
Siang hari di rumah Naya, Apri lagi asik main dengan temannya di halaman rumah nenek Fatimah yang luas, terlihat jelas Sandi temannya Apri sedang menggoes sepeda roda tiga yang sedang ia naiki, sedangkan Apri hanya berlari di belakang sambil mengejar Sandi yang menaiki sepeda.
Lelah mengejar Sandi, Apri pun berlari ke arah bunda yang sedang duduk di saung dengan tangan sibuk mencari uban yang tumbuh menghiasi rambut nenek Fatimah.
"Bundaaa." panggil Apri sambil menggelayut manja pada bunda.
Bunda menghentikan aktivitasnya dari mencari uban, dan kini perhatiannya fokus pada Apri.
"Apa Apri?" tanya bunda, dengan menatap lekat kedua mata Apri.
Lalu bunda mendudukkan badan Apri ke atas saung, tangan kanan bunda menyeka keringat yang ada di kening Apri.
"Apri mau itu." rengek Apri sambil jari telunjuk tangan kanannya menunjuk ke arah temannya yang sedang menggoes sepeda roda 3.
"Sabar ya Apri, nanti kalo ayah atau kaka Nay punya uang, baru di beliin. Sekarang Apri maen yang laen dulu ya?" kata bunda sambil memberi pengertian pada Apri.
"Apri maunya sekarang... bunda." sambil cemberut dan merengek Apri berucap dengan suara yang hampir menangis.
"Pinjem dulu ya sayang?" bujuk bunda.
Apri pun menganggukkan kepalanya.
Bunda bangkit dari duduknya, lalu menggendong tubuh kecil nan montok Apri, lalu berjalan menghampiri teman Apri yang lagi menaiki sepeda roda tiganya.
"Apri mau jalan, bun." pinta Apri pada bunda.
Bunda pun menurunkan Apri dari gendongannya. Lalu berjalan kembali untuk menghampiri teman Apri.
"Abang Sandi... ganteng deh." kata bunda, saat sudah berdiri di samping Sandi, teman sepermainan Apri.
"Apa bunda Apriiii? Kan Sandi emang ganteng... bunda Apri, baru tau yaaa?" kata Sandi dengan polosnya.
"Aiiih, bunda mah tau kalo Sandi ganteng. Lebih ganteng lagi, kalo Apri boleh pinjem sepeda abang Sandi. Boleh ya bang?" ujar bunda, mengeluarkan jurus rayuan maut biar Apri di pinjemin sepeda.
"Boleh, tapi bentaran ya Apri." kata Sandi.
Apri menganggukkan kepalanya dengan semangat.
Sandi turun dari sepeda roda tiga yang sedang ia duduki, lalu membiarkan Apri menaikinya.
Setelah Apri menaiki sepeda Sandi, dengan wajah senang lalu berkata...
"Abang.. abang.. dorongin Apri ya! pinta Apri pada Sandi.
"Boleh.." kata Sandi.
Lalu Sandi mendorong Apri yang sedang duduk di atas sepeda roda tiga. Hanya memutari halaman nenek Fatimah.
"Apri, nanti naikinnya gantian ya. Itu kan punya abang Sandi." kata bunda mengingatkan Apri kembali.
"Iya, bunda." jawab Apri.
Lalu bunda berjalan ke arah saung kembali dan meninggalkan Apri dan Sandi yang sedang bersepeda. Bunda mendudukkan dirinya kembali di saung dan mulai mencari uban lagi yang menghiasi kepala nenek Fatimah.
"Kemaren Dafa kesini ngapain Imah?" tanya nenek Fatimah membuka percakapan pada bunda Imah, orang tuanya Naya.
__ADS_1
"Ooooh itu. Ngambil cangkokan pohon mangga."
"Kirain mao ketemu Naya." ucap nenek Fatimah lirih.
"Dih si emak. Ngapain juga Dafa mao ketemu sama Naya?"
"Ya kali bae mau jadiin Naya bininya."
"Hus, mak. Ngomong apaan sih? Kalo ada yang denger pagimana coba?"
"Lah ya emang ngapa? Bocah udah pada gede ini juga." ucap nenek Fatimah dengan entengnya.
"Aya mah emak... gak mau yang namanya jodoh- jodohin anak. Biar Naya ama pilihan hatinya sendiri, jangan ampe kaya aya, di jodohin ama orang yang gak di cinta. Lagi juga, biar Naya ngerasain dulu yang namanya nyari duit, ngempanin orang tua selagi dia bisa. Entar mah kalo udah kawin, boro-boro bagi orang tua." ujar bunda panjang lebar, sambil mengingat kisah cintanya yang kandas sebelum di mulai.
"Orang nikah yang di butuhin bukan cinta, tapi duit Imah. Emang orang bisa hidup tanpa duit?" ucap nenek Fatimah dengan suara yang tinggi.
Ani yang baru pulang dari sekolah, menghampiri bunda yang lagi duduk di saung bersama dengan nenek Fatimah.
"Assalamualaikum, bun." kata Ani saat sudah berdiri di depan bunda.
"Kira-kira Ani denger gak ya, omongannya emak." batin bunda.
Lalu Ani meraih tangan kanan bunda dan mencium punggung tangan kanan bunda, lalu bergantian mencium punggung tangan kanan nenek Fatimah.
Waalaikum salam...
( Ucap bunda dan nenek Fatimah berbarengan)
"Jam segini baru pulang, Ni?" tanya bunda.
"Kamu gak naek angkot, Ni?" tanya bunda.
"Nunggu angkot mah lama, bun. Ani jalan aja, mumpung ada temen juga yang jalan kaki."
"Udah sana pulang, ganti baju terus makan." kata bunda,
"Iya..." jawab Ani singkat.
****
Naya yang lagi bersiap di kamar untuk berangkat kerja, sedang duduk di tepi kasur sambil memoles tipis wajahnya dengan bedak dan tidak lupa memoles lip gloss ke bibirnya yang berwarna pink.
Lalu memakai manset tangan yang berwarna hitam, setelah selesai mengenakan manset pada kedua tangannya. Lalu Naya memakai dalaman kerudung dan menggulung rambutnya yang panjang hingga menonjol.
Setelah selesai dengan dalaman kerudung, Naya meraih kerudung berwarna hitam yang sebelumnya sudah ia letakkan di atas kasur. Naya juga menggunakan peniti agar lebih terlihat rapi di bagian belakang kepalanya.
"Masya Allah, Nay." bunda kaget saat melihat Naya yang mengenakan kerudung.
Naya melihat bunda yang tengah berdiri di depan pintu.
"Kenapa, bun...? Jelek ya, bun?" tanya Naya.
Bunda berjalan menghampiri Naya dan ikut duduk di tepi kasur dekat Naya.
"Kamu cantik, Nay klo pake kerudung." puji bunda.
__ADS_1
"Ah bunda. Naya jadi malu nih."
"Gak salah bos kamu nyuruh pake kerudung, Nay. Kenapa gak dari awal-awal aja ya Nay?"
"Baru dapet ilham kali, bun."
Naya meraih tasnya yang ada di tengah kasur dan mengenakan tas selempangnya yang berwarna coklat. Lalu menaruh lip gloss, handphone dan pembalut untuk berjaga-jaga jika datang bulan melanda.
"Naya berangkat, bun." sambil mencium punggung tangan kanan bunda.
"Hati-hati ya, Nay."
"Iya, bunda." Naya.
Naya berjalan keluar kamar di ikuti bunda yang berdiri di depan kamar. Lalu Naya mengambil sepatu yang di letakkan di dapur.
Lalu Naya menenteng sepatunya ke luar dan duduk di teras rumah. Lalu memakai kaos kaki dan setelah itu Naya mengenakan sepatu.
"Buuuun, Naya berangkat." sambil berteriak tanpa melihat ke arah dalam rumah, Naya berucap.
"Gak usah teriak-teriak, Nay." kata bunda yang sudah berdiri di belakang Naya.
Naya menoleh ke belakang dan melihat bunda tengah berdiri sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Hehehe, bunda dari kapan berdiri di belakang Naya?" ujar Naya, lalu berdiri dan mencium punggung tangan kanannya bunda lagi.
"Dari kamu duduk terus pake kaos kaki, pake sepatu. Baru dua kali Nay, kamu salim sama bunda." nyerocos bunda.
"Ko Naya gak tau ya... bunda di belakang Naya?"
"Udah gak usah banyak mikir, nanti kamu telat ajah. Kamu hati-hati di jalan." ucap bunda.
"Iya, Naya jalan ya bun."
Naya jalan menyusuri kompleks cikini, berjalan di pinggir jalan. Saat itu jalan tengah sepi, terlihat di perempatan ada beberapa tukang ojek.
Saat mendekati perempatan cikini, Naya iseng ingin berjalan di atas terotoar dan....
bersambung
terima kasih sudah mampir untuk membaca karya receh author đđđ
mohon đđģđđģ dukung karya receh author đđ dengan cara âŠī¸
\=\=\=\=> đ like
\=\=\=\=> âī¸ komen
\=\=\=\=> âââââ
\=\=\=\=> vote
\=\=\=\=> đ đš. bonus buat author đ ke
\=\=\=\=> âĨī¸ favorit biar gak ketinggalan cerita'nya đ
__ADS_1