
mohon ππ»ππ» dukung karya receh author ππ dengan cara β©οΈ
...like...
...komen...
...vote...
...favorit'in novel ane...
...πΉ yang di nanti...
...β yang di tunggu...
...πΊπΊπΊsalam manisπΊπΊπΊ...
__ADS_1